Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 46


__ADS_3

Alika menangis di pelukan sahabatnya meluapkan segala kesedihan yang ada di dalam hatinya saat ini.


"Tenanglah. Tenangkan dirimu Al, semuanya sudah berlalu, maaf bukan maksudku untuk membela pria itu tapi sebaiknya kalian segera berbicara meluruskan hal ini. Tanyakan apa saja yang sebenernya telah terjadi." Ucap Sabrina yang mulai memberikan pendapatnya.


"Tapi Sabrina aku,"


"Aku akan selalu berada di belakangmu Al, percayalah jika kamu tidak sendiri masih ada aku disini yang akan membantu dan mendukung mu." Sabrina mengusap punggung sahabatnya secara teratur untuk menenangkan kesedihan sahabatnya.


"Lalu aku harus bagaimana? apakah aku harus diam saja setelah tahu semua ini?"


"Tidak Al, masalah ini sangat begitu sensitif dan aku tidak bisa terlalu jauh membantumu sebelum semuanya terungkap dengan jelas. Masalah ini masih menjadi sebuah teka-teki yang belum memiliki jawaban yang pasti dan jika kau ingin tahu jawaban itu, maka jalan satu-satunya kau harus menanyakannya langsung pada sang pembuat onar itu." Ucap Sabrina panjang lebar.


"Bagaimana mungkin aku menanyakan hal ini padanya di saat aku sendiri tidak ingin menemuinya untuk saat ini. Lagi pula sepertinya dia masih sangat sibuk dengan wanita itu." Alika merasa sangat kesal dan mulai menghentakan kakinya meluapkan kemarahan nya.


Sabrina menghena nafasnya perlahan. Ia merasa bingung harus mengatakan apa lagi pada sahabatnya. "Dia yang meminta solusi tapi dia juga menolak saran dariku. Ckkk... Begitulah cinta yang terkadang membuat orang menjadi bodoh dan linglung." Batin Sabrina bergumam sedikit mengumpat sahabatnya.


"Bunda...?" Panggil Raina yang membuka pintu kamar Sabrina dengan wajah lelahnya


"Bunda apakah kita akan menginap disini malam ini?" Tanya Raina kembali.


"Iya nak, besok kita pulang ke rumah kita yang dulu ya." Ucap Alika yang membuat rasa kantuk Raina menghilang seketika di gantikan dengan wajah penuh tanya.


"Kenapa begitu?"


"Karena bunda masih banyak pekerjaan disana sayang, sekarang tidurlah ini sudah parut." Pinta Alika yang kini mengusap rambut putrinya yang terurai panjang.


"Bunda apakah kita akan pergi bersama ayah juga?" Tanya Raina kembali membuat Alika langsung terdiam tak tahu harus menjawab apa.


"Ya tuhan apa yang harus aku katakan pada gadis kecil ini." Alika terlihat sangat begitu kebingungan dan melirik ke arah sahabatnya untuk meminta bantuan.

__ADS_1


"Tidak! jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mau lagi terlibat dengan gadis kecil itu." Tolak Sabrina dengan cepat.


Alika menatap wajah sahabatnya penuh permohonan. Namun Sabrina tetap tidak menghiraukannya sahabatnya dan memilih untuk tidur menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Ckk... Dasar kawan lucknut!" Ucap Alika mengumpat sahabatnya.


Sedangkan Sabrina yang berada di balik selimut hanya terkikik geli saat mendengar umpatan sahabatnya.


"Terserah kau saja akan mengatakan apapun tentangku, karena aku tidak ingin terlibat dengan kedua bocah kecil yang selalu ingin tahu segalanya dan berujung membuat aku terpojok dan kalah karena wajah menggemaskan mereka." Batin Sabrina bergumam.


Alika memanyunkan bibirnya menatap sahabatnya yang sudah tertutup selimut, kini tatapannya pun tertuju pada putri kecilnya yang masih setia menunggu jawaban darinya.


"Bunda akan pikirkan nanti, sekarang kau tidurlah ini sudah malam ayo." Alika menggiring putrinya kembali ke kamar tamu.


***


Di mansion Anggasta. Kedua cucu kakek Wirasena kini tengah berdiri menatapnya dengan wajah penuh tanya.


"Kakek!" Edgar menatap sang kakek dengan tatapan tajamnya, ia merasa sangat kesal karena sejak tadi kakek Wirasena bersikap acuh tak acuh padanya dan menghiraukan pertanyaannya.


"Kenapa kakek diam saja tidak menjawab pertanyaan pria itu, apakah kakek tidak melihatnya dia terus saja menyalahkan aku dalam setiap hal. Ku akui aku masih mencintai Alika sampai saat ini, tapi kau harus tahu aku tidak akan pernah memakai cara kotor untuk mendapatkan nya kembali."


Ucapan yang terlontar dari mulut Arga membuat Edgar semakin murka padanya. Edgar sungguh tidak suka jika adiknya terus berbicarakan masa lalunya untuk mendapatkan Alika, bahkan Arga terkesan mengancamnya untuk merebut Alika darinya.


"Kau terus saja berbicara omong kosong Arga sudah cukup kesabaranku selama ini untukmu karena kau adikku." Edgar menarik kerah bahu sang adik dan mendaratkan beberapa bogem mentah di wajah Arga.


Begitu pun sebaliknya Arga tidak mau kalah dari sang kakak dan membalasnya. Pertengkaran di antara kakak beradik itu pun mulai memanas membuat sang kakek merasa sangat pusing di buatnya.


"Dimana Jex apakah dia sudah menemukan cucu menantu?" Gumam kakek Wirasena yang terus menatap ke arah pintu.

__ADS_1


"Sudah cukup! kalian berdua sudah dewasa apa kalian akan terus seperti ini selamanya?" Teriak sang kakek meluapkan kekesalannya.


Kini kakek Wirasena pun berdiri menatap kedua cucunya yang sudah babak belur. Kakek Wirasena menghela nafas kasar menatap kedua cucunya yang nasih saling melemparkan tatapan tajam satu sama lainnya.


Keduanya tak ada yang mau saling mengalah hal itu membuat kakek Wirasena merasa sangat pusing di tambah Jex sang asisten pribadinya belum juga menampakan batang hidungnya.


"Arga apakah kau masih mencintai Alika mantan kekasihmu yang kini sudah menjadi kakak iparmu sendiri?" Tanya sang kakak dengan raut wajah tidak bisa di artikan.


"Kakek! apa kakek,"


"Diam! aku sedang bertanya pada adikmu." Ucap kakek Wirasena yang memotong ucap Edgar yang ingin melakukan aksi protesnya.


"Cepat jawab Arga!" Pinta sang kakek yang kini kembali menatap cucu keduanya.


"Aku," Sekilas Arga melirik pada sang kakek yang menatapnya dengan tatapan tajam yang seakan bisa mengulitinya.


"Aku memang sangat mencintainya. Tiga tahun kami menjalin hubungan kami pun sudah merangkai mimpi untuk hidup bersama, namun mimpi kami hanyalah sebuah mimpi yang tak akan bisa menjadi kenyataan saat seseorang sudah menghancurkan segalanya dengan cara yang begitu licik." Tanpa rasa takut Arga bahkan menyindir sang kakak.


Mendengar jawaban sang cucu membuat kakek Wirasena kembali menghela nafas kasar. Ini adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya untuk mengambil sebuah keputusan yang akan menentukan masa depan keduanya.


"Lalu bagaimana dengan mu Edgar apa kau mencintai Alika sepenuh hatimu?" Kakek Wirasena mulai melontarkan sebuah pertanyaan sama pada cucu pertamanya.


Edgar tersenyum miring saat mendengar pertanyaan konyol sang kakek padanya. "Kenapa kakek menanyakan hal itu padaku, jelas sekali aku sangat mencintai istriku dia adalah ibu dari kedua anakku." Ucap Edgar dengan bangganya.


Membuat Arga tersenyum mengejek. "Bangga dari hasil rampasa, sungguh sangat mengagumkan." Arga kembali menyindir sang kakak.


"Kau!!" Edgar merasa tidak terima dengan perkataan sang adik pun kembali menarik baju Arga dan bersiap untuk melayangkan kembali bogem mentahnya.


Namun dengan cepat Arga menangkis tangan sang kakak dan kembali merapihkan pakaiannya.

__ADS_1


"Apa kau yakin tidak ada wanita lain selain diriku di hatimu tuan Edgar Anggasta?" Sebuah pertanyaan terdengar bersamaan dengan Alika yang kini berjalan memasuki mansion bersama dengan Jex di belakangnya.


Bersambung...


__ADS_2