
Maria masuk ke apartemennya dan hati yang sedikit kesal karena. "Untung saja tidak terjadi, jika tidak penyamaranku selama ini akan terbongkar sia-sia dan keluargaku pasti mengincarku lagi setelah beberapa tahun." Maria mendengus kesal dan menatap pantulan wajah wajahnya di cermin.
Kini Maria pun terngiang pada kisah masa lalu saat-saat dirinya terusir dari keluarganya hanya karena kesalah pahaman yang terjadi diantara dirinya dan tunangannya.
Flasback
"Apa Marla tidak bisa hamil..!!" Teriak seorang pria muda dengan wajah marah dan kecewa menatap ke arah wanita yang sudah memakai gaun pengantin yang begitu cantik melekat di tubuhnya.
"Melly!! maksudmu mengatakan hal rendah serendah itu kepada calon suamiku?" Gadis itu menatap malam kepada saudari kembarnya yang kini tersenyum mengejek melemparkan selembar kertas pada wajahnya.
"Lihat saja kalau tidak percaya."
Gadis yang bernama Marla itupun mengambil dan membaca isi kertas tersebut dengan seksama. Ia pun terbelalak saat dirinya dinyatakan tidak bisa memiliki seorang anak karena penyumbatan pada tuba falopi.
"Ini tidak mungkin!" Marla langsung terduduk lemas mengetahui kebenaran tentang dirinya. Ia benar-benar merasa syok dengan kenyataan pahit itu.
"Aku tidak mungkin menikahimu Marla karena yang aku inginkan dalam pernikahan ini adalah seorang anak, seorang putra untuk penerus keluarga kami tapi jika kamu tidak bisa memberikannya padaku. Maka pernikahan ini kan aku batalkan sekarang juga! dan, sebagai gantinya untuk menutupi aib keluargaku aku akan menikahi Melly saudarimu.
Deghh...
Bagai tersambar petir di siang bolong marla merasa sakit hati mendengar keputusan calon suaminya. Bahkan di depan matanya, kini ia menyaksikan pernikahan antara saudari kembarnya bersama dengan calon suaminya bersanding di altar pernikahan.
Namun tak ada yang lebih sakit dari itu saat kedua orang tuanya pun sama-sama menyalahkannya bahkan mengatakan hal-hal yang buruk padanya.
Marla berontak, namun tidak ada seorang pun yang mau menolongnya bahkan kedua orang tuanya sekalipun. Mereka mengusirnya mengatakan hal-hal yang kotor pada Marla.
__ADS_1
Marla yang merasa sedih dan sakit hati pun lebih memilih pergi meninggalkan rumahnya. Meninggalkan orang-orang yang dicintainya dan semua kenangan indahnya.
"Kenapa di saat hatiku hancur seperti ini, keluarga pun tak ada memperdulikan perasaanku. Kemana aku harus pergi? bahkan aku tidak membawa apapun dari rumah itu." Marla terus berjalan tanpa arah dan tujuan.
Namun tidak sampai di sana, kini beberapa orang-orang jahat pun mengincarnya dan mencarinya. "Kita harus mencarinya sampai dapat jika tidak Nona tidak akan mengampuni kita."
"Ya, kau benar kita harus mencarinya sampai dapat dan kita harus mendapatkan tanda tangan yang untuk ini." Seorang pria bertubuh tinggi memperlihatkan sebuah dokumen pada temannya.
"Setelah mendapatkannya kita bisa membunuhnya untuk menghilangkan jejak ini." Sambung teman pria bertubuh tegap itu membuat Marla yang sedang sembunyi tak jauh dari mereka sangat begitu ketakutan.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan mereka menang, aku akan kembali setelah aku siap nanti lihat saja memilih kau memang saudariku Tapi hatimu bagaikan iblis yang bisa berubah menjadi malaikat. kau mungkin bisa mengambil calon suamiku dengan mudah tapi aku pastikan kau tidak akan pernah bisa mengambil hakku." Janji seorang Marla.
Flasback End.
Maria mengusap wajahnya dengan lembut kemudian ia menampar dirinya sendiri dengan sangat kencang hingga membuat pipinya memerah karena ulahnya sendiri.
"Pelarianku selama ini sudah cukup saatnya aku membalaskan semuanya dan aku tidak akan membiarkan mereka yang sudah menyakitiku tidur dengan nyaman, sedangkan aku harus berjuang mati-matian sebelum mendapatkan semuanya beruntung telah kalian campakkanku, aku menemukan orang yang baik seperti nona Alika sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan jasa dan kebaikannya untukku."
Dengan sorot mata tajam Marla pun menatap pantulan wajahnya yang kini sudah berubah menjadi Maria.
***
Hari berikutnya Maria memanfaatkan cuti yang diberikan oleh Alika kepada dirinya untuk membalaskan sebuah dendam yang selama ini ia pendam untuk saudari kembarnya.
"Lakukan seperti perintahku jangan takut karena aku ada di belakangmu." Ucap Maria pada seorang gadis muda cantik dan seksi menggoda iman.
__ADS_1
"Beres nona." Gadis seksi itu mengacungkan kedua jempolnya dan mulai bersiap dengan misi yang di berikan Maria.
Sedangkan Maria memperhatikannya dari kejauhan. "Aku tidak menyangka, ternyata pria yang selama ini aku cintai sangat mudah berpindah kelain hati. Beruntung sekali aku tidak tidak jadi menikah dengannya karena pecundang seperti itu tidak cocok untuk dicintai." Gumam Maria dengan santai menyeruput milkshake yang ia pesan.
"Telingaku rasanya sakit sekali mendengar ocehan pria itu yang isinya hanya omong kosong saja." Maria mencopot handsfree yang menempel di telinganya.
Ya Maria menyuruh gadis seksi itu untuk menempelkan alat peredam suara agar ia bisa mendengar apapun yang dikatakan pria yang sudah menghancurkan kehidupannya beberapa tahun lalu.
"Sepertinya ini sudah cukup Kau boleh pergi meninggalkan pria itu sekarang." Titahnya pada sang gadis seksi.
"Misi pertamaku sudah selesai, aku sudah mendapatkan bukti untuk membuat kehancuran baru. Melly aku datang untuk membalaskan semua perbuatanmu di masa lalu dan aku rasa ini belum seberapa, aku ingin melihat ekspresi wajahmu saat tahu bagaimana sikap dan perilaku suami rampasanmu itu, kau pasti akan lebih terkejut dan aku menunggu hari itu tiba." Maria dan senyum menyeringai.
Beberapa rencana untuk membalaskan tentang pun sudah tersusun rapi di dalam otak cerdiknya. Namun tiba-tiba kini seorang pria datang dan duduk begitu saja di hadapannya mengejutkan dirinya.
Maria mendengus kesal saat melihat pria pria tampan yang selalu membuatnya marah dan kesal dalam satu waktu. "Kenapa harus ada dia lagi kenapa dia selalu ada di manapun aku berada aku sangat kesal melihatnya, tapi ini bukan saatnya untuk berdebat." Tanpa bicara apapun kini Maria berdiri dan mengambil tasnya meninggalkan tempat itu.
"Tunggu!!"
Maria menghentikan langkah kakinya dan kembali bebalik menatap pria yang berjalan menghampirinya. "Apa ada sesuatu? jika tidak ada hal yang penting aku harus pergi sekarang, maaf."
"Hmmm... Kamu memang cerdik, tapi sayangnya kamu tidak bisa menyembunyikan identitas aslimu dariku. Marla." Ujar Arga dengan tegas membuat Maria terkejut mendengar ucapannya.
"A-apa maksudmu?" Maria tergagap saat harga dengan lancar mengatakan nama aslinya.
"Kenapa kau terlihat sangat terkejut sekali? ayo ikut sekarang!" Ajak Arga yang marik tangan Maria meninggalkan cafe tersebut.
__ADS_1
"Hei...!! kamu mau membawaku kemana?"
Bersambung..