
Edgar melajukan mobilnya menuju kantor sang istri masih dengan mimik wajah senangnya, namun kini mimik wajahnya berubah kesal dan cemburu saat melihat sang istri tengah berjalan bersama dengan seorang pria muda di sampingnya.
Dengan cepat Edgar pun membuka seatbelt nya dan menghampiri Alika dengan sedikit berlari.
"Sayang...." Panggil Edgar yang langsung membuat Alika menghentikan langkahnya dan menatap ke arah sumber suara.
"Sayang.." Edgar merangkul pinggang istrinya dan memberikan beberapa ciuman di hadapan pria muda itu tanpa rasa malu sedikit pun. Bahkan ia seolah mengatakan pada seluruh dunia jika Alika hanya miliknya seorang.
"Hmm..." Faiz, yang tak lain adalah pria yang bersama dengan Alika berdehem dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Edgar apa yang kau lakukan?" Alika merasa gugup dan malu melakukan hal seperti itu di hadapan kliennya.
"Kenapa? apa salahnya mencium istri sendiri." Ucap Edgar yang kini kembali melabuhkan kecupan nya di kening sang istri.
Alika memutar bola matanya malas, ia tahu apa yang ada di pikiran suaminya saat ini namun karena tidak ingin berdebat dan membuat keributan kini ia pun meminta Sabrina untuk menggantikan dirinya.
Alika membawa Edgar ke dalam ruangannya. "Duduklah, ini ruanganku. Mungkin tak sebesar kantormu tapi aku bangga bisa memiliki kantor ini." Ucap Alika yang memberikan segelas air pada suaminya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
"Aku juga bangga memilikimu." Edgar menyimpan gelas yang di berikan Alika di atas meja dan menarik tangan istrinya hingga mendarat sempurna di pangkuannya.
"Aku mencintaimu." Edgar mencium pipi Alika dengan gemas sedangkan Alika hanya memutar bola matanya malas.
"Suamiku tersayang jangan macam-macam denganku okey, karena ini kantorku jadi kau harus menuruti semua perintahku disini." Alika memberikan peringatan.
"Aku tidak akan macam-macam hanya satu macam saja." Edgar mengedipkan sebelah matanya dan semakin mendekatkan wajahnya pada Alika.
"A-apa?" Alika mersa sangat gugup karena ulah suaminya.
"Hmmm..." Edgar menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Sudah aku katakan jangan lakukan apapun aku masih sangat lelah, tubuhku terasa remuk dan itu semua karena ulahmu." Alika mencoba menjauhkan Edgar darinya.
"Hmmm... Aku akan memijatmu nanti." Ucap Edgar memberikan penawaran.
"Terimakasih tapi itu tidak perlu. Sekarang kau pergilah aku masih memiliki banyak pekerjaan." Alika mengusir suaminya tanpa rasa takut sedikit pun. Kini ia berdiri dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Astaga apa kau mengusirku?" Pekik Edgar dengan wajah terkejutnya, sedangkan Alika hanya menganggukan kepalanya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Sayang,"
"Pintunya disana." Ucap Alika tanpa melirik ke arah suaminya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Dengan langkah panjang Edgar kini menghampiri Alika dan mengangkat tubuh langsingnya dengan mudah.
"Edgar apa yang kamu lakukan?" Alika sedikit terkejut dengan ulah suaminya.
Edgar membaringkan tubuh Alika di sofa dan mengungkung dan mengunci tubuh istrinya agar tidak berontak.
"Edgar lepaskan aku." Alika berusaha untuk melepaskan dirinya dari kungkungan sang suami.
"Kenpa? posisi ini sangat nyaman aku menyukainya."
"Edgar Anggasta kau sangat mesum sekali." Alika mulai mengerucutkan bibirnya merasa sangat kesal dengan ulah suaminya.
"Mesum pada istri sendiri bukankah hal yang wajar? hmm.." Edgar memberikan beberapa kecupan singkat di bibir istrinya.
"Nona Alika saya, ups... Maaf saya tidak melihatnya." Maria yang baru saja masuk ke dalam ruangan langsung berlari keluar saat melihat nona bosnya terlihat sangat begitu intim bersama suaminya.
"Huhh... Astaga mata suciku ternoda karena melihat mereka. Ya tuhan beginilah nasib seorang jomblo!" Maria menghentakan kakinya kembali ke ruangannya dan Sabrina.
"Ada apa denganmu?" Tanya Sabrina saat melihat Maria terlihat begitu lesu.
"Tidak apa-apa." Jawab Maria dengan singkat.
"Mana berkas nya apa kay sudah mendapatkan tanda tangan Alika?" Sabrina mengambil berkas yang ia berikan pada Maria beberapa saat lalu.
"Ehh itu," Maria bingung harus mengatakan apa.
"Baiklah aku yang akan menemuinya sendiri." Ucap Sabrina yang kini meninggalkan Maria begitu saja.
"Tapi nona, itu." Maria terhenti saat melihat pintu ruangan itu sudah kembali tertutup.
"Ahh... Biarkan saja, biarlah dia juga melihat apa yang aku lihat baru saja." Maria terkikik geli membayangkan bagaimana ekspresi terkejut Sabrina saat melihat Alika tengah bermesraan dengan suaminya.
Brakkk...
Suara pintu tertutup dengan sangat kencang membuat Maria langsung terlonjak kaget menatap Sabrina. Belum genap lima menit kini ia sudah kembali ke ruangan dengan wajah terlihat begitu kesal.
"Argghh.. Dasar suami istri gila! bisa-bisanya mereka melakukan hal itu di kantor ini, tidak tahukah bahwa kami para jomblo tidak bisa melakukan hal seperti itu." Cerocos Sabrina membut Maria tersenyum samar
"Syukurlah tidak hanya mataku yang merasa ternodai tapi nona Sabrina juga." Gumam Maria lirih.
***
__ADS_1
"Sayang kenapa kau mendongku?" Protes Edgar saat Alika mendorong tubuhnya hingga terhuyung dan hampir terjatuh.
"Itu salahmu sendiri." Alika merapihkan pakaian dan riasannya kembali yang berantakan karena ulah suaminya.
"Kenapa salahku? itu salah teman-teman mu yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu." Ucap Edgar membela diri.
"Dasar pria sudah salah tapi tetap saja tidak mau mengakui jika dirinya salah." Alika yang merasa sangat kesal pun lebih memilih untuk diam dan tak menjawab perkataan suaminya.
"Aku akan menjemput Rain dan Raina apa kau mau ikut atau menunggu disini?" Tanya Alika yang sudah bersiap untuk berangkat
"Tentu saja aku ikut denganmu." Edgar merangkul pinggang istrinya dan keluar dari ruangan itu.
Dalam perjalanan Alika terdiam dan menatap kosong ke arah jalanan yang cukup ramai, tak ada obrolan di antara mereka berdua bahkan Alika terkesan mengacuhkan keberadaan suaminya.
Pikirannya terus melayang jauh tak mengerti dengan apa yang harinya inginkan saat ini. Setelah sampai di depan gerbang sekolah Edgar langsung keluar untuk menghampiri putra-putrinya, sedangkan Alika masih sibuk dengan dunianya sendiri.
"Bunda.." Panggil Raina menyadarkan Alika dari lamunan panjangnya.
"Sayang, bagaimana sekolah kalian apa semuanya baik?"
"Sangat baik," Sahut Rain menimpali.
Kini kedua anak itu mulai menceritakan hari indah yang sudah mereka lewati pada sang bunda. Edgar yang mendengarkan cerita mereka hanya tersenyum.
Kini dering ponsel Edgar terus berbunyi membuat istri dan kedua anaknya kini beralih menatap benda pipih itu.
"Siapa yang menghubungimu? dan kenapa kau tidak mengangkatnya?" Tanya Alika yang kini mengulurkan tangannya untuk melihat sang penelpon. Namun dengan cepat Edgar lebih dulu mengambil benda pipih itu dan mematikan ponselnya begitu saja.
"Kenapa dimatikan?" Alika sedikit kebingungan menatap suaminya yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Itu panggilan David, mungkin ia punya informasi yang dangat begitu penting." Ucap Edgar dengan wajah gugupnya.
"Hhm..... Mungkin saja ada pekerjaan yang begitu penting."
"Ya, itu mungkin saja." Jawan Edgar singkat.
"Kalau begitu aku akan mengantarkan mu pulang. Aku harus segera pergi kekantor." Ucap Edgar yang kini baru sampai.
Kini mereka pun mulai turun dari dalam mobil dab mulai melambaikan tangannya sampai mobil sang ayah pergi meninggalkan mereka.
Rain dan Raina pun kini mauk ke dalam gedung kantor sang bunda untuk mencari keberadaan Sabrina. Sedangkan Alika masih menatap mobil suaminya yang sudah hampir tak terlihat lagi.
__ADS_1
"Entah mengapa aku merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku."
Bersambung...