
Edgar benar-benar merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan pada Alika. Kesalah pahaman dan kebenciannya pada Alika membutakan mata dan hatinya dan dengan sadar dirinya sudah menyakiti dua orang sekaligus dalam hidupnya.
Arga memasuki ruangan itu dengan wajah penuh kebingungan melihat kakaknya yang sudah terlihat sangat begitu bersedih, bahkan kini tatapan tertuju pada barang-barang yang tak asing lagi baginya.
"Ada apa ini kak, kenapa kau memanggilku kemari?" Tanya Arga dengan wajah dingin dan datar tanpa ekspresi. Sebenarnya Arga sangat malas bertemu dengan kakaknya yang sudah merebut Alika dari hidupnya, namun ia lebih memilih untuk diam dan mengalah karena Alika mengatakan jika dirinya hanya mencintai kakaknya.
Dengan sangat terpaksa kini Arga pun menuruti perintah pak Min untuk masuk ke ruangan itu seperti keinginan Alika. Ia ingin tahu apa yang ingin kakak ipar sekaligus mantan kekasihnya itu inginkan setelah ia berhasil menyakiti hatinya begitu dalam
David memberikan selembar kertas yang terlihat rapih pada Arga yang kini mulai terlihat kesal karena sang kakak tak menggubris pertanyaan nya.
Arga membaca surat yang di tulis oleh Alika dan kembali menatap semua barang-barang yang pernah ia berikan selama ini. "Jadi ini alasan selama ini dia tidak pernah memakai semua barang pemberian ku."
Arga menghela nafasnya perlahan dan meminta pak Min untuk membagikan barang tersebut pada semua pelayan wanita di mansion itu.
Kini pandangan Arga tertuju pada sang kakak yang terlihat sangat begitu sedih, namun ia tak berniat sedikit pun untuk bertanya kepada nya dan memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Edgar melirik sekilas pada Arga yang pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun atau meluapkan kemarahan nya seperti yang ia pikirkan beberapa saat lalu.
Kini Edgar pun membaca surat yang ditulis Alika pada Arga.
...~Dear Arga ~ Hubungan kita mungkin sudah berakhir namun aku berharap jika kau tidak membenciku, walau pun kenyataan nya tak seperti yang ku harapkan. Arga tiga tahun sudah kita menjalin hubungan berbagai macam barang selalu kau berikan untukku, kau tahu aku tidak pernah memakai nya karena aku berpikir untuk menggunakan semua yang kau berikan saat aku menikah dengan mu dan mengenalmu lebih dalam, tapi takdir berkata lain. Kita diciptakan dari sisi yang berbeda dan bukan untuk saling melengkapi, aku kembalikan semua nya kembali padamu karena aku tidak pantas untuk memakai semua ini. ~Alika~...
Edgar meremas surat itu. Semua pikirannya tentang keburukan Alika hilang begitu saja karena apa yang ia pikirkan selama ini tentangnya tidak terbukti. Bahkan Alika tidak mengatakan tentang hubungan nya dan Alika bukanlah hubungan seperti yang Arga pikirkan.
__ADS_1
"David cari Alika sekarang juga ketahuan semua pengawal untuk mencarinya aku ingin sebelum dua puluh empat jam istriku sudah ada di mansion ini dengan keadaan baik-baik saja." Titah Edgar yang kini meremas berkas perceraian nya dan merobeknya begitu saja.
"Baik tuan muda." David pun segera berlalu seperti yang di inginkan Edgar dan mencari keberadaan Alika saat ini.
Tak hanya David dan para pengawalnya yang mencari keberadaan Alika saat ini. Tapi Edgar pun turun tangan untuk mencari keberadaan istrinya penyesalan, rasa bersalah dan rasa takut kehilangan pun mulai membelenggu hatinya.
"Alika dimana kau, aku minta maaf atas semua dosa ku padamu." Edgar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tanpa mereka sadari kini mereka pun saling berpapasan, namun karena terlalu pokus menatap jalanan membuat Edgar tak melihat Alika yang sedang berjalan dengan tatapan kosongnya.
Alika terus berjalan sampai di halte bus, ia memutuskan untuk kembali ke desa dan melanjutkan hidupnya jauh dari keluarga Anggasta yang sudah mempermainkan hati dan perasaan nya.
Dalam perjalanan Alika menatap jalanan yang ia lalui dengan deraian air mata yang terus membasahi pipinya.
"Kenapa aku harus menangis demi orang seperti tuan Edgar. Alika sadarlah ini bukan sebuah film yang dimana sang pria akan jatuh cinta pada sang gadis setelah kesalah pahaman mereka berakhir, ini juga bukan novel cinta dimana sang pria menjadi seorang budak cinta pada wanita seperiku."
Alika mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. "Bunda berharap setelah kamu lahir nanti kamu tidak akan pernah menanyakan dimana ayahmu, karena Bunda tidak punya jawaban untuk hal itu." Gumam Alika membatin.
Sepanjang perjalanan Alika terus melamun memikirkan segala sesuatu yang akan menjadi konsekuensi nya do masa depan. Namun kini lamunan panjangnya terhenti saat bus yang ia tumpangi berhenti secara mendadak membuat Alika terkejut dan menjatuhkan barang-barang-barang yang ada di dalam tasnya.
"Ya ampun ada apa ini?"
"Kenapa berhenti mendadak apa bus nya baik-baik saja?"
Para penumpang bus itu pun merasa sangat terganggu dan mulai melakukan aksi protes mereka. Alika selesai mengambil barang-barang miliknya dan kembali duduk dengan tenang menunggu sang sopir kembali melanjutkan perjalanan nya.
__ADS_1
Namun kini Alika melihat David dan beberapa pria bertubuh besar berpakaian serba hitam memperlihatkan fotonya pada sang sopir bus, semua itu terlihat jelas oleh Alika memelalui jendela bus.
"Kenapa mereka mencariku? apa tuan Edgar sudah tahu tentang kehamilan ku dan ingin melenyapkan calon bayiku?" Alika melebarkan matanya.
"Ini tidak boleh di biarkan! mereka tidak boleh menemukan ku." Dengan sedikit terburu-buru Alika membuka kembali tasnya dan memoleskan makeup tebal di seluruh wajahnya.
Kini David dan para pengawalnya pun masuk ke dalam bus untuk memeriksa semua penumpang, mencari keberadaan Alika seperti yang sopir itu katakan jika gadis yang sedang mereka cari ada di dalam bus itu.
David menghampiri Alika yang kini menutupi seluruh tubuhnya dan hanya memperlihatkan mata hitamnya. Jantung Alika berdetak dengan cepat takut jika David akan mencurigainya.
Bugh..
Seorang wanita tua memukul David dengan tongkat miliknya karena merasa sangat kesal saat perjalanan mereka tertunda begitu saja.
"Hei anak muda apa kau tidak tahu perjalanan kamu sangat panjang dan tidak punya banyak waktu untuk melakukan hal yang tidak perlu. Sekarang pergilah dab cari wanita itu di tempat lain!" Tegas sang wanita tua itu yang langsung di iyakan oleh David.
Alika menghela nafasnya perlahan. Ia merasa sangat lega saat melihat Davin sudah pergi menjauh keluar dari bus itu.
"Akan aku pastikan bahwa kalian tidak akan pernah menemukan keberadaan sampai kapan pun." Gumam Alika lirih.
Waktu terus berjalan dengan semestinya, seperti yang Alika harapkan Edgar dan para pengawalnya tak bisa menemukan nya ataupun menjangkau keberadaan nya.
Enam tahun pun berlalu...
__ADS_1
Bersambung...