
Alika menatap pintu ruangan yang kini tertutup rapat kemudian beralih melirik ke arah twins R yang yang masih berdiri tak jauh darinya.
Alika tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang anak, namun Rain dan Raina menghindarinya dan memilih duduk di sofa.
Alika menghentikan langkahnya menatap Rain dan Raina dengan tatapan sendu. "Jangan bersedih Alika, mereka butuh waktu. Wajar saja jika mereka marah padamu karena kau sendiri yang membuatnya seperti ini." Gumam Alika yang mengurungkan niatnya untuk menghampiri kedua anaknya.
Alika kembali memundurkan langkah kakinya berpikir untuk membiarkan kedua anaknya sejenak. "Aku akan memberikan sedikit ruang dan waktu untuk mereka, semoga saja setelah ini rada kesal mereka padaku akan hilang." Batin Alika bergumam dan tersenyum meyakinkan dirinya sendiri.
"Kak, apa kita sudah sangat nakal membuat bunda bersedih?" Bisik Raina di samping telinga kakaknya.
"Kita memang sudah sangat keterlaluan tapi semua ini kita lakukan agar ayah dan bunda kembali bersama seperti yang sudah kita rencanakan. Ingatlah adik jika kita berhasil maka kita akan memiliki keluarga yang utuh seperti teman-teman."
Raina mengerucutkan bibirnya sekilas ia melirik pada Alika yang kini masih berdiri di tempatnya dengan kepala tertunduk kesu.
"Kak aku tidak bisa terus berpura-pura marah lagi pada bunda aku sungguh sangat tidak tega melihat bunda bersedih." Bisik Raina kembali dan bersiap untuk melangkahkan kakinya menghampiri sang bunda.
Namun dengan cepat Rain menarik tangan adiknya dan memintanya untuk tetap duduk dengan tenang.
"Diamlah! bukankah kau sangat ingin pergi berlibur bersama ayah dan bunda seperti yang di ceritakan teman-temanmu? lalu bagai mana jika bunda tahu jika kita sedang berpura-pura marah padanya, sudah di pastikan mimpimu tidak akan pernah menjadi kenyataan, dan lupakan saja jika kita masih punya ayah." Ucap Rain panjang lebar.
"Tidak! jangan! baiklah aku akan menuruti apa yang kau katakan." Raina sangat begitu takut jika mimpi yang sudah ia rangkai runtuh begitu saja karena kecerobohannya.
Setelah menunggu beberapa menit kini Edgar kembali ke dalam ruangan dengan membawakan buket bunga mawar yang cukup besar dan menyerahkannya pada Alika.
Alika hanya menatap buket tersebut tanpa ingin mengambilnya sama sekali, namun kini ia melirik ke arah twins R yang terlihat begitu mengharapkan jika Alika menerima buket tersebut.
Edgar tersenyum dan mulai menekuk sebelah lututnya mulai melamar Alika dengan sangat romantis, hal yang tak ia lakukan saat menikahinya enam tahun lalu.
"Maukah kau menjadi istriku kembali dan membesarkan anak-anak kita." Ucap Edgar penuh harap.
__ADS_1
Alika masih terdiam hanya menatap Edgar dengan penuh keraguan. Tak dapat di pungkiri Alika merasa senang mendapatkan lamaran dari pria yang ia cintai, namun waktu dan tempat membuat Alika kembali tersadar bahwa ia melakukan semua ini bukanlah untuk dirinya sendiri.
"Apakah ini sangat di perlukan?" Tanya Alika yang kini menatap Edgar yang masih diposisi yang sama.
"Tentu saja, bukan begitu anak-anak." Edgar meminta dukungan twins R.
"Bunda, kenapa bunda hanya diam saja ayo cepatlah terima bunga itu." Seru Raina penuh semangat begitu pun dengan Rain.
Sedangkan kakek Wirasena hanya tersenyum menyaksikan drama cinta seperti dalam film yang sering ia tonton bersama kawan-kawan nya saat di luar negeri.
Kini kakek Wirasena pun memberikan kode pada asisten pribadinya dan membisikan sesuatu pada Jex. Sang asisten hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda mengerti apa yang majikannya inginkan.
Alika menatap kedua anaknya dan tersenyum menerima buket tersebut. "Terima kasih."
"Terima kasih, jawaban apa itu?" Edgar sedikit menggoda Alika.
"Anak-anak sudah cukup untuk hari ini ayo sekarang kita pulang besok kita kembali lagi." Alika menuntun tangan Raina untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
"Raina, Rain mengertilah nak. Kakek buyut membutuhkan banyak istirahat jadi tidak baik untuk kita terus berada disini itu akan sangat mengganggu kakek." Alika mulai membujuk kedua anaknya.
"Kami berjanji tidak akan membuat keributan dan menggangu kakek." Ucap Raina yang menolak ajakan sang bunda.
"Ini semua karena kamu tuan arogan! kau sudah merebut mereka dariku." Alika menatap Edgar dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Sayang,"
"Sudah cukup! aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Kau sudah merebut mereka dariku bahkankau juga sudah membuat mereka membenciku."
Rasa kesal, marah dan kecewa kini membut Alika dan Edgar kembali saling berselisih membuat kakek Wirasena dan kedua anaknya menepuk kening mereka masing-masing.
__ADS_1
"Jex, bagaimana apakah semuanya sudah siap?" Tanya sang kakek yang langsung dimjawab anggukan kepala oleh asisten pribadinya.
Kini beberapa orang masuk ke dalam ruangan membuat perdebatan di antara Edgar dan Alika terhenti seketika.
"Ada apa ini? siapa kalian dan kenapa kalian datang berbondong-bondong ini rumah sakit dan bukan tempat bermain sekarang pergilah." Usir Edgar yang langsung di hentikan oleh sang kakek.
"Mereka adalah orang yang akan menikahkan kalian berdua jadi cepat bersiaplah untuk segera melaksanakan ijab qobul." Ucap sang kakek membuat Alika terkejut saat mendengarnya.
"Menikah? di ruangan ini?! oh tuhan mimpi apa aku semalam harus menikah di tempat ini." Aluka memijat pelipisnya yang terasa berdenyut
"Tuan mari kita bersiap untuk sekarang juga." Ajak pria paruh baya itu menuntun Edgar duduk di hadapan sang kakek yang akan menjadi saksi pernikahan kedua mereka.
Walau Alika merasa tidak mungkin untuk melakukan pernikahan di tempat itu namun nyatanya pernikahan itu kini sudah terjadi.
Edgar melantunkan ijab qobul dengan lantang memenuhi ruangan dan di saksikan oleh orang-orang yang merada disana termasuk Arga. Kini Alika pun kembali sah menjadi istri Edgar setelah enam tahun perpisahan mereka.
Semua orang di ruangan itu pun kini tampak bahagia menyaksikan pernikahan mereka yang cukup unik.
***
Setelah drama cinta di dalam ruangan kini beralih pada drama cinta diantara David dan Sabrina. Cinta lama bersemi kembali, itulah kata yang cocok untuk kedua sejoli yang tampak seperti kucing dan tikus saat mereka bertemu.
Sabrina memutar bola matanya malas saat David berusaha untuk menggodanya dan membuatnya kesal.
Sabrina masih bisa menahan semua omong kosong yang David lontaran sejak tadi, ia masih berusaha untuk acuh dan bersikap seolah tak perduli dengan tingkah dan gerak gerik pria yang berdiri tak jauh darinya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, aku tahu aku tampan dan juga pintar dan itu sudah sejak lahir?" Ucap David mulai membuka pembicaraan yang akan membuat Sabrina kini tersenyum mengejek David.
"Cihhh... Percaya diri sekali kamu." Sabrina tersenyum sinis dan lebih memilih untuk kembali ke penginapan meninggalkan David dan sahabatnya. Sabrina tidak ingin mengganggu pengantin baru yang mungkin akan menghabiskan waktu bersama suami dan kedua anak-anaknya.
__ADS_1
Bersambung...