
"Ada kabar apa yang kau bawakan untukku?" Tanya Edgar yang kembali dengan wajah dingin dan datarnya.
"Kita mendapatkan undangan acara pameran dan ajang pencarian bakat untuk para desainer muda."
"Lalu?" Edgar menaikan sebelah alisnya dan mulai berbalik menatap ke arah asisten pribadinya.
"Kita hanya perlu hadir dan memilih salah satu dari mereka, bahkan kabarnya desainer muda dari kota Y pun akan hadir di acara itu." Ucap David panjang lebar.
"Aku tidak tertarik." Jawab Edgar singkat.
"Tunggu! Kota Y dimana itu?" Tanya Edgar sedikit penasaran.
"Kota Y ada di adalah Kota kecil di bagian barat kota ini butuh waktu dua hari untuk sampai di tempat itu." Jawab David menjelaskan.
"Hmm.. Tolak saja! Aku tidak tertarik untuk melakukan hal itu."
"Tapi tuan muda bukankah ini kesempatan emas untuk kita bertemu dengan desainer yang sedang populer karena pencapaian nya yang sangat begitu singkat, namun ia bisa berdiri di tengah- tengah para desainer senior dan kita juga bisa memperkenalkan produk baru kita melalui dirinya." Ucap David sedikit membujuk Edgar.
"Apa menariknya hingga kau memilih desainer itu untuk memperkenalkan produk baru kita?"
"Desainer dari kota Y sangat misterius tidak mau memperlihatkan wajahnya walaupun dia sudah sangat terkenal dan banyak penggemar, dia selalu tampil menggunakan masker dan rambut palsu untuk menutupi wajahnya." Ucap David kembali menjelaskan.
"Lumayan menarik dan aku sedikit penasaran bagai mana wajahnya? Apakah dia sangat jelek hingga tak mau memperlihatkan wajahnya pada semua orang." Edgar menghela nafasnya perlahan dan mulai berpikir sejenak.
"Baiklah kalau begitu ajukan saja surat kontrak pekerjaan padanya dan ingat jika ada sesuatu yang merugikanku nanti kau harus menanggung semua konsekuensi nya." Edgar mulai merebahkan tubuhnya dan mengusir David begitu saja.
Edgar menatap langit-langit kamar nya melihat gambar istrinya yang tengah tersenyum-senyum padanya. "Aku sudah memasang wajah dimana pun tapi mengapa kau tak pernah hadir walau dalam mimpi sekali pun. Aku sangat merindukanmu Alika datanglah padaku agar aku bisa memperbaiki segala kesalahanku di masa lalu."
***
Di tempat lain. Alika terus menggosok hidungnya yang mulai memerah karena terus bersin-bersin sejak tadi.
"Nona minum ini, sebaiknya anda beristirahat tidak baik terus begadang sampai larut." Ucap Maria asisten sekaligus teman bagi Alika.
"Terima kasih Maria." Alika menerima segelas minuman yang di bawakan Maria untuknya.
__ADS_1
"Sama-sama nona," Maria pun kembali ke kamarnya setelah berpamitan dengan Alika. begitu pun dengan Alika yang mulai merebahkan tubuhnya yang lelah dan mulai memejamkan matanya secara perlahan.
Namun ia kembali terbangun saat melihat bayangan Edgar dalam mimpinya. Alika menghela nafasnya perlahan.
"Mengapa kau selalu hadir dan menghantui diriku belum cukuplah semua rasa sakit yang pernah kau berikan padaku? aku sungguh ingin melupakan mu dan semua pengkhianatan mu padaku, tapi mengapa semakin aku berusaha kau bahkan semakin menarikku dan mengingatkan ku pada sebuah luka lama." Alika mulai terisak menumpahkan segala kesedihan dalamhatinya.
Tanpa ia sadari si kecil Rain yang berada di ambang pintu menatapnya dengan penuh tanya.
"Sebenarnya apa yang bunda sembunyikan dariku dan Raina mengapa bunda sering menangis saat di malam hari dan terlihat baik-baik saja di sing hari?" Rain terus menatap sang bunda memperhatikan nya dari kejauhan.
"Sebaiknya aku segera mencari tahu tentang hal ini, mungkin saja ini berkaitan dengan ayah kami, kata bunda ayah sudah pergi ke surga tapi mengapa bunda tidak pernah mengajakku untuk berkunjung ke makam nya." Dengan langkah perlahan kini Rain pun meninggalkan kamar sang bunda dan berlari ke kamarnya.
Di dalam kamar Rain membuka komputer miliknya dan mencari tahu tentang masa lalu sang bunda. Namun karena Alika bukan dari kalangan menengah atas maka bagai mana pun Rain mencoba ia tak bisa menemukan tentang apapun tentang latar belakang sang bunda.
"Ini sedikit sulit, sepertinya aku harus bertanya pada aunty Sabrina karena hanya dia yang tahu segalanya tentang bunda." Gumam Rain.
Kini bocah kecil itu pun kembali melanjutkan tidurnya sebelum sang bunda mengetahui dirinya tidak tidur dan bermain komputer.
***
"Rain, Raina apa kalian sudah siap nak?" panggil Alika sedikit berteriak dari arah dapur.
"Kami sudah siap bunda." Sahut keduanya dengan serempak.
"Ayo kita sarapan sayang." Ajak Alika pada putra putrinya.
"Selamat pagi nona, selamat pagi twins R." Sapa Maria yang kini datang menghampiri Alika dengan membawa sebuah berkas di tanganya.
"Pagi Maria."
"Selamat pagi juga aunty Maria." Jawab Rain dan Raina serempak.
"Nona kita mendapatkan kontrak pekerjaan untuk peluncuran produk terbaru perusahaan raksasa di kota A apakah anda akan menerimanya?" Tanya Maria.
"Maria sebaiknya kita bahas pekerjaan itu nanti saja sekarang kau duduklah dan kita sarapan bersama."
__ADS_1
"Baik nona, terima kasih." Kini mereka semua pun mulai memakan sarapannya dengan tenang hanya dentingan sendok yang beradu memenuhi ruangan itu.
"Bunda,"
"Ya sayang?" Alika menatap ke arah putranya dengan penuh tanya.
"Bunda kami ingin sekali bertemu dengan aunty Sabrina apakah bunda bisa memanggilnya untuk menemui kami?" Rain menyenggol bahu adiknya memberikan kode agar dia berakting seperti yang susah mereka sepakati.
Namun Rain kesal saat tak mendapat respon apapun dari adiknya yang hanya pokus dengan makananya.
"Ckk... Dasar gadis kecil yang rakus." Gumam Rain membatin menatap sebal ke arah sang adik.
"Kak jangan mengumpat ku begitu aku mendengar apa yang sedang kau katakan padaku." Bisik Raina di samping telinga kakaknya membuat Rain tecengang dengan kemampuan menebak adiknya.
"Apa kau cenayang kecil, kenapa kau bisa tahu apa yang ku katakan tadi."
Raina hanya menjawab pertanyaan dengan mengangkat bahunya acuh.
"Ishh... Aku tidak tahu apakah dia adikku atau bukan terkadang dia sangat menyebalkan dan sulit di tebak." Gumam Rain dengan wajah kesalnya.
"Rain...??" Alika memanggil putranya yang terlihat muram.
"Iya bunda."
"Kenapa sedih? bahkan bunda belum menjawab permintaan mu? Rain dalam hidup kita tidak boleh berputus asa sebelum mencoba nak, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan kita dapatkan di masa depan." Alika sedikit memberikan sebuah wejangan untuk putra kecilnya.
"Rain mengerti bunda."
"Raina juga." Seru Raina dengan mulut penuh makanan.
"Kau ini." Rain menarik pipi bulat adiknya dengan gemas.
Sedangkan Maria dan Alika hanya tersenyum menatap keduanya. Alika pun mengiyakan permintaan putranya dengan Sabrina sahabat baiknya yang selalu menemani nya dalam keadaan apapun.
Rain merasa sangat senang Dengan jawaban sang bunda karena ia berpikir ini adalah jalan yang cukup mudah untuk mengetahui siapa ayah mereka, karena Rain tahu Sabrina adalah orang sangat jujur dan polos sangat mudah di kelabui.
__ADS_1
Bersambung...