Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 68


__ADS_3

"Alika sayang, aku tidak ingin kau sakit karena hal ini. Ingatlah kau sedang mengandung bayi kita, jadi kau harus hati-hati dalam memakan apapun karena aku tidak ingin terjadi suatu hal yang buruk, aku mohon mengertilah aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan calon bayi kita." Ucap Edgar mengingatkan istrinya.


Namun Alika tidak mau mendengarkan ucapan suaminya ia masih sangat kesal pada Edgar karena sudah membuang mangga miliknya begitu saja.


Alika menatap nanar kepada mangga yang sudah dibuang oleh suaminya dengan sangat kesal Ia pun pergi meninggalkan Edgar yang masih berdiri di ruangan itu.


"Sayang tunggu aku, sayang kamu ke mana? sayang! Alika, Tunggu aku." Edgar terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah sang istri yang kini pergi begitu saja meninggalkannya.


"Ckk... aku sudah menunggu lama untuk menikmati mangga muda itu tapi dia datang dan menghancurkan segalanya, dasar pria menyebalkan! aku sangat kesal sekali." Alika menghentakkan kakinya meluapkan semua kekesalan dalam hatinya.


Alika terus melangkahkan kakinya keluar kantornya tak peduli dengan teriakan suaminya saat ini. "lihat saja nanti aku tidak akan membiarkanmu senang karena sudah membuat aku kesal hari ini." Geram Alika.


***


Setelah beberapa menit berlalu kini Alika pun telah sampai di Mansion kedatangannya disambut hangat oleh kedua anaknya Rain dan Raina.


"Bunda... Bunda," Panggil Raina yang berlari menghampiri sang bunda.


"Bunda, kenapa bunda terlihat sangat lelah sekali? sebaiknya Bunda istirahat saja karena Ayah ada di sini menemani kita Bunda tidak perlu khawatir sama kita Iya kan Kak." Ucap Raina meminta pendapat sang kakak.


Dengan cepat Rain pun langsung menggangukan kepalanya. "Raina benar bunda, bunda tidak boleh terlalu lelah karena kita tidak ingin sesuatu terjadi pada adik bayi." Jawab Rain dengan wajah cerianya.


Kini kedua anak kembar itu pun memeluk sang bunda dengan sangat erat membuat sudut bibir Alika pun terangkat penuh,lengkungan indah pun menghiasi wajah cantiknya.

__ADS_1


Rasa ragu yang sempat Alika rasakan pun kini mulai memudar, ia pun mulai percaya kembali pada suaminya dan mulai menerima kehadiran calon bayinya dengan penuh semangat.


"Kamu beruntung karena memiliki kakak seperti twins R mereka sangat perhatian dan penuh kasih sayang." Gumam Alika membatin.


Kini tangannya pun mulai mengusap perutnya yang masih datar dengan wajah berseri memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.


Dan sepasang tangan besar pun melingkar sempurna di pinggang ramping Alika yang membuatnya sedikit terkejut.


"Terima kasih kamu sudah memberikan hal yang paling indah dalam hidupku sayang, I love you." bisik Edgar di samping telinga istrinya.


Alika tersenyum saat mendengar bisikan suaminya yang begitu mesra di telinganya, ia berharap kisah cinta ini adalah kisah cinta yang abadi dalam hidupnya."Terima kasih aku juga mencintaimu. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik untukku dan ayah yang baik untuk anak-anak kita.


Edgar merasa sangat terharu mendengar ucapan istrinya."Apakah aku tidak salah mendengarnya aku bahkan belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak-anak kita tapi aku berharap aku bisa memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu, aku mohon tolong bantu aku dan Ingatkan aku saat aku salah dan tuntun aku agar bisabmenjadi yang terbaik untuk kalian." Edgar memeluk mengungkapkan segala isi hatinya.


"Terima kasih sayang kau memang yang terbaik, aku tidak salah memilihmu. Maafkan aku jika cinta datang terlambat padamu, Maafkan aku jika sebelum ini kalau mengalami kesulitan karena aku. Aku berjanji setelah ini kau tidak akan mendapat kesulitan apapun dalam hidupmu dan hanya akan ada kebahagiaan diantara kita."


Edgar menggendong kedua anaknya meluapkan segala kebahagiaannya dan mencium kening Alika singkat, ia sangat bersyukur atas nikmat kehidupan yang ia jalani saat ini.


Mereka berkumpul layaknya keluarga bahagia, namun tanpa mereka sadari seseorang melihat keharmonisan rumah tangga mereka dengan tatapan penuh kesedihan.


"Tidak, ini tidak benar! Arga dia sudah bahagia dengan kakakmu, jadi lupakan, dia hanya masa lalumu jangan terus mengingatnya karena kau tidak akan bisa menahan rasa sakit ini sendirian." Perlahan Arga pun meninggalkan ruangan itu dengan hati yang berkecambuk.


Hatinya terus memanggil Alika namun semuanya sudah berakhir, wanita yang ia cintai tidak akan mungkin ia dapatkan kembali dan dia pun harus mengalah berpikir secara dewasa jika Alika tidak berjodoh dengannya dan Alika memang di ciptakan bukan untuknya.

__ADS_1


kakek Wirasena menghentikan langkah Arga dan menepuk pundak cucunya mencoba untuk menguatkannya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


"Kakek tenang saja, aku tidak apa-apa aku baik-baik saja dan aku juga ikut bahagia melihat kakakku bahagia." Ucap Arga dengan senyuman yang dipaksakan.


" Apa kau yakin dengan keputusanmu nak?"


"Tentu saja kek, sejak kapan aku membohongimu?" Jawan Arga dengan mimik wajah yang di buat setenang mungkin.


Kakek Wirasena menghela nafas lega. "Syukurlah Arga jika kau berpikir seperti itu, karena kakak yakin suatu hari kau pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik untukmu." Ujar sang kakek memberikan semangat pada cucunya.


"Hhhh.. Kakek sudahlah untuk saat ini aku belum menginginkan siapapun untuk menjadikannya pasanganku, karena aku hanya ingin menghabiskan masa mudaku sendiri dan penuh kebahagiaan."


"Hmmm... kau benar lalu bagaimana dengan asisten Alika apakah kau tidak menyukainya? dia juga sangat cantik, bahkan tak kalah cantik dari Alika bahkan tutur katanya pun lembut dan halus seperti Alika, apa kau tidak merasa tertarik padanya.?"


"Ckkk... Bagaimana mungkin aku menyukainya, lagi pula dia bukan gadis yang seperti kakek pikirkan dia sangat bar-bar, galak, cerewet dan juga menyebalkan." Ucap Arga menepis pikiran sang kakek yang menilai seorang Maria dan menyamakannya dengan Alika.


"Asal kakek tahu saja Alika jauh lebih baik dari pada si cerewet itu aku baru saja hampir mati karenanya." Arga mengingat kembali kejadian di perkebunan mangga.


Kini ia pun terdiam dan menelan salivanya dengan susah payah saat bayangan bibir Maria yang menempel di bibirnya pun kembali berputar dalam otak dan pikirannya.


Tanpa sadar Arga pun mengusap bibirnya. "Arghh... Beraninya dia mencuri ciuman pertamaku! haruskah aku memberikan hukuman padanya karena dia sudah melecehkan ku?" Pekik Arga dalam hati.


Kini bayangan Maria pun mulai bermunculan dan menari dengan sangat manja di hadapan Arga. "Apa yang sedang kau pikirkan! ayolah berpikir dengan jernih jangan termakan omongan kakek dan untuk gadis tengik itu, sepertinya aku harus memberikan hukuman kecil untuknya. Gumam Arga lirih.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2