
"Kenapa ini bisa terjadi dan apa penyebabnya dia bisa masuk ke rumah sakit."
"Kenapa Anda bertanya pada saya tuan bukankah anda suaminya dan harusnya anda lebih tahu bagaimana istri anda, nona Sabrina bahkan tidak mengurus dirinya dengan baik dan sering menunda makan siangnya akhir-akhir ini. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada hubungan kalian?'' Tanya Maria tanpa rasa segan sedikipun.
"Kau tidak perlu tahu hubungan antara aku dan istriku kau cukup katakan saja di mana istriku dirawat saat ini.'' Ketus David dengan wajah datarnya.
"Aishh... kau terlalu percaya diri sekali tuan." Maria menutup percakapannya saat dia sudah sampai di halaman rumah sakit kemudian dia pun mengatakan ruangan pada David dengan cepat pria itu pun pun berlari menuju ruangan yang sudah Maria beritahukan padanya.
"Sepertinya yang nona Sabrina katakan tidak benar yang aku lihat suaminya sangat begitu mencintainya, bahkan dia sangat terlihat begitu khawatir dengan kondisinya saat ini. Aku berharap semoga hubungan mereka baik-baik saja seperti hubungannya sama nona Alika Dan Tuan Edgar." Gumam Maria lirih.
Kini ia pun melajukan mobilnya kembali meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sedangkan David langsung berlari masuk ke ruangan istrinya dan menanyakan kondisi istrinya kepada sang dokter. "Bagaimana keadaannya dok?" Tanya David dengan wajah cemasnya.
"Anda tidak perlu khawatir tuan, istri anda sudah baik-baik saja dia hanya perlu beristirahat yang cukup dan atur pola makan yang baik, jauhkan dari hal-hal yang membuatnya stres dan tertekan." Jawab sang dokter menjelaskan.
David menghela nafas lega ini ia pun datang menghampiri istrinya yang masih berbaring di brankar pasien. "Bagaimana keadaanmu sekarang, apakah kau sudah merasa lebih baik?" Tanya David yang kini mulai mengganggu tangan Sabrina.
Sabrina tersenyum samar dan menganggukan kepalanya yang masih lemas. "Aku sudah jauh lebih baik kenapa kau datang kemari di mana Maria?"
"Aku datang kemari untuk menemuimu tapi kenapa kamu malah menanyakan orang lain. Apakah kau tidak suka aku berada di sini? jika memang begitu aku akan pergi saja." Ucap David yang mulai melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
Sabrina mencegah tangan David agar tidak pergi meninggalkannya. ''Kamu ke mana? apakah kamu marah padaku? apakah aku salah bicara? Jangan pergi. Tetaplah disini bersamaku." Pinta Sabrina dengan nada lemahnya.
"Kenapa aku harus di sini. Bukankah kamu tidak suka jika aku berada di dekatmu, Aku akan segera melepaskan kamu dari hubungan ini jika itu akan membuatmu bahagia. Aku berharap kamu akan dapat menggantiku yang bisa mencintaimu dan juga kau cintai, hubungan kita tidak perlu diteruskan lagi karena aku tidak ingin melukaimu terlalu dalam dan memaksakan cinta ini."
Deghh..
Kata-kata David membuat jantung Sabrina Berhenti Berdetak seketika, dunianya seakan berhenti saat mendengar keputusan David yang akan menceraikannya begitu saja. Sakit tentu saja karena sebenarnya Sabrina juga mencintai pria itu hanya saja Sabrina tidak ingin mengungkapkannya, karena ego dan gengsinya yang terlalu tinggi.
"Apakah kau akan benar-benar mengakhiri pernikahan kita? Apakah kau tidak akan mendengar apa yang akan dikatakan padamu? David Mirza Sebenarnya aku,"
"Iya aku mengerti." David mau makan ucapan Sabrina dan mengartikan jika Sabrina menyetujui perpisahan mereka.
Tanpa mendengarkan penjelasan Sabrina terlebih dahulu David pun pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang masih terbaring lemah, ia pergi bukan karena tidak kasihan pada istrinya namun ia tidak ingin mendengar kata-kata yang begitu menyakitkan tentang perpisahan mereka.
Sabrina mulai terisak keluarkan segala sakit dan kesedihan dalam hatinya saat ini, rasa Kian mengintip relung hatinya. Sabrina memukul dadanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa sesak yang mendera di dalam hatinya. ''Tidak! ini tidak boleh terjadi aku harus mengatakannya sesungguhnya padanya tapi apakah dia akan mau mendengarkan aku?"
Kesedihan dan kegalauan yang dirasakan Sabrina juga dirasakan oleh Arga Iya terus memikirkan wanita yang bersama dengan asisten pribadi kakaknya.
''Maria kenapa harus dia yang jadi istrinya David tapi kenapa pula aku harus merasakan sakit ini melihat dia sudah menjadi milik orang lain. Ini sangat konyol!" gumam Arga yang terus meneguk wine yang ada di tangannya untuk melupakan apa yang ia lihat tadi.
"Wah sepertinya ada yang sedang patah hati di sini." Ucap seorang pria yang kini berdiri di belakang Arga.
__ADS_1
"Hmmm... Kau sedang apa kau di sini menggangguku saja. Apakah kau tidak puas membuat aku kesal di rumah dan di manapun, dan sekarang kau mengejekku." Arga tersenyum sini ke arah sang kakak yang kini duduk di sampingnya.
"Bukankah kau bilang padaku jika kau sudah melupakannya ingatlah Arga dia istriku jangan terus memikirkannya karena itu tidak baik untukmu."
"Cihhh... percaya diri sekali kamu memang siapa yang memikirkan istrimu? Aku sedang memikirkan wanita lain. Karena aku tahu dia tidak akan menjadi milikku lagi dia sudah mencintaimu Edgar, kau tidak perlu khawatir jika aku akan merebutnya darimu karena perasaanku kepadanya sudah tidak ada lagi." Jawab Arga jujur.
"Hhmmm... Baguslah kalau begitu, jadi mulai hari ini aku tidak perlu khawatir kau akan merebut istriku." Kekeh Edgar menepuk pundak adiknya perlahan.
Arga memutar bola matanya malas menatap sang kakak yang terlihat begitu menyebalkan di matanya, kini dia pun terus meneguk wine yang ada di tangannya.
"Sudah cukup! Kau terlalu banyak minum itu tidak baik untuk kesehatanmu sekarang lebih baik Ayo kita pulang." Ajak Edgar yang kini membopong adiknya keluar dari tempat itu.
"The Little Bear sang pujaan hati.... Sang pujaan hati.... "Arga terus menyanyi tidak jelas membuat Edgar merasa sangat kesal saat mendengar ocehan adiknya.
"Sebenarnya siapa gadis yang ada didalam pikirannya siapa yang ia maksud sebagai beruang kecil itu." Edgar menutupi telinganya agar tidak mendengar ocehan sang adik agar ia pokus mengendarai mobilnya.
"Little Bear si galak aku tidak menyangka seleramu ternyata pria berkaca mata. Hmmm..." Arga tersenyum dan mulau memuntahkan isi perutnya di dalam mobil sang kakak.
"Argghh.... Apa yang kau lakukan!" Edgar mulai merasa mual dan langsung menepikan mobilnya.
Edgar membuka seatbelt nya menatap jijik pada benda yang sudah mengotori mobilnya. Dengan kesal ia pun keluar dari dalam mobilnya dan mulai menghubungi David agar segera menjemputnya.
__ADS_1
Kini Edgar kembali melirik ke arah sang adik yang sudah tak sadarkan diri karena terlalu mabuk. "Aku akan membantumu mendapatkan gadis idamanmu walau apapun yang terjadi nanti, anggap saja itu sebagai penebusan kesalahanku di masa lalu karena sudah merebutnya darimu." Gumam Edgar lirih.
Bersambung...