Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 31


__ADS_3

Beberapa hari kemudian setelah malam pernikahan itu kini Alika terpaksa harus tinggal bersama Edgar di mansion kedua.


Hubungan mereka masih terasa sangat dingin dan monoton, walau pun setiap harinya Edgar selalu berusaha untuk mendekatkan diri, bersikap manis dan romantis layaknya suami idaman.


Namun Alika tidak mudah percaya begitu saja, ia tetap bersikap dingin dan acuh karena tidak ingin terluka untuk yang ke dua kalinya.


Alika masih belum yakin dengan cinta dan ketulusan Edgar namun ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja saat berada di hadapan kedua anaknya.


Sedangkan kakek Wirasena yang sudah sehat dan terlihat baik-baik saja selalu sibuk bermain dengan kedua cucu buyutnya. Ia benar-benar menghabiskan masa tuanya untuk bersenang-senang melakukan apapun hal yang baru setiap harinya.


Rasa sepi yang pernah kakek Wirasena rasakan kini berubah menjadi lebih berwarna setelah kedatangan twins R.


Berbanding terbalik dengan Alika yang kini sering merasa kesepian karena putra-putrinya sudah jarang menemaninya. Tetapi Alika tidak mempermasalahkan hal itu dan lebih memilih untuk menumpahkan rasa sepi itu menjadi sebuah karya terbaiknya.


Ponsel Alika berdering, membuat Alika yang sedang sibuk dengan pekerjaannya kini beralih menatap benda pipih yang tak jauh darinya.


Tuan Arogan Calling...


"Aishhh... Kenapa dia menelfonku mengganggu saja!" Alika tak mempedulikan panggilan dari suaminya dan memili kembali melanjutkan pekerjaannya.


Namun kini bunyi pesan masuk membuat Alika merasa penasaran dan melihat isi pesan tersebut.


[Alika istriku tersayang, mengapa kau tidak menjawab panggilanku apa kau ingin aku pulang sekarang juga untuk menggigit pipimu dan melahap bibirmu yang manis itu??"]


"Ckkk... Dia bukan lagi tuan arogan tapi dia tuan pemaksa!" Alika merasa geram dan mulai meremas udara untuk meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Datang saja! aku tidak perduli. Tapi walaupun kau datang kau tidak akan menemukanku." Alika tersenyum miring melihat ke arah pintu yang sudah ia kunci sebelumnya.


Alika menemukan sebuah ruangan rahasia yang terlihat sangat rapih dan bersih dengan beberapa hiasan juga tertata rapih di sana. Alika mersa tempat itu paling aman dan nyaman saat dirinya berada di mansion sendirian.


Namun siapa sangka ruangan itu adalah ruangan khusus untuk dirinya agar Edgar bisa melihat dan mendengar suara istrinya dimana pun ia berada. Edgar sengaja menuntun sang istri untuk masuk kedalam ruangan yang sudah di lengkapi kamera pengawas dan perekam suara disetiap sudut ruangan itu, agar ia tahu apa saja aktivitas sang istri saat berada di ruangan tersebut.


"Hmmm... Sayang sekali dia selalu saja mengumpatku." Edgar tersenyum melihat aktivitas istrinya dari layar laptop miliknya.


"Aku tidak bisa bekerja jika seperti ini." Edgar mendengar kesal dan memutar kursi kerjanya mulai memikirkan sesuatu agar istrinya merasa senang.


Setelah sekian lama berpikir kini ia pun mematikan laptopnya dan mengambil kunci mobil bersiap untuk meninggalkan kantor.


"Tuan muda, meeting akan segera di mulai anda mau pergi kemana?" Tanya David yang mulai menghentikan langkah kaki Edgar.


"Aku percayalah meeting ini padamu, aku harus pergi karena ada hal yang lebih penting dari meeting ini." Ucap Edgar yang kembali melanjutkan langkah meninggalkan David yang mulai terlihat kesal.


***


Edgar melajukan mobilnya menuju mansion untuk menemui istri dinginnya. "Sayang aku datang, bersiaplah aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti." Edgar terkikik geli saat mengingat kembali ekspresi wajah istrinya saat membaca pesan darinya beberapa saat lalu.


"Akh... Dia sangat menggemaskan membuatku tidak tahan ingin melahapnya." Gumam Edgar yang kini memarkirkan mobilnya.


Edgar berlari masuk ke dalam mansion menuju ruangan istrinya. Tanpa mengetuk Edgar membuka pintu tersebut dengan kunci cadangannya.


"Sayang aku datang." Ucap Edgar yang kini membuat Alika terkejut dan hampir terjatuh dari kursinya.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu aku ada disini?" Tanya Alika dengan bodohnya.


Edgar tersenyum dan berjalan mendekat ke arah istrinya. "Ini rumahku dan kau istriku mana mungkin aku tidak tahu." Edgar merangkul pinggang ramping Alika dan membawanya semakin mendekat ke arahnya hingga tak ada celah sedikit pun di antara mereka berdua.


"Apa yang akan kau lakukan?" Alika sedikit menjauhkan tubuhnya saat Edgar semakin mendekat ke arahnya.


"Kenapa kau selalu menghindariku, aku ini suamimu sayang dan kau harus mendapatkan hukuman untuk hal itu." Edgar tersenyum smirk dan menahan tuhuh Alika agar tidak menjauh darinya.


"Kenapa kau sangat licik dan pemaksa?" Alika menatap detak jantungnya yang semakin bedegup kencang saat wajah mereka kini hanya berjarak dua centi meter.


Hembusan nafas segar Edgar terasa hangat menyapu wajahnya, tak dapat di pungkiri Alika merasa terpesona dengan ketampanan suaminya.


Cintanya pada Edgar semakin dalam ia rasakan setiap harinya, namun rasa takut dan luka masa lalu membuat ia mengeraskan hatinya. Begitu banyak penderita yang Alika alami selama enam tahun terakhir hingga, Alika memilih untuk meminum obat pemenang setiap harinya agar ia bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal.


Alika menutup mata dan memalingkan wajahnya saat Edgar hendak melabuhkan ciumannya. "Aku mohon jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan." Ucap Alika membuat Edgar tersenyum tipis dan perlahan melepaskan rangkulannya.


"Maaf. Aku tahu kata maaf saja tidak bisa mengubah segalanya yang sudah terjadi pada kita dimasa lalu, tapi aku akan berusaha semampuku untuk memperbaiki segalanya. Apakah kau masih belum percaya padaku Alika Maheswari? aku hanya manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, apakah kau benar-benar tidak bisa memberikanku kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya?"


Panjang lebar Edgar mengungkapkan isi hatinya selama ini, namun Alika masih terdiam dan tak melakukan apapun hingga Edgar memilih untuk pergi meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Alika memikirkan kembali kata-katanya.


Alika menatap punggung suaminya yang kini menghilang di balik pintu. Seketika tubuhnya pun tersa lemah dan duduk di lantai mulai terisak menangis sejadi-jadinya.


"Apakah aku terlalu egios? apakah aku salah menjaga hatiku? ya!! aku memang egois aku sangat munafik! aku mencintainya tapi aku juga membencinya aku tidak ingin dekat dengannya tapi hatiku merasa takut jika dia pergi meninggalkanku diriku. Lalu aku harus apa?!" Alika berteriak menumpahkan segala isi hatinya.


Edgar melihat dan mendengar semua keluh kesah istrinya, ada rasa senang dan juga terluka dalam hati Edgar ia merasa sangat menyesal telah memberikan luka yang begitu dalam pada Alika.

__ADS_1


Edgar masih pokus pada layar ponselnya hingga ia tak menyadari dua makhluk kecil yang juga ikut melihat apa yang sedang ia lihat, kini kedua makhluk kecil itu pun menatap ke arah Edgar dengan tatapan tajam.


Bersambung...


__ADS_2