
Alika menatap punggung Arga dengan wajah sendu ingin sekali ia mengejarnya dan memeluknya meminta maaf atas segala yang ia lakukan saat ini. Namun Edgar dengan cepat mencegahnya dan memberikan sebuah peringatan yang membuat Alika mengurungkan niatnya.
Setelah Arga pergi Edgar pun pergi meninggalkan dirinya yang kini hanya berdua bersama David di ruangan itu.
"Argghh... Menyebalkan! dia benar-benar manusia tidak punya hati dan perasaan." Pekik Alika meluapkan segala kekecewaan dalam hatinya.
"Nona jaga bicara mu jika tidak, mungkin saja tuan Edgar akan menambah hukuman mu lebih berat dari ini." Ucap David memperingatkan.
"Aku tidak perduli dia sudah pergi dan tidak mungkin mendengar umpatanku." Jawab Alika dengan santainya.
"Khmm... Anda salah nona, di seluruh mansion ini terdapat cctv dan apapun yang anda katakan seperti layaknya sebuah dongeng dinding ini memiliki telinga dan tuan Edgar pasti akanmengetahuii semua yang anda katakan tentangnya." Ucap David yang kini membuat Alika sedikit mendekat ke arahnya.
"Wah... Benarkah? menarik, aku pernah mendengar dongeng setiap dinding istana memiliki telinga." Bisik Alika di samping David dan memindai seluruh ruangan itu dengan seksama. Dan benar saja yang David katakan, ruangan itu terdapat banyak cctv membuat Alika kini mendengus dengan kesal.
"Kau benar, lalu aku harus apa? mengapa kau membawaku kemari kau tahu kan aku sedang sibuk bekerja tadi." Alika menatap David dengan tatapan kesalnya.
"Anda tidak perlu bekerja lagi, tugas anda hanya melakukan apapun yang di perintahkan tuan Edgar dan apapun keinginan tuan Edgar harus segera anda laksanakan tidak ada protes atau pun yang lainnya dan ini kartu disini ada dua puluh juta mungkin itu cukup untuk kebutuhan hidupmu selama tiga bulan." Ucap David yang memberikan sebuah kartu pada Alika.
Alika menerima kartu tersebut dengan wajah tak percaya. "Apa kau yakin isinya dua puluh juta?" Tanya Alika.
"Dua puluh juta tanpa bekerja, okelah hanya tiga bulan Alika tapi bagai mana jika setelah tiga bulan dia memintanya kembali? tidak! tidak! uang sebanyak itu, ini adalah pertama kalinya dalam hidupku mendapatkan uang sebanyak ini tanpa bekerja." Alika menggelengkan kepalanya dan mengembalikan kartu tersebut pada David.
"Kau ambil saja dan berikan pada bos mu aku tidak butuh uang itu." Ucap Alika yang membuat David berpikir jika jumlah itu sangat kurang bagi Alika dan sebutkan gadis materialistis seperti yang di katakan oleh orang-orang itu benar adanya.
"Berapa jumlah yang kau inginkan?" Tanya David dengan wajah datarnya.
"Sudah ku katakan aku tidak membutuhkan uang dari bosmu." Jawab Alika yang kini mulai melangkahkan kakinya untuk mencari dapur karena sejak tadi ia sangat kelaparan dan sudah tidak bisa di tahan lagi.
Alika sudah tak punya banyak tenaga untuk terus berdebat dengan David hanya karena masalah uang.
__ADS_1
"Ambil ini jumlah nya satu miliar kau bisa menggunakannya sesuka hatimu." Ucap David yang melemparkan kartu berwarna hitam tepat di kaki Alika.
"Dasar pria tidak sopan!" Umpat Alika yang kini mulai mengayunkan kakinya menendang udara menatap punggung David yang semakin menjauh darinya.
Alika mengambil kartu tersebut dan menyimpan nya di saku kini ia pun kembali pada tujuan utamanya untuk mencari makanan yang bisa ia makan.
***
Di dalam ruangan Edgar tersenyum miring saat mendengar penuturan asisten nya. "Biarkan saja, kita lihat berapa banyak uang yang akan ia habiskan selama tiga bulan kedepan dan itu bisa ku jadikan sebagai bukti saat persidangan perceraian kami nanti." Tukas Edgar.
"Lalu apa yang akan anda lakukan selanjutnya?" Tanya David.
"Aku harus bisa membuatnya jatuh cinta padaku mengangkat nya sampai setinggi langit setelah itu aku akan menjatuhkannya sampai ke dasar jurang." Jawab Edgar dengan seringai tipisnya
"Lalu bagai mana dengan tuan Arga?" Tanya David kembali membuat Edgar mulai memikirkan sesuatu untuk hal itu.
"Baik tuan muda."
"Pergilah dan lakukan semua tugasmu dengan baik." Edgar mengibaskan tangannya mengusir David.
***
"Terima kasih pak." Alika tersenyum pada pria tua yang kini memberikan berbagi macam makanan untuknya. Alika mencium aroma makanan itu dan mulai memakannya dengan sangat lahap.
"Nona makanlah perlahan tidak akan ada seorang pun yang akan mengambilnya darimu." Ucap pak Min kepala pelayan di mansion Anggasta.
"Hehe... Iya pak, Alika sangat kelaparan karena sejak kemarin malam perut Alika belum sempat diisi, ya benar kata orang lebih baik sakit hati dari pada tidak makan tapi nyatanya sakit hati membuat kita tidak ingin memakan apapun." Cetus Alika yang menghentikan aktivitas nya sejenak.
"Hmm.. Baiklah kalau begitu silahkan di lanjutkan kembali, saya ada di belakang jika nona membutuhkan sesuatu panggil saja." Ucap pak Min yang kini meninggalkan Alika yang kembali melanjutkan aktivitas makannya.
__ADS_1
Brakk...
Suara gerakan membuat Alika terkejut dan terbatuk-batuk karena tersendak makanan yang sedang ia makan. Wajah Alika mulai memerah membuat Edgar terlihat sangat begitu khawatir dengan keadaan Alika saat ini.
Edgar mengelus punggung Alika dengan lembut dan memberikan segelas air pada Alika.
"Apa kau ingin membunuh ku pak?" Alika memberikan gelas yang sudah kosong pada Edgar.
"Apa? Apa kau menyalahkan aku?" Edgar tidak terima dengan sikap Alika yang menuduhnya sembarangan.
"Dasar pria aneh sudah salah tapi tidak mau di salahkan." Alika mengumpat Edgar dalam hati.
"Jangan menatapku seperti itu, sekarang bersiaplah mulai hari ini kau harus bekerja keras untukku aku sudah membayar sangat mahal untukmu." Ucap Edgar yang kini menarik tangan Alika keluar dari mansion Anggasta.
"Pak anda mau membawa saya kemana?" Alika sedikit berlari menyamakan langkah kaki Edgar dan melirik pada makanan yang belum sempat ia habiskan.
"Kenapa dia senang sekali menindasku?" Alika mendengus kesal menatap wajah tampan Edgar dengan wajah sinisnya.
"Kalian berdua kakak beradik tapi aku tidak melihat kemiripan di antara kalian berdua. Kau memang tampan tapi bagiku Arga lebih tampan dan sikapnya yang lembut membuat aku jatuh cinta berkali-kali padanya, hanya saja..." Alika tak meneruskan gumaman ia hanya menatap ke luar jendela mobil tak perduli dengan apa yang sedang di lakukan Edgar saat ini.
"Arga..." Alika pun mulai memejamkan matanya mengistrahatkan otak dan pikirannya yang sudah sangat bekerja keras untuk melupakan semua hal yang sudah terjadi padanya.
Byur...
Edgar mengguyur wajah alika dengan sebotol air mineral karena sejak beberapa waktu lalu Alika tak kunjung terbangun walaupun Edgar sudah berusaha keras untuk membangunkan nya dengan cara lembut.
"Astaga! apa yang kau lakukan..!" Pekik Alika mulai mengusap wajahnya yang sudah basah kuyup.
Bersambung..
__ADS_1