
Alika membuka kamar anaknya dan memeriksa mereka yang kini sudah tertidur pulas.
"Maafkan bunda nak, hari ini adalah hari yang sangat panjang untuk kalian berdua." Alika memberikannya sebuah kecupan singkat di pucuk kepala kedua anaknya.
Setelah mendengar pintu kembali tertutup kini Rain pun kembali membuka selimutnya saat melihat jam yang sudah menunjukan angka dua dini hari.
Rain kembali membuka komputer nya dan akan mengirimkan sebuah email kepada Arga, namun Rain merasa bimbang dan ragu untuk mengirimkan pesan itu. Kini ia pun kembali menghapus pesan yang akan di kirimkannya dan lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya.
***
"Gawat nona! Ini sangat darurat sekali." Maria datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Alika yang sedang memasak untuk menyiapkan sarapan si kembar.
"Ada apa Maria?" Alika langsunh mematikan kompornya dan menghampiri Maria yang terlihat sangat begitu cemas.
"Semua kontrak kita akan di batalkan jika dalam dua puluh empat jam anda tidak membuka identitas anda, dan membuat konferensi pers tentang berita miring yang sedang beredar di jagat maya ini." Ucap Maria menjelaskan.
Alika menghela nafasnya perlahan dan mulai berpikir sejenak sebelum melakukan sesuatu karena ini bukan hanya untuk dirinya melainkan masa depan anak-anaknya.
"Apakah aku siap untuk menunjukkan siapa diriku? lalu bagai mana jika semua orang kini beralih mempertanyakan siapa ayah kandung Rain dan Raina." Alika terduduk lemas dan bingung harus berbuat apa di sisi lain ia tidak ingin kehilangan karier yang sudah susah payah ia dapatkan selama ini.
Namun di sisi lain ia pun tidak mungkin mengatakan pada seluruh dunia bahwa Rain dan Raina adalah anak kandung Edgar.
"Tidak! bagai mana jika Edgar mengambilnya dariku?" Alika mulai bergetar dan terlihat begitu panik dan sangat ketakutan.
"Nona apakah anda baik-baik saja?" Maria sedikit menggoyangkan tubuh Alika karena begitu panik melihat reaksi Alika yang tampak begitu syok dan merasa sangat tertekan dengan masalah hidupnya yang penuh dengan lika-liku.
"Nona minumlah." Maria menyodorkan segelas air pada Alika namun Alika menjatuhkan gelas tersebut bersamaan dengan dirinya yang juga jatuh pingsan.
Pyarrrr...
Bughh...
"Bunda...!!"
__ADS_1
"Bunda....!!" Si kembar Rain Raina begitu terkejut dan berlari menghampiri sang bunda yang terjatuh tak sadarkan diri.
"Nona Alika bangunlah." Maria menepuk lembut pipi Alika dan menggosok telapak tangannya yang mulai terasa dingin.
"Bunda... " Rain dan Raina terus menangis memanggil sang bunda berharap bundanya akan baik-baik saja.
Dengan sigap kini Maria pun membawa Alika ke rumah sakit terdekat agar segera mendapatkan perawatan intensif.
Setelah beberapa menit kini Alika pun terbangun dan menatap ruangan dengan bau yang khas.
"Nona anda sudah sadar apaka anda perlu sesuatu?" Maria langsung membrondong banyak pertanyaan pada Alika begitu pun dengan twins R yang langsung memeluk Alika dengan sangat erat.
"Tidak apa-apa bunda baik-baik saja." Alika membalas pelukan kedua anaknya.
"Sampai saat ini aku bersyukur memiliki kereka, aku tidak pernah takut akan hal apapun hanya satu yang ku takutnya dalam hidup ini yaitu saat seseorang akan mengambil mereka dariku, entah benar atau tidak dengan yang aku pikirkan namun kenyataannya aku tidak bisa tanpa mereka." Gumam Alika bermonolog.
"Maria apakah Sabrina sudah datang?" Tanya Alika yang kini mulai menanyakan keberadaan sahabatnya.
"Nona Sabrina akan datang dua hari yang akan datang karena ia masih memiliki jadwal yang padat."
"Nona apa anda yakin akan melakukan hal ini?" Tanya Maria kembali memastikan.
"Ya, aku tidak ingin menghancurkan semua pencapaian ku karena hal ini. " Jawab Alika dengan penuh keyakinan.
"Baiklah kalau begitu saya akan segera menyiapkan segalanya." Maria pun pamit undur diri meninggalkan ibu dan anak yang kini saling menguatkan satu sama lainnya.
***
Di tempat lain. Edgar memutar kursi kerjanya menunggu laporan asisten David untuk terus mengawasi nona Al yang ia pikir sebagai Alika istrinya yang hilang.
"Kemana dia kenapa lama sekali apa sangat sulit sekali untuk melakukan hal seperti ini." Edgar terus bergumam menggerutu bahkan mengumpat asisten pribadinya yang tak kunjung datang.
Edgar benar-benar sudah tidak sabar untuk menunggu kabar terbaiknya hari ini. Setelah menunggu sedikit lebih lama kini David pun kembali dan membuka pintu ruangan big bosnya.
__ADS_1
"David bagai mana? apakah benar dia Alika istriku lalu bagai mana apakah anak kembar itu juga miliku dan apakah dia menyetujui untuk melakukan konferensi pers untuk membuka identitas aslinya?" Edgar langsung membrondong banyak pertanyaan pada David membuat pria berkaca mata itu pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tuan muda,"
"Iya ayo cepat katakan kenapa kau hanya diam saja apaka kau pikir ini waktunya diam aku ini sedang bertanya padamu." Edgar merasa gemas dan tidak sabar karena asisten pribadinya hanya diam mematung seperti orang kebingungan.
"Aishhh... Apakah cinta benar-benar membutakan segalanya? aku bahkan belum sempat bicara tapi dia sudah memotong nya terlebih dahulu dan sekarang dia menyalahkan aku seakan aku ini sangat bodoh sekali." Batin David terus bergumam mengumpat Edgar.
"David?!"
"Iya tuan muda, seperti yang anda pikirkan dia memang nona Alika istri kontrak anda yang hilang enam tahun lalu."
"Dia bukan istri kontrakku tapi dia istriku! kau harus ingat itu David!" Potong Edgar yang merasa tak terima saat asisten pribadinya mengungkit masa lalu.
"Hmmm.. Maaf tuan muda."
"Lanjutkan! apa saja informasi yang sudah kau dapatkan dan bagai mana dengan anak kembar itu?" Edgar masih sangat penasaran dengan keberadaan anak kembar yang bersama istrinya sudah jelas-jelas jika saat itu David mengatakan jika Alika tidak hamil.
Namun mengapa saat setelah enam tahun berlalu mereka di pertemukan kembali dengan kondisi yang berbeda.
"Malam nanti nona Alika akan mengadakan konferensi pers seperti yang kita harapkan tapi saya tidak yakin jika dia akan mengatakan hal yang sejujurnya pada media tentang anak kembar itu."
"Apa maksudmu?" Edgar mengerutkan keningnya merasa sangat bingung dengan ucapan yang David katakan.
"Menurut informasi nona Alika datang ke kota ini dengan kondisi hamil besar dan mereka tidak pernah melihat ada pria mana pun yang dekat dengan nona Alika, karena pribadi nona Alika sangat dingin dan tertutup selama ini ia tinggal hanya bersama seorang wanita dan dua anaknya namun terkadang mereka melihat ada seorang gadis muda lain yang sering mengunjunginya di waktu tertentu." Ujar David menjelaskan panjang kali lebar membuat Edgar mengangguk mengerti.
"Cari dokter yang sudah memeriksa Alika enam tahun lalu aku ingin dia ada saat aku mengintrogasi nya nanti, karena aku tidak akan mendengar apapun lagi tentang kebohongan nya yang sudah menyembunyikan hal sebesar ini dariku."
"Baik tuan muda." Setelah mendapatkan perintah baru kini David pun kembali meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Edgar merasa sangat bahagia karena saat ini ia menemukan keberadaan istrinya dan ia pun merasa sangat bangga bahwa ternyata dirinya sudah menjadi seorang ayah.
"Alika aku berjanji setelah ini aku akan memberikan semua kebahagiaan dan cinta yang aku miliki, dan aku tidak akan pernah membiarkan kau mengeluh atau berpikir untuk lari dan bersembunyi dariku." Edgar tersenyum menatap potret istrinya yang terpajang di meja kerjanya.
__ADS_1
Bersambung....