
Alika menahan emosinya yang hampir meledak karena perilaku suami kontraknya yang selalu berbuat sesuka hatinya.
Namun ia tak bisa melakukan apapun selain mengumpat nya dalam hati dan meluapkan semuanya di kamar mandi, karena ia yakin hanya tempat itulah yang paling aman dan terbebas dari cctv.
Selama ini Edgar mengetahui apa yang Alika lakukan membuatnya tersenyum dan tertawa melihat tingkah konyol Alika, tanpa ia sadari kini gadis itu sudah merubah sikapnya yang dingin menjadi sedikit lebih hangat.
Hari demi hari pun berlalu begitu cepat,dua bulan pun telah berlalu Alika selalu mengurus Edgar dengan baik seperti yang Edgar inginkan dan sesuai rencana nya kini Arga mulai membenci Alika dan mulai menjauhinya.
Begitu pun dengan Alika yang sudah tidak perduli lagi dengan kehidupan mantan kekasihnya bahkan kini ia melihat Arga dengan tatapan jijik, karena setiap minggu Arga selalu mengganti pasangannya dan sengaja membuat Alika merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.
Namun kini Alika mulai merasakan dilema saat hatinya mulai tertuju pada Edgar suami kontraknya. Perlakuan lembut yang selama ini Edgar lakukan padanya membuat Alika merasakan kenyamanan saat bersamanya.
"Sab menurutmu bagai mana jika aku mengatakan perasaanku pada kak Edgar kalau aku mulai menyukainya?" Alika mulai meminta pendapat sahabatnya yang kini tengah sibuk dengan ponselnya.
"Sabrina...!!" Pekik Alika di samping telinga sahabatnya, Alika merasa sangat kesal saat sahabatnya mengacuhkan pertanyaan nya.
"Akhh... Iya apa?" Sabrina sangat terkejut dengan sikap bar-bar sahabatnya hingga membuatnya terjatuh sempurna di atas lantai.
"Ya ampun Al bikin jantungan aja deh." Sabrina mengusap layar ponselnya dan bernafas lega saat ponselnya baik-baik saja.
"Kamu itu sedang membalas pesan siapa sih kenapa sangat serius sekali?" Tanya Alika yang mulai mengambil ponsel sahabatnya namun dengan cepat Sabrina menjauhkan ponsel tersebut dan menyimpannya di saku.
"Lupakan saja, tadi kamu mau tanya apa?" Tanya Sabrina.
Alika menghelan nafasnya perlahan. "Kontrak pernikahan ku hanya tinggal satu bulan tapi aku merasa nyaman dengan nya dulu aku pikir dia pria yang jahat dan menyebalkan tapi ternyata dia sangat baik dan lembut. Sabrina haruskah aku menyatakan perasaanku padanya?" Alika kembali meminta pendapat sahabatnya.
Sabrina hanya mengganguk mengiyakan ucapan Alika dengan sangat antusias. " Tentu saja karena aku yakin pak Edgar juga mulai mencintaimu semua itu terlihat sangat jelas dari tindakannya yang sangat begitu perduli dan perhatian padamu." Ucap Sabrina meyakinkan sahabatnya.
__ADS_1
"Tapi aku belum yakin, aku takut jika dia berpikir aku hanya menjadikan sebagai pelarian saat aku sedang patah hati." Alika merasa sangat bimbang dengan keputusan yang akan ia pilih saat ini.
Sabrina tersenyum dan mengusap lengan sahabatnya. "Setidaknya kamu sudah jujur atas perasaanmu padanya dan mungkin saja jika tuan galak itu juga punya perasaan yang sama denganmu dan mungkin pernikahan kalian bisa terus berlanjut sampai akhir hayat nanti." Ucap Sabrina membuat Alika kembali tersenyum dan mulai memikirkan segalanya.
"Kamu benar bestie. Kalau begitu aku harus segera pergi menemui nya sekarang juga." Seru Alika yang mulai berlalu meninggalkan sabrina yang masih duduk di tempatnya.
"Dasar konyol." Sabrina terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya dan kembali sibuk dengan ponselnya.
***
"Aku harus segera mengubah status Kontrak ini menjadi hubungan yang sesungguhnya." Gumam Alika dengan senyuman yang tak pernah pudar menghiasi wajah cantiknya.
Namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan jatuh tak sadarkan diri.
Saat Alika terbangun kini ia berada di tempat yang begitu asing baginya namun ia tahu dimana keberadaan nya saat ini.
Alika berusaha untuk bangun namun dengan cepat sang perawat mencegahnya dan meminta Alika untuk tetap berbaring dan beristirahat.
"Nyonya di usia kehamilan anda saat ini sangat rentan di harapkan jika sedang bepergian harus ada yang menemani, anda beruntung kondisi bayinya sangat sehat hingga tidak terjadi apapun pada anda ataupun bayi anda." Ucap sang perawat panjang lebar membuat Alika sedikit terkejut karenanya.
"Hamil anda pasti sedang bercanda suster, bagai mana bisa hamil?" Alika tersenyum kaku kini ia pun baru teringat pada malam panas yang sudah ia habiskan bersama dengan Edgar.
"Owhh ya ampun mengapa aku baru menyadarinya sekarang?" Alika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedangkan sang perawat itu hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Alika.
Setelah beberapa waktu berlalu dokter pun mengizinkan Alika untuk pulang karena saat ini kondisi Alika sudah kembali membaik.
Dengan perasaan senang kini Alika pun kembali ke mansion Anggasta untuk mencari keberadaan suaminya dan tak sabar ingin menceritakan kabar baik itu pada Edgar.
__ADS_1
Alika terus berjalan memasuki mansion yang luas itu dan tersenyum dan membalas sapaan pada semua yang menyapanya dengan ramah .
Alika terus mengayunkan kakinya menuju ruang kerja Edgar karena ia sangat begitu yakin jika saat ini Edgar pasti berada di ruangan itu.
Dengan wajah berseri bahagia kini Alika pun mulai mengangkat tangganya untuk mengetuk pintu meminta izin pada pemilik ruangan, karena Alika tahu siapa pun tidak di perbolehkan masuk ke dalam ruangan itu tanpa seizin sang pemiliknya.
Namun tangan itu hanya tergantung di udara saat Alika mendengar percakapan di antara David dan Edgar membuat harinya remuk seketika.
"Apakah anda memiliki perasaan lain pada nona Alika?" Tanya David.
"Bagai mana mungkin aku memiliki perasaan padanya, aku menikahinya hanya untuk menjauhkan nya dari adikku karena aku tidak ingin jika wanita itu terus memanfaatkan adikku."
"Lalu bagai mana cara anda mengakhiri hubungan ini karena saya melihat nona Alika terlihat nyaman saat bersama anda tuan, lalu bagai mana jika akhirnya nona Alika menolak untuk berpisah?" Tanya David kembali.
"Hubungan ini akan secepatnya berakhir sesuai dengan kontrak perjanjian awal dan dia tidak akan pernah bisa mengelak lagi, pantau saja pengeluaran kartu yang pernah ku berikan karena berapapun jumlah yang ia habiskan, itu akan menjadi bukti kuat saat persidangan perceraian kami nanti dan jika lebih banyak pengeluaran dari kartu itu akan lebih baik lagi untukku." Ucap Edgar membuat Alika merasa syok saat mendengarnya.
Perlahan Alika pun memundurkan langkahnya meninggalkan tempat itu dengan wajah sedihnya.
"Aku tidak menyangka ternyata selama ini dia hanya menjebakku agar aku berpisah dari Arga dan dia berpikir aku hanya memanfaatkan nya, kau salah tuan Edgar kau salah tapi baiklah aku akan mengikuti permainan mu agar kau merasa sangat senang dan puas jika kau sudah menghancurkan aku sehancur-hancurnya.
Alika mengusap perutnya yang masih datar dan mengingat kembali kata-kata Edgar beberapa bukan yang lalu.
Edgar meminta Alika untuk menggugurkan kandungannya jika dalam kontak pernikahan mereka Alika di nyatakan hamil, karena Edgar tidak sudi memiliki keturunan dari wanita sepertinya.
Sakit dan kecewa itulah yang Alika rasakan saat ini bahkan rasa kecewa itu melebihi saat hubungannya dengan Arga berakhir.
Kini Alika mengambil tasnya menatap kartu yang pernah di berikan David padanya. Alika menggengam benda tersebut dan pergi meninggalkan mansion Anggasta menuju ke suatu tempat.
__ADS_1
Bersambung..