Alika Cinta Tak Terduga

Alika Cinta Tak Terduga
Bab 25


__ADS_3

Rain menutup mulut adiknya yang sudah membongkar rahasianya. "Lupakan saja Aunty dia terlalu banyak makan jadi selalu asal bicara." Ucap Rain yang langsung membawa adiknya pergi meninggalkan Sabrina yang masih terlihat kebingungan.


"Hey.. Twins kalian mau kemana makanan kalian belum habis." Sabrina sedikit berteriak memanggil kedua anak sahabatnya.


"Kami sudah kenyang aunty." Jawab Rain tanpa menghentikan langkah kakinya.


Sabrina yang masih terlihat kebingungan pun mulai memikirkan kembali pertanyaan yang di ucapkan oleh Raina. "Tuan muda pertama atau tuan muda kedua siapa mereka bagaimana mereka tahu tentang hal ini?" Sabrina terus bergumam penuh tanya.


David yang melihat Sabrina sedikit melamun mikirin sesuatu pun mulai mengeluarkan ide jahilnya. "Apa kau mau tambah ini?" David mengangkat botol sambal di hadapan Sabrina.


Sabrina hanya mengganguk mengiyakan apapun yang David katakan, hingga akhir Sabrina menjerit merasakan lidahnya seperti terbakar karena ulah konyol David.


"Dasar pria tidak waras! apa kau mau membunuhku." Sabrina melebarkan matanya dengan tangan berkacak pinggang di hadapan David yang tengah menertawakan nya.


Byurr..


Sabrina menumpahkan segelas air di kepala David bersamaan dengan Alika yang kini tiba di ruangan itu karena cemas mencari kedua anaknya.


Alika menutup mulutnya yang kini terbuka lebar begitu pun dengan Edgar yang tak percaya dengan pemandangan yang ia lihat, pasalnya selama bekerja dengannya tidak ada siapapun yang berani berbuat onar pada David terlebih jika dia seorang wanita.


David tidak membalas perbuatan Sabrina atau pun membentak namun sebaliknya David tersenyum dan meraih tangan Sabrina agar mendekat ke arahnya.


Alika masih terdiam menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Kemudian matanya pun tertutup oleh tangan besar Edgar dan membawanya ke tempat lain meninggalkanmu dua sejoli yang asyik bermesraan.


Edgar mendorong Alika ke dinding dan mengunci tubuhnya agar Alika tidak berusaha lari lagi darinya.


"Apa yang akan kau lakukan?" Alika menatap wajah tampan Edgar namun ia tidak memberontak seperti yang sudah-sudah.


"Aku ingin mencium mu disini, apa kau akan mengizinkan nya?" Tanya Edgar yang kini mengusap bibir merah istrinya.

__ADS_1


Alika memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku tidak mau dan aku tidak sudi di sentuh oleh mu." Ucap Alika dengan pedasnya membuat hati Edgar mersa sakit dan sedikit tersinggung karena perkataan nya.


Namun Edgar masih bisa memaklumi semua kemarahan dan kebencian Alika terhadapnya karena ia tahu semua ini berawal dari dirinya sendiri, dan seperti kata pepatah apa yang kau tabur itu yang kau tuai.


Edgar tengah memetik buah dari egonya di masa lalu rasa cintanya pada Alika dan penolakan Alika yang secara terang-terangan, membuat Edgar mengerti jika mendapatkan hati dan kepercayaan Alika kembali sangatlah tidak mudah.


"Alika Maheswari, walau bagai mana pun kau berusaha menolakku tapi aku akan tetap berusahalah untuk mendapatkan cintamu kembali dan akan aku pastikan kau akan menjadi satu-satunya milikku. Hanya milik Edgar." Batin Edgar bergumam.


"Apa yang sedang pria ini pikirkan?" Alika menatap Edgar yang kini tengah melamun memikirkan sesuatu.


"Jika yang dia pikirkan akan membuatku kembali padanya maka jangan harap itu akan terjadi. Cihhh... Aku tidak akan pernah terjebak dalam cinta palsunya lagi." Dengan mudah kini Alika pun mendorong tubuh Edgar dan mulai mencari keberadaan putra-putrinya agar bisa segera pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumahnya


Alika terus berjalan dan memanggil nama kedua anaknya setelah ia menghubungi Maria agar segera menjemput mereka di sana.


"Rain, Raina? dimana kalian nak?"


"Dari mana saja kalian, apa kalian berdua baik-baik saja, Raina apa kau baru saja menangis nak?" Alika terlihat begitu cemas dan mengusap air mata putrinya yang hampir mengering.


"Raina tidak apa-apa ma." Jawab gadis kecil itu sambil melirik sekilas pada sang kakak yang tengah menatapnya dengan tajam.


"Baiklah ayo kita pulang sekarang." Ajak alika menuntun kedua anaknya keluar dari mansion kedua.


"Alika, twin tunggu aku." Sabrina sedikit berlari saat melihat sahabatnya memasuki mobil.


"Tuan muda apa anda tidak berniat untuk menghentikan kepergian nona Alika?" Tanya David saat melihat Edgar hanya berdiri menyaksikan kepergian istrinya.


"Dia butuh waktu, aku tidak akan memaksanya untuk tinggal bersamaku saat ini, tapi sedikit demi sedikit aku akan mendekatinya memberikan banyak cinta padanya agar ia percaya bahwa aku sungguh benar-benar mencintainya dan menyesali perbuatanku padanya di masa lalu."


Mendengar penuturan big bosnya David pun mengangguk mengerti kini ia pun tersenyum penuh arti saat melihat Sabrina yang kini melirik ke arahnya sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


***


Setelah tiga puluh menit berkendara kini Alika pun kembali ke tempat penginapan untuk membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk kembali ke kotanya.


Namun ia sedikit merasa aneh saat melihat kedua anaknya tidak mengajukan pertanyaan apapun padanya. Namun karena terburu-buru Alika tak mempermasalahkan hal itu dan berpikir jika Rain dan Raina hanya lelah dan mengantuk.


"Kak apa kau masih marah padaku?" Tanya Raina sedikit berbisik. Namun Rain tetap diam tak menjawab pertanyaan adiknya.


"Kak aku sudah meminta maaf padamu kan, kenapa kau masih marah padaku?" Raina mulai merengek dan menarik tangan sang kakak dan menyimpan di kepalanya agar Rain mengelusnya.


"Kak aku mohon, aku mohon setelah ini aku janji tidak akan membongkar rahasia kita lagi. Janji." Raina mengacungkan jari kelingkingnya berharap sang kakak percaya dan memaafkan nya.


Rain masih tetap diam membisu mengacuhkan adiknya walau sebenarnya ia merasa tidak tega melihatnya, namun inilah caranya agar membuat Raina berpikir dua kali saat membicarakan sesuatu hal yang sudah mereka sepakati.


***


Di mansion kedua. Edgar tengah berjalan mondar mandir saat menunggu kabar dari para pengawalnya yang kini memata-matai Alika.


"Apakah tidak ada kabar terbaru?" Edgar merasa tidak tenang dan terus mengumpat pera pengawalnya.


Sedangkan David yang berdiri tak jauh darinya hanya terdiam dan memperhatikan gerak gerik big bosnya.


"Cinta membuat semua orang menjadi bodoh dan aneh, sepertinya aku memang harus menghindari cinta dan wanita aku tidak ingin seperti tuan Edgar menjadi bodoh karena cinta, itu sangat menggelikan." David mengusap lengannya yang tiba-tiba merinding.


Kini suara keributan pun terdengar riuh memenuhi mansion itu membuat Edgar kini melirik ke arah David yang juga melirik ke arahnya.


"Bencana," Gumam Edgar yang kini berlari dan hampir terjatuh. Edgar keluar dari ruangan itu menuju sumber suara di ikuti oleh David di belakangnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2