Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 72


__ADS_3

Sabrina memasuki rumahnya dengan penuh senyuman ia pun sudah disambut oleh ibu, kakak dan juga sahabat terbaiknya, tidak lupa twins R juga ada di sana dengan buket bunga di tangan mereka.


"Selamat datang kembali Aunty Sabrina.'' Seru Raina dengan wajah cerianya dan memberikan buket bunga yang ada di tangannya pada Sabrina.


"Terima kasih Raina cantik.'' Dengan penuh senyuman Sabrina pun mengambil buket bunga yang diberikan oleh gadis cilik itu.


"Kenapa kalian melakukan hal ini Bukankah aku hanya beberapa hari saja di rumah sakit?" Ucap Sabrina yang kini melihat pada jejeran keluarganya yang sudah menyambutnya dengan hangat.


Namun pandangan Sabrina terus mencari seseorang yang sudah membuatnya tidak bisa berhenti memikirkannya sejak beberapa hari ini.


"Hei adik, apa kau tidak ingat jika ini hari ulang tahunmu kami memberikan kejutan ini tidak cuma-cuma kau harus melakukan sesuatu untuk kami kan begitu ibu?" Ucap Vino meminta pendapat sang ibu.


"Iya kamu harus meniup lilin ini terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah." Jawab sang ibu yang kini berjalan menghampiri putrinya dengan membawakan kue di tangannya.


Melihat hal itu membuat Sabrina merasa terharu ia pun meniup lilin-lilin itu dan berdoa untuk kebaikannya dan kebaikan dengan hubungan pernikahannya dengan David.


"Aku berharap, aku masih bisa memiliki kesempatan berbicara dengannya secara baik-baik. David di manakah kamu sekarang?'' Batin Sabrina memanggil suaminya.


"Aunty kau sudah mengambil buket bunga milik adikku tapi kenapa kau tidak mengambil buket bunga dari tanganku.'' Protes Rain dengan wajah kesalnya, membuat semua orang yang berada di sana kini tertawa melihat raut wajah menggemaskan Rain.


"Oh anak tampan. Baiklah aku akan mengambil buket bunga darimu juga terima kasih Rain.''


"Selamat ulang tahun Sabrina semoga apapun yang kamu harapkan akan segera terwujudkan dan ini hadiah dariku, mohon diterima ya.'' Alika memberikan tiket bulan madu kepada sahabatnya.


"Apa ini? kenapa kamu berikan ini padaku aku rasa ini terlalu berlebihan.'' Sabrina memberikan kembali tiket itu kepada sahabatnya, Sabrina merasa itu tidak berguna lagi untuknya karena hubungannya dengan David akan segera berakhir.


"Kenapa kau menolaknya?" Tanya Alika dengan wajah kecewa. "Tiket ini diberikan langsung oleh suamiku untukmu jadi aku mohon ambillah jika tidak dia pasti akan marah padaku."

__ADS_1


"Tapi aku tidak membutuhkannya untuk saat ini, maaf."


"Kenapa begitu Kau sangat membutuhkannya selama ini kau hanya bekerja dan bekerja, jadi sekarang nikmatilah bulan madumu bersama suamimu aku akan membebaskanmu dari pekerjaanmu untuk beberapa hari. Dan untuk Maria kau juga boleh mengajukan cuti mungkin untuk sekedar liburan atau melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia aku tidak ingin kalian berdua terbebani karena pekerjaan."


"Terima kasih nona Alika sebelumnya tapi saya tidak membutuhkan cuti untuk kali ini, mungkin saya akan mengajukan cuti di lain waktu saja." Sambung Maria sedikit membungkukkan tubuhnya pada Alika.


"Ckk... aku heran, Kenapa di saat karyawan lain ingin mengajukan cuti mereka serta mendapatkan bonus dan hadiah dari bosnya tapi kenapa kalian berdua menolaknya secara mentah-mentah. Apakah kalian tidak salah meminum obat pagi ini?" Alika merasa sangat kesal Ia pun langsung terduduk lemas di sofa sedangkan Vino yang berdiri tak jauh darinya mengangkat bahunya untuk beberapa detik.


"Kalau begitu berikan pada kami saja jika mereka tidak menginginkannya aku akan berlibur sepuasnya mengelilingi Eropa." ~Arga~


"Dan aku akan pergi berbulan madu bersama istriku." ~David~


"Ahhh jangan lupa sepertinya aku juga harus memberikan istriku beberapa anak lagi dan untuk itu, aku memerlukan tiket bulan madu dan cuti untuk beberapa bulan kedepan. ~Edgar~


"Dasar anak konyol." Kakek Wirasena memukul satu persatu kepala ketiga pria itu dengan tongkat miliknya.


"Ibu Sabrina saya sebagai anggota paling tua dari keluarga Anggasta dan wakil dari keluarga Mirza, datang kemari untuk melamar putri anda dan melangsungkan pernikahan yang layak untuknya." Ucap kakek Wirasena yang langsung di sambut hangat oleh keluarga Sabrina.


kini pandangan Sabrina dan David pun saling bertemu dan mengunci satu sama lain begitupun dengan Arga dan Maria ada perasaan penuh di hati. Namun Maria hanya menanggapinya secara dingin dan biasa saja.


Baiklah jika semuanya sudah setuju kita akan melangsungkan resepsi pernikahan dengan waktu dekat. Tidak hanya itu aku pun akan memperkenalkan menantu kesayangan keluarga kami kepada publik.


"Terima kasih kakek." Alika menghampiri pria lansia itu dan memeluknya dengan erat namun Edgar langsung menarik tubuh istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Sayang lepaskan dia, ada aku disini aku suamimu dan sudah aku katakan beberapa kali jangan memeluk pria lain selain aku entah itu kakek sekalipun." Rengek Edgar dengan manjanya.


"Dasar bodoh! cucu durhaka." Kakek Wirasena kembali memukul kepala Edgar dengan tongkatnya.

__ADS_1


"Cemburumu sangat aneh dia kakekmu mana mungkin aku memiliki hubungan lain dengan kakekmu sendiri." Bisik Alika di samping telinga suaminya.


"Tetap saja aku tidak suka." Rengek Edgar kembali tanpa rasa malu sedikitpun.


"Kau tterlihat seperti Rain dan Raina saja," kekeh Alika yang kini menangkup kedua wajah tampan suaminya.


"Kakek buyut tenang saja, masih ada kami yang akan memeluk kakek karena tidak akan ada yang memarahi kakek atau cemburu pada jika kamu yang melakukannya iya kan kak?" Seru Raina meminta persetujuan kakaknya.


Rain hanya menjawab anggukan. Kini kedua bocah kembar itu pun berlari menghampiri sang kakek.


Setelah semua urusan selesai kini mereka pun mulai meninggalkan rumah itu dan yang tersisa hanyalah Sabrina dan keluarganya.


"David bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu sebentar saja, aku akan menunggumu di kamar." Pinta Sabrina yang langsung di angguki oleh David.


David mulai Mengunci pintu kamar itu agar siapapun yang tidak akan mendengar pembicaraan mereka, karena ia tahu kamar Sabrina tidak dilengkapi dengan peredam suara dan kemungkinan suara mereka akan terdengar sampai keluar.


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, apakah kamu ingin menolak resepsi pernikahan ini? itu tidak masalah aku tidak akan marah padamu bahkan ini bukan ideku sama sekali ini adalah permintaan tuan Edgar langsung jadi aku tidak bisa menolaknya tadi."


"Bodoh! aku ingin memukulmu sekarang." ke Sabrina yang langsung memukul tubuh suaminya dengan bantal. Sedangkan David hanya diam saja dan menerima apa yang istrinya lakukan saat ini.


"Kau sangat bodoh Aku sangat membencimu! tidak bisa kamu mendengar apa yang ingin aku katakan padamu? tidak Bisakah sebentar saja kau mendengarkan penjelasanku tanpa meninggalkan aku dan mengatakan perpisahan padaku. Apakah kamu tidak memikirkan perasaanku saat itu juga. Tuan David Mirza Aku mencintaimu." Ucap Sabrina di akhir kata membuat David langsung melemparkan bantalny dan menatap wajah istrinya yang sudah basah karena air mata.


"Katakan sekali lagi apa yang baru saja kamu Katakan padaku!" Pinta David yang kini mencengkram lembut lengan istrinya.


"Aku tidak akan mengulang untuk yang kedua kalinya." Jawab Sabrina membuat David frustrasi dan membuka kacamata nya lalu membungkam bibir istrinya dengan ciuman lembut yang menuntut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2