
"Lebih cepat sedikit, kenapa kau sangat lambat sekali seperti wanita saja!" Kesal Edgar mulai mengumpat asisten pribadinya.
"Tapi tuan ini susah sangat cepat, bersabarlah kita akan segera sampai."
"Kenapa kau selalu membela diri, apakah kau ingin aku memotong bonusmu bulan ini?!" Ancam Edgar yang langsung membuat David menggelengkan kepalanya.
"Kita sudah sampai tuan." Ucap David yang langsung keluar untuk membukakan pintu mobilnya untuk Edgar.
Namun dengan cepat Edgar membuka pintunya sendiri tanpa menunggu David.
Edgar berlari masuk ke dalam kantor sang istri.
"Sayang…." Edgar membuka pintu ruangan istrinya dan terkejut saat melihat ruangan itu terlihat begitu berantakan.
"Apakah kantor ini terkena gempa? Tidak! Pasti ada maling! Sayang… Alika, istriku dimana kamu?" Teriak Edgar mulai merasa cemas saat tidak melihat keberadaan sang istrinya di mana pun.
"David bantu aku mencarinya!"
"Baik tuan. Ckk.. Aku heran dia sudah sangat bucin pada istrinya, tapi mengapa ia masih tidak jujur tentang wanita tidak waras itu, apakah dia tidak tahu jika hal ini bisa saja merugikan dirinya di masa depan." David terus saja bergumam hingga tak melihat ke arahnya berjalan.
Dughhh…
"Aaahhh apa kau tidak punya mata untuk berjalan!" Geram David yang langsung memaki orang yang sudah membuatnya jatuh tersungkur.
Sabrina yang sama-sama terjatuh pun mengusap pinggang nya yang terasa berdenyut karena jatuh dengan sempurna di atas lantai. "Dasar pria tidak waras kau yang salah masih saja menyalahkan orang lain! Ahh.. pinggangku sakit sekali." Keluh Sabrina.
"Kau! Sedang apa kamu disini? apakah kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi?" Tanya Sabrina dengan menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke punggungnya.
"Apa kau pikir aku tidak punya pekerjaan untuk mengikuti dirimu, cihhh… kau terlalu percaya diri sekali." Sinis David yang kini melangkahkan kakinya meninggalkan Sabrina begitu saja.
"Hey mau kemana kamu, apakah begitu caramu sudah membuatku seperti ini lalu pergi begitu saja! Kau pikir hati ini tempat parkir yang bisa kamu kunjungi kapan saja?" Celoteh Sabrina membuat David mengerutkan keningnya.
"Tidak jelas!"
"Tunggu! Aahh… sakit sekali." Sabrina meringis menahan sakit bahkan saat ini ia tak bisa berdiri mengangkat tubuhnya sendiri.
__ADS_1
David mendengus kesal. "Drama apalagi yang sedang gadis itu lakukan saat ini." David memutar bola matanya malas, dengan sangat terpaksa ia pun mengangkat tubuh Sabrina.
"Dimana ruangan mu?"
"Disana," tunjuk Sabrina pada ruangan yang tak jauh darinya.
"Tunggu jangan masuk kesana, jika kau disini pasti bos sombong mu juga ada disini, sudah dipastikan pasti saat ini pria itu ada disana karena Alika juga ada disana."
"Lalu aku harus membawamu kemana? Kau sangat berat sekali." Keluh David yang tak kuat menahan degup jantungnya yang terus berdetak begitu cepat.
Sabrina merasa sangat kesal dengan ucapan yang dilontarkan mantan kekasihnya, dengan gemas Sabrina menarik bibir David. "Jaga mulutmu aku tidak gendut jadi jangan katakan jika aku ini berat! Salahmu sendiri kenapa kau menabrakku."
"Tapi kau memang berat."
"Cihhh… cepat bawa aku ke ruangan itu." Tunjuk Sabrina pada ruangan Maria.
David pun menuruti permintaan Sabrina dan menidurkan tubuh gadis itu di sofa. "Tunggu kau mau kemana?" Tanya Sabrina yang menghentikan langkah kaki David yang akan meninggalkan ruangan itu.
"Aku masih banyak pekerjaan lain kau urus saja dirimu sendiri." Ucap David dengan wajah dingin dan datarnya.
"Tunggu kau harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan! karena ulahmu yang membuatku seperti ini. Jadi,"
"Cepatlah ini sangat sakit sekali." Pinta Sabrina sedikit tidak sabar.
David tertegun menatap lekuk tubuh Sabrina yang begitu menggoda iman. Dengan tangan sedikit bergetar kini David pun mulai memijat pinggang Alika dan sedikit menekannya hingga terdengar suara.
"Terima kasih ini sudah lebih baik." Ucap Sabrina yang langsung membuat David berlari meninggalkan ruangan itu tanpa menjawab perkataannya.
"Hey ada apa dengannya? Dia memang pria aneh." Gumam Sabrina yang tak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan oleh mantan kekasihnya itu.
***
"Sayang…." Panggil Edgar kembali setelah sekian lama Alika mendiamkan nya begitu saja.
"Apakah kau akan menikah dengan wanita itu?" Tanya Alika dengan raut wajah dinginnya terlihat begitu jelas bahwa saat ini ia tengah merasa cemburu.
__ADS_1
"Aku sudah menikah denganmu bukan hanya satu kali tapi dua kali."
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan semuanya dariku Edgar?" Kini Alika menatap wajah tampan suaminya hingga tatapan mereka pun saling bertemu satu sama lainnya.
"Sayang…"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" Alika yang marah kini memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sayang apa kamu cemburu padaku?"
Pertanyaan yang terlontar dari bibir Edgar membuat Alika merasa semakin kesal di buatnya. "Dia itu bodoh atau pura-pura bodoh sudah jelas aku marah padanya karena hal itu, kenapa dia malah bertanya. Harusnya dia mulai membela dirinya dan mengatakan siapa wanita itu sebenarnya padaku barulah saat itu aku akan menentukan masa depan pernikahan ini." Alika yang merasa geram terus menggerutu tidak jelas mengumpat suaminya dalam hati.
"Sayang lihat aku," Edgar menangkup kedua pipi istrinya.
Edgar mengusap pipi istrinya dengan penuh kelembutan. "Tatap mataku dan lihatlah, semua cinta ini hanya untuk dirimu tak ada wanita lain selain dirimu di hatiku."
"Kau bohong," Alika menatap suaminya dengan manik mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Alika merasa terharu mendengar ungkapan cinta dari sang suami namun bukan itu yang ingin Alika dengar saat ini.
"Apa kau tidak akan mengatakan siapa dia? apa hubunganmu dengannya?" Tanpa Alika dengan suara terdekat menahan tangisnya.
"Sayang, baiklah aku akan mengatakan hal yang sejujurnya padamu tapi berjanjilah padaku jangan tinggalkan aku setelah ini." Pinta Edgar memohon pada sang istri.
"Aku tidak mau berjanji apapun sebelum aku tahu apa hubungan kalian."
"Baiklah kalau begitu." Edgar menghela nafas pasrah menatap sang istri dan bersiap untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Dia adalah Martha, anak seorang pembisnis dan seorang model, kami bertemu dua tahun lalu ayahnya ingin hubungan bisnis kami menjadi kuat. Karena itu dia ingin aku menikahinya, saat itu aku masih mencari keberadaanmu dan tentu saja aku menolaknya dan mengatakan jika aku sudah punya istri. Tapi," Edgar menghela nafasnya perlahan dan menatap sang istri yang masih mendengarkan ceritanya.
"Kenapa berhenti ayo lanjutkan." Pinta Alika tidak sabaran.
"Wanita itu tidak terima dan mengancamku akan mencelakaimu, karena itulah sampai saat ini aku tidak berani memperkenalkan mu di publik Karena itu sangat berbahaya, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu sayang. Kau adalah hidupku." Edgar memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat ia merasa sangat takut jika Alika tidak akan percaya padanya.
Prokkk... Prokk.. Prokk...
__ADS_1
Suara tepukan tangan seseorang yang berada di ambang pintu membuat Alika dan Edgar kini melirik ke arah sumber suara.
Bersambung...