
Jex dan Kakek Wirasena menatap bangunan tua di hadapannya. Tanpa ragu kini kakek Wirasena pun melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah tersebut.
"Permisi? kemanakah gadis yang tinggal di rumah itu?" Tanya kakek Wirasena pada seorang petani yang kebetulan lewat.
"Owh, anak pemilik rumah itu ya? dia sudah pindah ke kota, kabarnya sudah menikah dengan pria kota dan tanah disini sudah di jual beberapa tahun yang lalu." Ucap sang petani panjang lebar.
"Begitu ya, baiklah terimakasih informasinya."
"Sepertinya kita terlambat gadis itu sudah menikah. Tapi walau begitu aku harus tetap mencarinya sampai ketemu." Ucap kakek Wirasena yang kini menatap bangunan yang hampir ambruk.
"Tapi pak jika anda ingin sekali bertemu dengannya anda bisa kembali tiga hari lagi, karena dia akan datang tanggal dua puluh setiap bulannya."
"Kenapa begitu?" Kakek Wirasena mengernyitkan dahinya menatap penuh tanya pada sang petani.
"Ya, dia akan datang mengunjungi makam kedua orang tuanya di tanggal yang sama saat orang tuanya wafat."
"Baiklah kami akan kembali lagi tanggal dua puluh nanti." Ucap sang kakek yang mulai berpamitan pada petani itu.
"Tuan, memang siapa gadis itu dan kenapa anda harus mencarinya?" Tanya Jex sedikit ragu menatap tuan majikannya lewat kaca spion.
Kakek Wirasena menghela nafasnya perlahan kini ia pun mulai merilekskan tubuhnya.
"Dia adalah anak dari korban malam itu, malam yang sama saat istri, anak dan menantuku tiada dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun silam. Saat itu hanya tersisa Edgar saja, Edgar selalu menyalahkan dirinya yang menjadi penyebab peristiwa naas itu hingga jiwanya terguncang dan harus menjalani pengobatan."
"Bertahun-tahun dia menjalani perawatan dan akhirnya ia pun bisa sembuh. Setelah itu aku pun pergi ke luar negeri untuk menghabiskan waktu bersama kenangan indah istriku saat awal kami menikah dulu. Tapi sekarang aku kembali dan harus segera menyelesaikan semua masalah yang berkaitan dengan malam berdarah."
Perlahan Kakek Wirasena pun meneteskan air matanya. Selama ini ia terus berusaha kuat dan tegar menjalani hari-harinya, namun kini harus kembali di hadapkan dengan kisah masa lalu yang membuatnya kehilangan orang-orang yang begitu ia cintai.
"Mungkin ini karma karena aku sudah menutup kasus malam itu saat anak dari korban kecelakaan meminta keadilan untuk kedua orang tuanya." Tangis kakek Wirasena pun pecah membuat Jex merasa sedikit aneh melihat tuan majikannya yang selalu ceria kini menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Saat itu bahkan aku tidak ingin melihat wajahnya yang terus menangis memohon padaku, karena memang Edgar tidak bersalah bahkan ia pun korban dalam kecelakaan itu."
Jex hanya terdiam tak bisa berkomentar apapun tentang hak ini karena ia sendiri baru mengenal kakek Wirasena saat mereka berada di luar negeri.
"Jex ingatkan aku jika tiga hari lagi kita akan datang kembali ke tempat ini."
"Baik tuan." Jawab Jex yang terus mengemudikan mobilnya kembali menuju kota.
***
"Sayang aku sangat khawatir padamu seharian ini kau keluar tanpa mengabariku. Apa kau tahu aku hampir gila karena mencarimu." Edgar terus mengomel mengungkapkan isi hatinya saat ini pada sang istri.
Sedangkan Alika memutar bola matanya malas mendengar ocehan suaminya. Sudah beberapa puluh menit berlalu Edgar masih saja terus mengulang-ulang perkataan nya membuat Alika mulai jengah mendengarnya.
"Aishhh... Edgar Anggasta apa kau akan terus mengomel seperti itu sampai malam nanti? aku tidak tahu kau memakan apa hari hingga membuatmu seperti emak-emak rempong saja." Ucap Alika yang langsung membuat Edgar melirik tajam ke arahnya.
"Sekarang apa lagi?!" Dengan berani Alika sedikit meninggikan suaranya, membuat Edgar Anggasta langsung menciut seketika.
Alika mulai mengomel dan memperlihatkan semua berkas-berkas pekerjaan nya yang tertunda selama beberapa hari ini. Sedangkan Edgar hanya diam tak berkutik dan tak berani mengatakan hal apapun lagi yang bisa memancing kemarahan istrinya.
"Sudah selesai, sekarang aku mau mandi dulu." Setelah merasa puas mengungkapkan kekesalannya kini Alika pun berlalu meninggalkan Edgar yang masih berdiri di tempatnya.
"Dia lebih mengerikan saat sedang marah. Ahh aku jadi semakin gemas padanya. " Edgar tersenyum dan kini ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi menyusul sang istri.
"Hey! apa yang sedang kau lakukan disini?" Alika terkejut dan menutupi tubuhnya yang sudah tak memakai sehelai benang pun.
"Kenapa kau malu? aku suamimu bahkan aku sudah merasakan bagaimana hangatnya tubuhmu." Edgar menaik turunkan alisnya mulai menggoda sang istri.
"Pokoknya aku tidak mau! sekarang kau keluar dan jangan ganggu aku." Pekik Alika yang terus berusaha meraih handuknya.
__ADS_1
Namun dengan cepat Edgar mengambil handuk tersebut dan melemparkan nya kesembarang arah.
"Edgar apa yang kamu lakukan." Alika memundurkan langkahnya saat Edgar semakin mendekat ke arahnya.
Edgar melepaskan pakaiannya membuat Alika terbelalak dan memalingkan wajahnya ke arah lain saat melihat tubuh atletis suaminya.
"Kenapa kau bersikap seolah baru melihat tubuhku saja, bukankah pagi tadi kita hampir melakukannya." Edgar semakin menggoda Alika.
Kini wajah Alika berubah memerah menahan rasa malunya. "Astaga! Alika mengapa kau bisa melupakan kejadian pagi tadi." Batin Alika mengumpat kebodohan nya sendiri.
"Jadi sayang ayo kita lanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda." Edgar menarik pinggang ramping Alika dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Edgar, sshhh...." Alika mulai mengeluarkan suara erotisnya saat Edgar memberikan beberapa kecupan di ceruk leher nya.
Mendengar suara merdu istrinya membuat ia semakin bersemangat dan meninggalkan beberapa bekas kecupan di sana. "Ini adalah tanda jika kau adalah milikku, Alika Maheswari hanya milik Edgar dan tak ada siapapun yang bisa merebutnya dariku termasuk Arga." Ucap Edgar bermonolog.
Tak hanya sampai di tempat itu kini Edgar pun mulai menatap bibir merah alami istrinya. Tanpa menunggu lama kini ia pun mulai memberikan ciuman manis di bibir sang istri yang sudah menjadi candu baginya.
Semakin lama semakin dalam. Edgar terus menumpahkan segala rasa di dalam hati dan perasaan cinta yang begitu besar dalam dirinya pada sang istri melalui ciuman panasnya.
Alika menepuk dada bidang suaminya saat pasokan oksigen pada paru-parunya mulai menipis.
"Hah.. Hahhh... apa kau ingin membunuhku?!" Ucap Alika dengan nafas yang terengah-engah.
"Kenapa kau tidak bernafas saat kita berciuman." Tanya Edgar begitu prontal membuat pipi Alika semakin memerah karenanya.
"Sayang lihat aku." Edgar menangkup kedua pipi istrinya dan memberikan kecupan singkat di bibir Alika.
"Aku sangat mencintaimu Alika Maheswari." Kini manik mata mereka pun saling terpaut satu sama lain merasakan debaran jantung mereka yang memompa lebih cepat.
__ADS_1
Bersambung