Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 29


__ADS_3

Alika terpaku di tempatnya saat melihat beberapa alat medis kini menempel sempurna di tubuh kakek Wirasena. Ia tak menyangka bahwa perkataan nya yang menolak kembali pada Edgar akan berakhir seperti ini.


"Maaf aku sungguh tidak berniat untuk membuatmu seperti ini, tapi aku hanya melindungi hatiku agar tidak terluka." Gumam Alika lirih.


Kini ia pun berjalan menghampiri sang kakek yang menatapnya dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.


"Kek apa anda baik-baik saja?" Tanya Alika dengan lembut.


Sang kakek hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban.


"Syukurlah," Alika bernafas lega setelah mendapatkan jawaban sang kakek.


"Nak, apakah kau mau menuruti satu permintaan pria tua ini, anggap saja ini permintaan pertama dan terakhirku." Ucap kakek Wirasena membuat Alika sedikit terkejut karenanya.


Deghh...


Alika merasa takut saat mendengar permintaan sang kakek yang seperti bom waktu baginya.


"A.. apa maksud kakek?" Tanya Alika gugup.


"Menikah kembali dengan Edgar, kakek hanya ingin melihat itu."


Duarrr....


Alika terbelalak kaget saat mendengar permintaan sang kakek yang tidak mungkin ia lakukan. Kini pandangan Alika beralih pada Edgar yang juga menatapnya dengan tatapan penuh harap.


"Nak Alika biarkan cucuku kembali dan memperbaiki semua kesalahannya dimasa lalu ini semua demi kebaikan masa depan anak-anak kalian. Anggap saja ini sebuah perintah dari orang yang sedang sekarat." Ucap kakek Wirasena.


"Tapi aku,"


"Pikirkan kembali nak, jangan terburu-buru untuk menjawabnya." Tukas kakek Wirasena dengan nafas terengah-engah.


"Kakek semuanya akan baik-baik saja." Edgar menggengam erat tangan sang kakek orang tua satu-satunya yang tersisa dalam keluarga Anggasta.


"Jangan katakan apapun tentang kematian dan perpisahan karena itu akan mengingatkan ku pada kejadian malam itu." Ucap Edgar yang kini menangis terisak di samping sang kakek.


Alika yang melihat Edgar menangis pun merasa sangat terharu karena ini adalah pertama kalinya ia melihat sisi lemah seorang Edgar Anggasta.

__ADS_1


"Apakah aku harus menerima takdir ini jika aku harus kembali pada Edgar. Entah karena permintaan kakek Wirasena atau demi anak-anakku aku sungguh sangat bingung dan takut menghadapi kenyataan ini." Alika kembali mengingat kemarahan dan kekecewaan twins R padanya.


"Jangan mengingatkan karena itu bukan salahmu." Jawab sang kakek membuat Alika kini mengerutkan keningnya saat mendengar percakapan di antara mereka berdua.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada kedua orang tuanya mengapa kakek Wirasena seakan menutupi sesuatu." Alika terus bergumam bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kakek.." Panggil kedua bocah kembar menggemaskan secara bersamaan membuat semua yang ada di ruangan itu menatap mereka.


Rain dan Raina sedikit berlari menghampiri orang tuanya dengan mata yang terus tertuju pada kakek yang kini berbaring di brankar pasien.


"Kakek apa kau baik-baik saja?" Tanya Raina yang melewati sang bunda begitu saja, begitu pun dengan Rain yang mengikuti langkah sang adik.


"Kakek sudah merasa lebih baik saat melihat kalian datang." Jawab kakek Wirasena yang mengusap pucuk kepala Raina dengan lembut.


"Anak-anak dimana aunty Sabrina?" Tanya Alika pada twins R, namun keduanya terlihat acuh dan tak mempedulikan pertanyaan sang bunda.


"Kakek cepatlah sembuh dan bermain bersama kami." Ucap Raina kembali sedangkan Rain masih berdiri tanpa bertanya sepatah katapun.


Kedua bocah kecil itu kini berdiri di samping Edgar dan menatapnya dengan seksama. "Apa kau benar ayahku?" Tanya Rain setelah sekian lama terdiam.


"Wahh benarkah...!!" Seru Raina dengan hebohnya.


"Iya girls, maafkan ayah sayang ayah tidak pernah tahu tentang kalian." Ucap Edgar dengan wajah sendunya.


"Ayah gendong aku! aku ingin sekali merasakan bagai mana rasanya di gendong ayah." Raina mengulurkan tangannya pada Edgar.


"Aku juga!" Rain tidak mau kalah dengan sang adik ikut mengulurkan tangannya pada Edgar.


Kedua bocah kembar itu mulai berebut ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah dalam hidup mereka.


"Baiklah ayah akan menggendong kalian berdua seperti ini." Edgar mengangkat kedua anaknya membuat Rain dan Raina tertawa bahagia.


Alika menatap haru ke arah putra-putrinya yang kini terlihat sangat begitu bahagia berada dalam gendongan Edgar. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena sudah menjauhkan dan menyembunyikan keberadaan mereka dari ayah kandungnya.


Namun Alika juga merasa cemburu karena ini baru pertama kalinya twins R mengacuhkannya dan tak mempedulikan keberadaannya.


"Ayah sejak lama aku ingin sekali merasakan hal ini seperti teman-teman. Apa ayah tahu mereka selalu mengejek kami jika kami tidak punya ayah dan mengatakan jika kami anak ilegal." Ucap Raina dengan wajah sendunya.

__ADS_1


"Iya ayah, lalu apa itu anak ilegal?" Sambung Rain yang kini menatap penuh tanya ke arah sang ayah.


Edgar tak langsung menjawab pertanyaan putra-putrinya kini ia berbalik menatap Alika yang berdiri tak jauh darinya.


Edgar tersenyum dan mencubit gemas pipi putrinya. "Kalian berdua bukan anak ilegal, tapi kalian adalah anak-anak terbaik ayah dan bunda." Jawab Edgar yang membuat kedua anaknya tersenyum senang.


"Raina sayang ayah." Raina mengecup pipi kiri Edgar.


"Rain juga sayang ayah." Rain mengecup pipi kiri Edgar hal yang biasa mereka lakukan pada Alika saat mereka merasa senang dan puas dengan jawaban dari pertanyaan mereka.


Alika merasa sangat iri melihat pemandangan di hadapannya. Kakek Wirasena yang melihat hal itu pun tersenyum samar dan mulai menanyakan kembali atas permintaan nya pada Alika.


"Pikirkan hal ini baik-baik dan jawab dengan penuh pertimbangan jangan sampai kau menyesal di kemudian hari." Ucap sang kakek lirih namun masih dapat di dengar jelas oleh Alika.


"Bagaimana mungkin, apakah benar aku harus kembali padanya? bagaimana jika tidak, apakah kedua anakku akan semakin marah dan membenciku karena telah menjauhkan mereka dari ayahnya. Alika! ayo berpikirlah..!" Alika terus bermonolog dalam hatinya.


Alika mulai memikirkan kembali ucapan kakek Wirasena yang masih setia menunggu jawabannya. Namun Alika masih merasa ragu dan tidak yakin untuk kembali pada Edgar.


Rasa takut akan terluka seperti kisah cinta masa lalunya membuat Alika terus memikirkan ulang untuk kembali pada Edgar.


Namun setelah mendengar cerita kedua anaknya membuat Alika harus memutuskan untuk kembali dan menikah untuk kedua kalinya bersama orang sama.


"Aku bersedia menikah kembali dengannya." Ucap Alika lirih dan penuh keraguan membuat kakek Wirasena, Edgar dan twins R kini menatap ke arah Alika.


"Tadi kamu mengatakan apa? maaf aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas iya kan anak-anak." Ucap Edgar meminta pembelaan pada kedua anaknya menahan rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya.


Rain dan Raina hanya menggangukan kepalanya mengiyakan ucapan Edgar, sedangkan kakek. Wirasena bernafas lega saat mendengar jawaban Alika yang bersedia menikah kembali dengan cucunya.


"Akhirnya, mulai saat ini aku tidak akan pernah merasa kesepian lagi." Gumam kakek Wirasena yang kini tersenyum menatap wajah Alika yang terlihat sangat kesal dan malu.


"Kenapa kau diam saja?" Tanya Edgar kembali.


Alika mendengus kesal menatap Edgar dengan tatapan penuh selidik. "Apa kau yakin tidak mendengarku?!"


"Tidak. Tunggu! aku akan segera kembali." Ucap Edgar yang kini mulai menurunkan kedua anaknya dan keluar dari ruangan itu dengan sedikit terburu-buru.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2