
Tiga jam telah berlalu, Alika memandang jam yang ada di pergelangan tangannya dengan sedikit mencebikan bibirnya.
"Sepertinya tebakan Arga tidak tepat." Gumam Alika yang kini membereskan barang-barangnya bersiap untuk pulang karena hari sudah mulai gelap dan jam kerja pun sudah hampir selesai.
Alika kembali ke mansion sendirian karena ia tidak ingin merepotkan Maria ataupun Sabrina untuk mengantarnya pulang ke mansion Anggasta.
Hujan yang begitu deras di sertai angin dan petir yang cukup kencang membuat Alika berkendara bagaikan sedang uji nyali.
Alika mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena jarak pandang hanya beberapa meter saja, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Aku yakin Rain dan Rain sangat khawatir, aku harus segera sampai dengan cepat." Gumam Alika.
Namun kini tiba-tiba laju mobilnya melambat dan berhenti di tengah badai. " Astaga bagaimana ini, kenapa mobilnya tidak menyala." Aluka mulai panik saat ia berhenti di tempat yang cukup sepi.
"Astaga! haruskah aku terjebak ditengah badai malam ini." Alika mulai menghubungi Maria untuk mengirimkan seseorang untuk membantunya.
Namun ia tidak bisa menggunakan ponselnya karena tak mendapatkan jaringan di tempatnya itu. "Yaampun apakah aku harus menunggu sampai esok hari? tidak! aku tidak mau membuat Rain dan Raina khawatir." Dengan penuh keberanian kini Alika pun keluar dari dalam mobilnya dan melihat apa yang terjadi.
Alika membuka kap mobilnya yang mengeluarkan asap. "Ahhh... Sungguh sial sekali nasibku, aku bahkan tidak tahu cara memperbaikinya."
Alika mulai memutar otak dan berusaha untuk mencoba memperbaiki walau pun hanya menggunakan instingnya saja. "Selesai! sebaiknya aku mencobanya terlebih dahulu." Dengan penuh semangat Alika kembali masuk ke dalam mobilnya mencoba untuk kembali menghidupkan mesin nya.
Namun sayangnya ia gagal, mobilnya tetap mogok. "Huhh bagaimana ini." Alika menggosok telapak tangannya mulai merasa kedinginan kini ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya mencoba menyambungkan kabel demi kabel yang tersusun, akan tetapi ia gagal dan mulai putus asa.
Kini Alika menutupi wajahnya saat sorot lampu mobil seseorang menyilaukan matanya. Suara seorang yang ia kenal pun kini terdengar membuat Alika merasa tenang.
"Ar,"
Bagaikan seorang pahlawan Arga datang dan menghampiri Alika. "Al, kenapa kau disini malam-malam begini dan," Arga memalingkan wajahnya ke arah lain saat melihat baju dalam kakak iparnya tercetak begitu jelas di matanya.
Arga membuka jas miliknya dan meminta Alika memakainya. "Ayo pulang kau bisa sakit nanti." Arga meraih tangan Alika dan membawanya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan mobilku?"
"Kamu tenang saja aku akan menghubungi seseorang untuk membawanya ke bengkel."
Alika menganggukan kepalanya. "Kalau begitu tunggu aku akan mengambil tas ku terlebih dahulu." Alika melepaskan genggaman tangan Arga dan berlari menghampiri mobilnya, dan kembali setelah mengambil barang-barang yang begitu penting bagi nya.
Arga melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dengan kecepatan penuh agar segera sampai di mansion Anggasta dengan cepat, ia merasa khawatir dengan kondisi Alika yang terlihat pacat karena kedinginan.
"Tunggu sebentar lagi kita akan segera sampai." Arga menggengam tangan Alika dengan erat untuk menjaga agar suhu tubuh Alika tetap normal.
Beberapa menit kemudian, kini mobil mereka pun sudah sampai di halaman mansion bersamaan dengan Edgar yang baru saja akan keluar dari mansion untuk mencari keberadaan istrinya.
Arga membatu Alika membuka seatbelt namun hak itu terlihat lain di mata Edgar. dengan tangan terkepal erat Edgar menatap kedua manusia yang ada di dalam mobil itu.
"Apakah kau memang tidak bisa melupakan adikku Al?" Edgar menatap tak suka saat melihat istrinya tersenyum pada pria lain, ia sangat marah dan tidak terima meskipun itu pada adiknya sendiri.
Bahkan kini sorot mata Edgar terlihat memerah tak kuat menahan kemarahan saat melihat sang istri memakai pakaian pria lain.
"Alika!" Sentak Edgar yang kini menghampiri sang istri yang terkejut saat melihatnya.
Edgar tersenyum sinis dan menarik jas yang membungkus tumbuhnya Alika dan melemparkan nya begitu saja.
Dengan spontan Alika pun memeluk tasnya untuk menutupi tubuhnya yang basah kuyup.
Bugh..
Edgar mendaratkan bogem mentah di wajah sang adik untuk meluapkan kemarahannya.
"Edgar! apa yang kamu lakukan." Alika membantu Arga untuk berdiri, hal itu membuat Edgar semakin marah dan langsung menarik tangan Alika dengan sangat kasar.
Tak perduli dengan rintihan kesakitan sang istri Edgar terus menarik tangan Alika masuk kedalam kamar mereka. Dengan sangat kasar Edgar mendorong tubuh Alika di atas ranjang dan mulai mengungkung dan mengunci tubuh istrinya.
__ADS_1
"Edgar hentikan kegilaanmu kau sudah tidak waras!"
"Ya aku tidak waras Alika dan semua itu karenamu! kau tidak pernah mengerti aku Al, sekali saja kau kau lihat aku dan lihat pengorbananku untukmu. Lihat aku Alika! aku suamimu buka bajingan itu."
"Edgar sadarlah Arga adalah adikmu sendiri, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas masa lalu kita?" Alika mencoba meredam kemarahan suaminya. Namun Alika tak bisa berbuat apapun karena saat ini, hatinya sedang di kuasai kemarahan.
Edgar tak mendengarkan kata-kata istrinya. Dengan sangat kasar ia menarik baju sang istri hingga kancing-kancingnya terlepas begitu saja.
"Edgar jangan lakukan apapun saat kamu sedang marah." Alika memalingkan wajahnya saat Edgar akan menciumnya, hak itu membuat Edgar semakin gelap mata dan melakukan apapun yang inginkan untuk menghapus jejak sang adik di tubuh istrinya.
Edgar memasuki istrinya secara paksa dan melakukannya dengan sangat kasar hal itu membuat hati Alika semakin sakit hati dan mulai menumpahkan air matanya kesedihan nya, bahkan saat ini Alika masih memalingkan wajahnya sangat enggan untuk menatap wajah Edgar saat ini.
Reaksi yang di tunjukan Alika membuat Edgar semakin bermain secara kasar hingga membuat Alika jatuh pingsan.
Bersamaan dengan puncak pencapaian Edgar. Setelah mersa sangat puas kini Edgar menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri.
Edgar menatap wajah pucat istrinya dan mulai menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Alika.
"Kau bahkan tertidur dengan sangat pulas, apakah kau tidak percaya pada cintaku Al? selama bertahun-tahun aku mencarimu untuk memperbaiki segalanya, tapi kenapa kau masih saja mengingat masa lalumu dengan bajingan itu, haruskah aku membawamu dan anak-anak kita jauh darinya. Ya! mungkin aku harus melakukan hal itu."
Edgar meraih bantal untuk membuat istrinya merasa nyaman namun tanggannya tak sengaja meraih sesuatu yang tersimpan di bawah bantal.
"Obat apa ini?" Edgar membolak balikan bungkusan pil itu dengan dahi mengerut.
Edgar meraih ponselnya yang tersimpan do atas nakas lalu mengirimkan potret bungkusan pil tersebut pada dokter pribadi keluarganya, ia menanyakan apa fungsi kandungan obat tersebut karena ia sangat ingin tahu mengapa Alika mengkonsumsi obat itu.
"Apakah kau sakit? mengapa kau menyembunyikan hal ini dariku.
TING..
Suara pesan masuk dan betapa terkejutnya Edgar saat mengetahui fungsi obat itu. Edgar meremas bungkusan pil itu dan membuangnya ke sembarang arah.
__ADS_1
Api amarah yang sudah padam kini kembali berkobar bagai disiram bensin. "Alika Maheswari. Bangun dan katakan apa maksudmu melakukan hal ini padaku!" Teriak Edgar membangunkan Alika yang masih memejamkan matanya.
Bersambung...