Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 18


__ADS_3

Edgar terus melajukan mobilnya tak perduli dengan beberapa pengendara mengumpatnya karena hampir menyebabkan kecelakaan.


"Bunda kenapa Rain merasa mobil di belakang itu terus mengikuti kita." Ucap Rain yang kini melirik ke belakang saat mendengar suara klakson mobil terus berbunyi.


"Tidak mungkin nak, itu hanya perasaan mu saja ini jalan raya dan hal seperti itu bisa saja terjadi." Jawab Alika dengan senyuman manisnya.


"Iya bunda benar lagi pula jalanan ini cukup padat." Gumam Rain lirih.


Edgar memukul kemudinya saat beberapa mobil menghalangi jalannya.


"Damn! Kenapa dia berkendara sangat bodoh sekali." Edgar menggeram kesal mengumpat pemilik mobil yang ada di hadapannya.


Edgar terus membunyikan klakson dan membuat pemilik mobil yang berada di hadapannya merasa tak terima dan turun menghampiri nya mengetuk kaca mobil Edgar dengan penuh kemerahan.


"Cepat turun atau,"


"Atau apa?" Edgar membuka kaca mobil nya membuat pria yang terlihat sedang marah itu pun berubah pucat karena ketakutan.


"Tuan Edgar anda,"


"Singkirkan mobil mu atau aku akan menabraknya hingga hancur?" Tanya Edgar dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Baik tuan." Dengan cepat pria itu pun berlari tergopoh-gopoh meninggalkan Edgar dan menepikan mobilnya.


Sedangkan Edgar merasa sangat kesal karena ia kehilangan jejak istrinya yang entah kemana.


Aaarrghhh…


"Dimana kau Alika…." Edgar berteriak memanggil istrinya dan terus memukul kemudi hingga tangannya terluka.


Di tempat lain. David tengah kebingungan mencari keberadaan Edgar saat ini. "Sebenarnya kemana tuan muda pergi tidak seperti biasanya ia pergi tanpa mengatakan apapun padaku." Gumam David membatin.


David terus berusaha untuk menghubungi Edgar namun pemilik ponsel tidak menjawabnya panggilannya.


Karena merasa khawatir dengan keadaan big bosnya kini David pun melacak lokasi keberadaan Edgar saat ini.

__ADS_1


"Ternyata tuan muda tidak jauh dari tempat ini." Davin memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya dan segera pergi untuk menemui Edgar.


***


"Kakak apa aku sudah terlihat cantik?" Raina memutar tubuhnya menatap penuh kekaguman pada gaun yang ia pakai saat ini.


"Kau sangat cantik walau kau terkadang menjengkelkan." Jawab sang kakak yang juga tengah bersiap untuk pergi ke acara pesta pameran sang bunda.


"Terima kasih kak kau memang kakak yang terbaik." Seru Raina yang kini mencubit pipi gembul Rain dengan gemas.


"Adik jangan lakukan itu padaku, aku bukan anak kecil." Rain menghentikan tingkah konyol adiknya.


"Ishhh... Kak kau sangat konyol kita memang masih kecil lihatlah tinggi kita sama dan umur kita pun sama."


"Tidak aku lebih tua darimu walaupun berbeda beberapa menit saja." Ujar Rain yang kini membuat adiknya merasa sangat kesal.


"Kak kau sangat membosankan!" Raina memanyunkan bibirnya dengan tangan besedekap dada.


"Anak-anak apa kalian sudah selesai?" Tanya Alika yang kini sudah siap dengan gaun yang sama dengan yang di pakai putrinya dan warna yang senada dengan kedua anaknya.


"Baiklah ayo kita berangkat sekarang." Ajak Alika yang kini di ikuti oleh Maria di belakangnya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit kini mereka pun tiba di tempat acara namun sebelum keluar dari dalam mobilnya, Alika menutupi wajahnya menggunakan masker agar tidak ada kamera yang akan memuat gambar dirinya ke media.


Alika keluar dari dalam mobil menampakkan kaki jenjangnya berjalan di atas karpet merah yang terbentang sampai ke dalam gedung. Cahaya lampu kamera pun saling bersahutan menyambut kedatangannya.


Alika terus berjalan dengan sangat anggun di ikuti putra putrinya yang berjalan di samping kanan dan kiri mengapitnya.


Hal itu membuat seorang pria yang berdiri tak jauh darinya menatap Alika penuh kekaguman. "Dia sangat misterius membuatku sangat begitu penasaran dengan wajahnya." Ucap pria tampan yang menampakan senyuman manisnya.


"Cihhh... Apa kau yakin hanya penasaran dengan wajahnya." Sahut pria yang berdiri di sampingnya dengan wajah mengejek.


"Tentu saja bukankah wajah adalah pintu utama untuk masuk, setelah aku melihat wajahnya barulah aku pastikan untuk melakukan hal yang lainnya." Ujar pria itu lagi. Membuat Edgar langsung menatap tajam ke arahnya.


"Sorry bro aku hanya bercanda." Kekeh Axel yang langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat tatapan membunuh Edgar.

__ADS_1


"Anak-anak itu, bukankah mereka anak-anak yang sama yang aku lihat siang tadi?" Gumam Edgar membatin.


Tanpa sadar kini ia pun tersenyum saat melihat interaksi antara kedua twins R yang kini sedang saling berbisik satu sama lain.


"Entah mengapa hatiku merasa sangat tenang dan damai saat melihat mereka." Kini Edgar pun menatap ke arah sang ibu dari kedua anak kembar itu tengah sibuk berbicara dengan wanita yang ada di hadapannya.


"Kenapa aku merasa tidak asing. Tidak! itu hanya perasaan ku saja." Edgar terus bermonolog berperang dalam hatinya.


Malam semakin larut acara pun semakin meriah kini tibalah Alika memamerkan hasil karya nya sebuah tas berwarna merah muda dengan taburan kristal, membuat kesan mewah dan elegan semua para penonton dan tamu undangan pun sangat kagum dan tertarik dengan hasil karyanya.


Tak menunggu lama kini Maria pun sangat kesalahan karena menerima notip pesan yang hampir membuat ponselnya laptopnya meledak.


Setelah keputusan juri kini kini tibalah saatnya pemilihan pemenang di antara para desainer yang sudah memamerkan hasil karya nya malam ini.


Alika terlihat lebih tenang di bandingkan yang lainnya walau ia tidak yakin akan menjadi juara namun ia merasa sangat bersyukur jika dia sudah sampai di titik ini.


Bahkan kini Alika tak percaya jika sang pembawa acara meraungkan namanya sebagai pemenang malam ini.


"Nona Al selamat untuk anda." Para desainer senior kini memberikan selamat pada Alika. Sedangkan Alika masih berdiri mematung tak percaya jika malam ini ialah sang pemenangnya.


Kini pandangan Alika tertuju pada putra putrinya yang terlihat sangat senang dan bahagia dengan pencapaian nya.


Alika tersenyum meneteskan air mata kebahagiaan dan meminta putra putrinya untuk mendekat ke arahnya.


Rain dan Raina pun dengan cepat berlalu ke arah sang bunda dan memeluknya dengan sangat erat.


"Selamat bunda, bunda memang hebat." Ucap Raina yang kini mencium pipi kiri Alika.


"Selamat bunda, bunda yang terbaik." Ucap Rain yang mencium pipi kanan Alika.


"Terima kasih sayang, semua ini juga karna kalian, kalian berdua adalah segalanya untuk bunda." Alika tersenyum penuh syukur.


Setelah drama ibu dan anak kini tibalah pemasangan pemberian penghargaan untuk sang juara. Alika terkejut dan ingin berlari sejauh mungkin saat mendengar nama mantan suami kontraknya.


"Kenapa harus dia?" Gumam Alika lirih dengan tatapan terus tertuju pada pria tampan yang berjalan ke arahnya dengan penuh karisma.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2