
Alika mengerjapkan matanya perlahan dan menatap sekelilingnya. Tak ada siapapun di sana namun sudah ada beberapa makanan yang tersedia di meja.
Perlahan Alika pun turun dari ranjang dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan asing itu. Kini Alika pun kembali ke mansion Anggasta dengan wajah pucat dan berjalan sedikit sempoyongan menahan pusing kepalanya.
Setibanya di mansion Anggasta Alika merasa sedikit kebingungan saat para pelayan menatapnya aneh tak seperti biasanya. Namun Alika tak ambil pusing dengan hal itu kini ia pun berpikir untuk kembali ke kamar yang biasa ia tempati, namun kini seorang penjaga dengan cepat mencegahnya masuk dan memberikan lembaran kertas pada Alika .
Alika menerima lembaran kertas itu dan tersenyum tipis setelah membaca isi lembaran kertas itu.
"Aku akui skenario yang kamu buat sangat begitu mengagumkan." Gumam Alika yang kini menatap nanar surat perceraian yang di berikan sang penjaga.
"Aku ingin bertemu dengan tuan kalian dimana dia?" Tanya Alika dengan wajah menahan kesedihannya.
"Tuan muda tidak ada di sini beliau pergi ke luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis dan tidak bisa di ganggu. Silakan anda tanda tangan disini dan semuanya selesai." Jawab sang penjaga dengan wajah dingin dan datar tanpa ekspresi.
"Owhh... Jadi dia bersembunyi dari semua ini, baiklah dimana asisten David aku ingin bertemu dengannya juga." Ucap Alika yang langsung di Sahut oleh sang pemilik nama.
"Saya disini ada apa anda mencari saya? dan bagai mana apakah anda sudah menandatangani surat perceraian itu karena tuan muda tidak mau memperpanjang atau memiliki hubungan lagi dengan anda." Ucap David tanpa memikirkan perasaan Alika saat ini.
Kesedihan yang terpancar di wajah Alika tak membuat David iba, ia yakin bahwa Alika merasa sedih karena keputusan Edgar yang begitu terburu-buru melepas hubungan mereka sebelum mendapatkan sesuatu yang Alika harapkan.
"Apa masalahnya? selama ini aku setia padanya bukankah kontrak pernikahan itu masih belum genap tiga bulan?" Tanya Alika yang kini menatap David dengan tatapan penuh kesedihan.
"Kenapa anda tidak bertanya pada diri anda sendiri?" Jawab David singkat.
"Apa maksudmu, bukankah semalam kau yang membawaku ke pesta itu?" Alika berpura-pura tak menyadari semua yang telah terjadi pada dirinya.
"Semalam? mungkin yang anda maksud adalah malam dua hari yang lalu. Lihat ini." David memberikan beberapa fotonya bersama seorang pria tengah tidur bersama membuat hati Alika semakin hancur tak menyangka bahwa Edgar benar-benar melakukan hal sekejam itu padanya.
Alika tersenyum mengusap air matanya yang mulai membasahi pipinya. "Aku tidak menyangka kalian akan melakukan hal kotor ini padaku. Baiklah kalau begitu aku akan menandatangani surat perceraian ini tapi setelah Edgar kembali dari perjalanan bisnis nya." Ucap Alika yang kini meninggalkan David yang masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
"Tapi nona!"
"Aku tidak akan pernah menandatangani surat perceraian itu sebelum dia kembali dan menemuiku." Ucap Alika yang langsung memotong perkataan David.
"Aishhh... Berani sekali dia apa dia ingin menantang keputusan tuan muda?" Gumam David yang kini meninggalkan mansion untuk memberikan informasi penting itu pada Edgar.
***
Di kamar lain. Alika tengah menatap barang-barang mewah nan mahal yang di berikan Arga padanya selama menjadi kekasihnya.
Alika tidak pernah sedikit pun menyentuh atau memakai semua barang yang di berikan Arga karena ia berpikir akan memakai semua itu saat dirinya sudah sah menjadi istri Arga.
Namun takdir berkata lain, cintanya harus pupus di tengah jalan karena kesalah pahaman kakak dari kekasihnya dan menyangka jika Alika hanya memanfaatkan cinta demi mendapatkan semua itu.
"Arga semua barang sudah kau berikan padaku akan aku kembalikan padamu, maaf aku tidak bisa memakai semua ini karena aku tidak pantas. Perjalanan cinta kita memang indah namun nyatanya kita tak bisa bersama seperti yang kita harapkan dan Edgar kakak mu sudah mengalahkan semuanya, dia sudah berhasil membuat aku merasakan cinta yang singkat dan rasa sakit yang sangat begitu dalam."
Alika kembali mengusap air matanya dan menuliskan dua surat yang berbeda untuk kedua kakak beradik yang sudah membuat ia mengerti dengan arti kehidupan percintaan yang sesungguhnya. Alika mengerti bahwa kesetiaan dan ketulusan saja tidak akan membuat hidupnya merasakan kedamaian terlebih saat ia tak memiliki apapun.
Kini ia pun mengambil kartu hitam yang pernah di berikan David padanya, bersama dengan satu tas berisi uang yang sudah ia ambil untuk mengelabui Edgar bahwa ia sudah memakai kartu itu untuk berbelanja barang mewah.
Setelah semuanya selesai kini pandangannya pun tertuju pada selembar kertas perceraian yang belum ia tanda tangani.
"Hubungan palsu ini akan berakhir dan aku harap kesalah pahaman pun berakhir. Aku tidak ingin masalah ini terus berlangsung dan mengganggu masa depanku nanti."
Alika menghela nafasnya secara perlahan dan ia pun menandatangani surat perceraian itu lalu pergi membawa kopernya meninggalkan mansion.
***
Setelah mendengar ucapan sang asisten kini Edgar pun kembali ke mansion untuk menemui Alika.
__ADS_1
"Alika..!! Alika...!! dimana kamu?" Edgar berteriak memanggil Alika dengan wajah kesal menahan emosi.
Pak Min yang mendengar suara Edgar pun berlari tergopoh-gopoh menghampiri Edgar.
"Tuan muda,"
"Pak Min dimana Alika?!"
"Nona sudah pergi ia hanya berpesan agar tuan muda bersama dengan tuan muda Arga untuk masuk ke dalam kamar tamu." Ucap Pak Min yang terlihat sangat begitu khawatir dengan apa yang sudah di lakukan Alika akan memancing kemarahan Edgar.
"Pergi kemana dia? lalu apa yang ada di kamar itu mengapa aku dan arga harus masuk kesana?" Tanya Edgar kembali.
"Saya tidak tahu tuan muda, hanya itu pesan nona Alika sebelum ia pergi." Jawab pak Min.
"Kalau begiti cepat panggilkan Arga." Titahnya yang langsung menghampiri kamar tersebut.
Edgar membuka pintu kamar yang terlihat sangat gelap itu dan mulai mencari saklar untuk menghidupkan lampu.
Setelah ruangan itu di isi dengan cahaya kini Edgar pun mengerutkan keningnya melihat barang-barang yang tersusun rapih hampir memenuhi kamar itu.
"Apa semua ini?" Tanya Edgar pada David yang berdiri di sampingnya.
"Entahlah," Jawab David singkat.
"Periksa semuanya aku yakin wanita licik itu sedang mempermainkan ku untuk agar perceraian ini tidak terjadi."
Sesuai yang di perintahkan oleh Edgar kini David pun mememeriksa semua barang-barang yang ada di ruangan itu dan menemukan kartu hitam dan satu tas berisi uang tunai, dan sepucuk surat di atas berkas perceraian yang sudah di tanda tangani oleh Alika.
Dengan cepat David pun memberikan surat itu pada Edgar. Kini wajah Edgar berubah pucat setelah membaca surat tersebut dan tubuhnya pun ambruk seketika membuat David merasa sangat kebingungan.
__ADS_1
Bersambung..