Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 19


__ADS_3

Edgar semakin mendekat membuat Alika semakin gugup dan memundurkan langkahnya, Alika tak menyadari jika ia sudah menginjak gaunnya dan membuat nya hampir terjatuh.


Namun Edgar dengan cepat menarik pinggang ramping Alika dan membawanya ke dalam pelukannya, membuat detak jantung mereka memompa dengan cepat.


Kini pandangan mereka pun saling terkunci dan semua wartawan pun mulai berebut untuk mengambil gambar mereka dan menjadikannya topik terhangat.


"Bunda! apa bunda baik-baik saja?" Tanya Rain dan Raina yang kini berlari menghampiri sang bunda.


"Iya bunda baik-baik saja nak, ayo kita pulang sekarang." Alika menggiring kedua anaknya untuk pergi meninggalkan panggung namun kini Edgar memanggilnya kembali membuat langkah Alika terhenti seketika.


"Nona Al,"


"Apakah Edgar mengenaliku?" Tanya Alika dalam hati ia merasa sangat gugup dan takut jika ia tahu asal-usul anak kembarnya.


"Nona Al." Panggil Edgar kembali dengan sedikit menekan kata-katanya karena ia tak cukup sabar untuk terus berdiri saat semua kamera menyorotnya dan mulai membandingkan antara dirinya dan bocah laki-laki yang berdiri tak jauh darinya.


"Nona Al cepat ambil ini." Edgar memberikan sebuah piala penghargaan di tangan Alika aa dengan sedikit kasar dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.


Alika menggengam piala itu dan menatap punggung Edgar yang semakin menjauh darinya. Perlahan air mata Alika pun lolos membasahi pipinya yang tertutup masker.


"Sesakit inikah cinta? aku tidak pernah menyangka akan mencintaimu sedalam ini namun bukan hanya cinta tapi kebencianku padamu juga tak kalah besarnya Edgar Anggasta." Alika mengepal erat tangannya dan pergi meninggalkan tempat itu bersamaan dengan putra putrinya.


***


"Tuan muda berita tentang bocah kembar itu anakmu kini sudah tersebar luas apa yang anda lakukan setelah ini?" Tanya David yang kini menatap Edgar yang tengah memijat pelipisnya.


"Cari tahu siapa mereka karena aku pun merasa tidak asing dengan desainer itu dan aku merasa ada yang aneh dengan gelagatnya."


"Baik tuan." David pun bersiap untuk melakukan tugas dari big bosnya.


"Tunggu Vid, bagai mana dengan kontrak pekerjaan itu apakah dia mau menyetujuinya?"

__ADS_1


"Dia menolaknya tuan muda dengan alasan mereka tidak bisa menerima kontrak apapun karena jadwal nona Al sudah sangat padat."


"Hmm baiklah kau boleh pergi." Ucap Edgar yang kini mulai merebahkan tubuhnya yang lelah.


"Al, Alika! tunggu! apakah Al adalah Alika dan anak kembar itu memang anakku apakah Alika menyembunyikan kehamilan nya dariku dan mencoba bersembunyi dariku." Dengan sigap kini rasa lelah Edgar pun tiba-tiba menghilang begitu saja.


Kini ia pun mencoba menghubungi asisten pribadinya dan meninggalkan hotel untuk mencari tahu sendiri apa yang sudah terjadi selama enam tahun ini.


"Kau berhutang penjelasan padaku Alika!" Gumam Edgar kini mulai melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


***


Di tempat lain. Alika tengah merasa kebingungan dengan berita miring tentangnya dan Edgar mulai beredar di jagat maya. Karena hal ini membuat bisnisnya pun kini sedang di pertaruhkan.


Alika merasa sangat bingung dan cemas karena hal itu, ia tidak ingin kembali pada kehidupan masa lalunya dan membuat putra-putrinya merasakan dampak negatif dari hal ini.


"Maria apakah semuanya akan baik-baik saja? bagai mana jika Rain dan Raina tahu tentang hal ini? aku yakin mereka akan sangat sedih dan terluka." Alika terus mondar mandir merasa kebingungan dengan berita yang menjadi tendang topik malam ini.


"Bagai mana aku bisa tenang Maria, dia datang kembali dan membuat semuanya kacau sepeti ini." Alika tak bisa mengontrol emosinya dan sedikit menaikan intronasi suaranya.


Maria hanya menghela nafasnya perlahan dan terus mencoba menenangkan kemarahan dan kegelisahan Alika saat ini.


Sedangkan Rain yang berdiri di ambang pintu menatap sang bunda dengan tatapan penuh selidik. "Sebenarnya apa hubungan bunda dengan pria itu apakah mereka punya hubungan spesial di masa lalu?"


"Kak sedang apa kau disini?" Tanya Raina mengejutkan Rain.


"Sttt..." Rain dengan cepat membungkam mulut adiknya dan membawanya ke kamar untuk segera berdiskusi.


"Kak apa yang kau lakukan?" Raina menipis tangan sang kakak yang menutupi mulutnya.


"Diam jangan banyak protes sekarang kau duduk dengan tenang dan lihat caraku bekerja, mungkin saja ini ada kaitannya dengan ayah kita."

__ADS_1


Mendengar nama ayah membuat mata Raina kini berbinar ceria dan duduk di samping sang kakak yang kini tengah memainkan jarinya di atas komputer miliknya.


"Kak apakah sebenarnya kita masih memiliki ayah seperti teman-teman?" Tanya Raina dengan wajah penuh harap.


"Entahlah kakak juga tidak tahu tapi masalah yang terjadi hari ini membuat kakak yakin bahwa bunda sedang menyembunyikan sesuatu dari kita." Jawab Rain tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer.


"Edgar Anggasta, ternyata dia seorang CEO perusahaan yang terkenal di kota X. Dia sudah menikah tapi tidak di ketahui siapa istrinya? Berita macam apa ini?" Rain mendengus kesal dab bocah berusia enam tahun itu pun terus mengotak-atik komputer nya dengan sangat lihat bagaikan seorang profesional.


Kini ia pun menemukan orang yang hampir mirip dengan Edgar yang tak lain adalah putra kedua keluarga Anggasta.


"Arga Anggasta." Klik Rain melihat profil tuan muda kedua keluarga Anggasta yang tak lain adalah mantan kekasih sang bunda di masa lalu.


Kini mata kedua bocah kembar itu pun terbuka lebar saat melihat beberapa foto sang bunda dengan tuan muda kedua keluarga Anggasta terlihat sangat begitu dekat dan mesra.


"Ayah! jadi kita punya ayah." Seru Raina kegirangan bahkan ia pun terus melompat ke kanan dan kekiri meluapkan kebahagiaan dalam hatinya.


Sedangkan Rain menepuk keningnya saat melihat tingkah konyol dan kekanakan adiknya, dengan cepat ia pun menutup mulut adiknya agar tidak berisik dan menimbulkan keributan di malam hari.


"Adik dengarkan kakak, kau harus menjaga rahasia ini untuk sementara waktu karena kakak akan terus berusaha untuk mencari tahu kebenaran lainnya apakah dia ayah kita atau bukan." Rain memperingatkan adiknya.


"Baiklah kak aku akan menutup mulutku seperti ini." Raina menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


"Bagus! anak pintar. Sekarang tidurlah besok kita akan pikirkan cara untuk menemui tuan muda kedua keluarga Anggasta." Ucap Rain yang mengacak rambut adiknya.


"Baiklah kak." Dengan patuh Raina pun menuruti perintah sang kakak dan mulai menyelimuti tubuhnya bersiap untuk tidur.


Sedangkan Rain masih menatap foto kedua kakak beradik keluarga Anggasta dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku merasa ayahku adakah tuan muda pertama tapi mengapa bukti menunjukkan pada tuan muda kedua." Gumam Rain yang kini mematikan komputernya saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2