Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 36


__ADS_3

Suasana di ruangan itu pun kini berubah jadi dingin mencekam membuat Alika merasa tak seperti memijakan kakinya di bumi.


Alika berusaha melepaskan genggaman tangan adik iparnya namun Arga semakin mengeratkan genggaman itu, membuat mata Edgar yang melihatnya semakin melebar seakan ingin melompat meninggalkan tempatnya.


"Lepaskan tanganmu darinya! atau aku akan memotong tanganmu dan melupakan jika kau adalah adikku." Ucap Edgar memberikan sebuah peringatan pada adiknya.


Namun Arga tak bergeming dan mengacuhkan peringatan sang kakak. Arga tersenyum manis pada Alika bahkan kini ia pun melemparkan kedipan genitnya pada kakak iparnya.


Hal itu membuat Edgar tak suka dan bersiap untuk melayangkan bogem mentah pada sang adik, namun Alika menahannya dengan menggengam erat tangan Edgar walau tanpa melepaskan genggaman tangan Arga.


"Wah... Wahh.. Ini lebih seru dari sebuah drama korea." Sabrina terkikik geli memikirkan jika sahabatnya memiliki dua suami yang sangat begitu posesif.


Tukk...


"Buang pikiran konyolmu itu." David menyentil kening Sabrina dengan sangat kuat membuat gadis itu mengaduh dan mengusap keningnya.


"Ckk.. Kau itu sangat kasar sekali, bersikap lembut saat berhasrat saja." Ucap Sabrina prontal.


David melonggarkan kencing bajunya yang terasa begitu mencekik lehernya saat mendengar perkataan Sabrina yang begitu polos.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" David terlihat sangat begitu gugup dan mulai mengarahkan pandangannya ke arah lain saat Sabrina semakin mendekatkan wajahnya.


"Ishhh.. Apa yang sedang kau pikirkan? mengapa wajahmu terlihat memerah seperti itu?" Sabrina menyipitkan matanya berusaha melihat wajah David.


"Omong kosong!" David menetralkan rasa gugupnya dan pergi meninggalkan Sabrina begitu saja.


"Ckk... Dasar pria aneh." Sabrina memutar bola matanya malas dan menghampiri sahabatnya yang kini tengah berdiri di tengah-tengah kedua pria tampan yang saling melemparkan tatapan mautnya.


"Alika ikut aku sekarang ini penting. Kakek hip-hop semoga cepat sembuh ya aku pergi dulu." Sabrina menarik tangan sahabatnya berlari meninggalkan ruangan itu.


***


Alika dan Sabrina kini berada di sebuah cafe yang tak jauh dari rumah sakit. Nafas mereka masih terengah-engah karena terus berlari seperti seorang penjahat yang kabur dari kejaran polisi.

__ADS_1


"Silahkan nona." Sang pelayan cafe tersenyum ramah meyuguhkan pesanan mereka.


"Terima kasih." Alika membalas senyuman ramah sang pelayan.


Sedangkan Sabrina langsung meneguk minumannya sampai tersisa setengahnya.


"Santai aja bestie." Alika tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sabrina yang tak pernah berubah sedari dulu.


"Ishh... Ini semua juga karena mantan dan suamimu itu! beruntung mereka tidak mengejar kita, jika tidak habislah aku ini di kulit oleh mereka berdua." Cerocos Sabrina yang kini sibuk mengelap keringatnya.


"Hmm... Hidup ini memang penuh dengan kejutan, aku bahkan tidak menyangka akan kembali padanya lagi." Alika menghela nafasnya perlahan.


"Ya kamu benar Al hidup ini penuh kejutan." Sabrina menyangga kedua pipinya dengan bibir mengerucut.


"Bagaimana di kantor apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Alika mulai mengalihkan pembicaraan kearah lain.


"Justru karena hal itu aku datang ke mansion tapi sialnya para penjaga gila itu melarangku masuk dan pria itu datang, Aahhhhh... sangat menyebalkan!!" Sabrina menghentakan kakinya membuat seluruh pengunjung cafe kini melirik ke arahnya.


Alika menahan senyum saat melihat kekesalan sahabatnya karena ia tahu dan melihat bagaimana Sabrina dan David berciuman.


"Ah.. itu, lupakan saja! kita kembali ke pembicaraan kita." Sabrina merasa sangat malu dan berpikir untuk menyembunyikan kebenaran dari sahabatnya.


"Beberapa hari tidak masuk ke kantor semuanya kacau balau aku bahkan tidak bisa tidur dengan baik, aku dan Maria membutuhkan bantuanmu Al hanya kamu yang bisa mengatasi segalanya."


"Baiklah ayo kita selesaikan sekarang juga."


"Siap bos!" Sabrina dengan penuh semangat mengikuti langkah sahabatnya.


"Dia terlihat sangat aneh dan konyol, tapi dia juga sangat menggemaskan." Gumam David yang tersenyum dan terus menatap mantan kekasihnya kini semakin menjauh dari pandangannya.


Ya beberapa saat lalu David melihat Sabrina membawa Alika keluar dari ruangan kakek Wirasena.


Karena penasaran ia pun mengikuti kedua wanita itu sampai di sebuah cafe yang tak jauh dari rumah sakit. Diam-diam David mulai menguping percakapan di antara kedua wanita itu, namun ia merasa tak ada yang menarik dengan percakapan mereka.

__ADS_1


"Aku pikir mereka akan bergosip atau saling mencurahkan isi hati masing-masing dan saling bertukar pendapat, tapi ternyata tidak. Ishh... " David mendesis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan memilih untuk kembali ke rumah sakit untuk menemui Edgar.


***


Di rumah sakit. Kedua pria bersaudara itu masih melemparkan tatapan tajam dan saling mengibarkan bendera peperangan.


Tak ada yang mau mengalah di antara mereka berdua, membuat kakek Wirasena merasa kebingungan tak tahu harus melakukan apa untuk membuat kedua cucunya kembali akur.


"Apa kalian berdua akan terus seperti ini? ingatlah umur kalian sudah tak muda lagi, kalian sudah tak seperti Rain dan Raina." Ucap sang kakek mulai membuka suara setelah sekian lama terdiam.


"Itu bukan salahku kek tapi salahnya sendiri." Sahut Arga yang menatap Edgar dengan tatapan permusuhan.


"Kau yang menggoda istriku tapi kau masih menyalahkan aku?!" Edgar mulai terpancing emosi dengan ucapan sang adik.


"Istri?" Arga tersenyum miring mengejek Edgar.


"Apa kau lupa kak, sebelum jadi istrimu dia adalah kekasihku dan kau yang merebutnya dariku dengan cara kotor mu, kau licik! kau bajingan!"


"Arga..!!" Edgar melayangkan tangannya yang kini tergantung di udara.


"Kenapa berhenti? kau ingin menghajarku? silahkan! lakukan apa yang membuatmu senang kak. Sejak kecil kau selalu mendapatkan apapun yang kau mau. Ibu, ayah bahkan kakek pun lebih perduli padamu kak dan aku? kehadiranku bahkan seakan tak di anggap ada oleh kalian." Arga menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menahan tangisnya.


"Arga?"


"Sudah cukup kek, hentikan semua sandiwara yang seolah sangat begitu perduli padaku! aku bukan pengemis dan aku tidak butuh belas kasihan dari kalian, aku bisa menjalani hidupku sendiri." Arga merasa sangat muak dan lebih memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Namun sebelum ia pergi kini Arga berdiri menatap sang kakak. "Selamat kak, kau selalu menang dan aku yang selalu kalah. Hidupmu sangat beruntung kak, di dunia ini tak ada yang mengerti aku selain nenek tapi sayangnya dia sudah pergi dan kaulah penyebab mereka tiada." Ucap Arga yang sedikit menekan kata-katanya.


Arga tersenyum smik. Kini ia pun meninggalkan Edgar dengan gaya cool nya. Edgar terdiam mematung di tepatnya dengan tatapan kosong.


Perlahan cuplikan kejadian kecelakaan beberapa tahun lalu yang menewaskan nenek dan kedua orang tua pun mulai berputar seperti kaset rusak.


Edgar memegangi kepalanya yang terasa berdenyut dan terus berteriak histeris membuat kakek Wirasena panik dan terus memecet bel untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2