Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 10


__ADS_3

Salimah mendadak limbung mendengar ucapan mertuanya. Benarkah apa yang di katakan mertuanya.


Lalu bagaimana keadaan Afnan yang sesungguhnya?


Benarkah ia masih koma seperti yang di ucapkan Sri pada Salimah dulu.


Triya sedikit geram dengan sikap mantan mertua madunya. Dia yang bersusah payah membuat fisik dan mental Salimah agar sehat, harus kembali di terpa masalah saat bertemu dengan Sri.


Mantan mertua Salimah dengan tanpa perasaan pergi meninggalkan Salimah dengan menggandeng Nurma yang di gadang-gadang akan menjadi menantu barunya, setelah berhasil menyakiti hati mantan menantunya lagi.


Triya dan Jendral memang menemui jalan buntu saat mencari keberadaan Afnan.


Tempat kerja Afnan yang masih milik saudaranya seakan menutupi keberadaan ayah satu anak itu.


Jadilah Triya dan Jendral benar-benar tak tau di mana keberadaan Afnan berada.


Yang dia tau dari teman sekantor Afnan, lelaki itu memang koma begitu waktu mereka tau Afnan kecelakaan.


Namun kini tak ada yang tau pasti bagaimana keadaan Afnan sekarang karena keluarga besarnya memindahkan lelaki itu berobat ke luar negeri.


"Kamu yang tenang Sal. Kita tau kalau Afnan masih sakit, itu mah akal-akalan mantan mertua kamu aja. Aku yakin Afnan akan mencari kamu. begitu dia sadar," ucap Triya menangkan.


Triya tak ingin terjadi sesuatu pada kandungan Salimah, sebab usianya yang masih sangat muda rentan sekali keguguran.


Salimah hanya mengangguk. Dia paham kecemasan madu sekaligus sahabatnya ini.


Mereka kembali ke kontrakan Salimah. Tak lupa Triya membelikan Salimah makanan serta camilan karena takut dirinya kelaparan.


"Kamu kalau ngidam apa-apa bilang ya Sal. Jangan sampai anak aku ileran nantinya," canda Triya yang sekali lagi hanya di balas senyuman oleh Salimah.


"Aku mau istirahat ya Sal," ucap Salimah yang sudah tak bisa lagi berpura-pura bahagia.

__ADS_1


"Baiklah, istirahatlah yang banyak kamu jangan terlalu capai."


.


.


Waktu pun berlalu, kini usia kandungan Salimah tengah menginjak usia empat bulan.


Triya berencana mengadakan acara syukuran di kediamannya.


Dirinya berharap anak yang di kandung Salimah akan selalu senantiasa sehat dan dapat lahir dengan normal.


Ternyata ada hal lain yang memang di sembunyikan Triya dari keluarga besarnya. Dia mengatakan jika ia saat ini tengah hamil.


Tentu saja kabar itu membuat kedua keluarga besarnya sangat bahagia, tak terkecuali mertuanya.


Dengan tanpa pemberitahuan, mertua Triya berencana mendatangi kediaman anak dan menantunya untuk memberikan kejutan.


"Mati aku! Mamah beneran mau ke sini? Kenapa enggak entar aja sih nunggu anak Salimah lahir!" keluh Triya.


Jendral mendengus, dia merasa sang istri yang mempersulit hidupnya sendiri dengan mengatakan tengah hamil, tentu saja membuat orang tuanya juga penasaran.


Terlebih lagi ibunya datang ke sana juga ingin mengadakan acara syukuran empat bulanan cucu pertamanya.


Triya mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah. Dia ingin acara itu untuk Salimah sebab Salimah lah yang benar-benar sedang mengandung.


Namun bagaimana jadinya jika syukuran itu di adakan untuknya yang bahkan tidak sedang hamil.


"Aduh gimana ini Mas?" tanya Triya panik.


"Ya udah sih biarin aja acara itu tetap berjalan buat Salimah. Tinggal bilang aja, kalau Salimah juga sama hamil seperti kamu, terus karena kalian sahabatan jadi kalian berencana mengadakan syukuran bareng!"

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah ide terlintas begitu saja di benak Jendral. Padahal tadi dia sempat menggerutu melihat tingkah sang istri yang kebingungan saat orang tuanya akan datang.


"Ah benar juga. Tumben otak kamu tokcer mas," ejek Triya yang di balas gelitikan oleh suaminya.


Triya lantas mendatangi kediaman Salimah untuk memberitahukan rencana mereka.


Dia meminta Salimah mengatakan apa yang sudah dia siapkan jika nanti Salimah bertemu dengan ibu mertua mereka.


Ya, demi mempertahankan mental Salimah agar stabil, Triya belum meminta keduanya untuk berpisah.


Lagi pula Salimah tinggal terpisah dan keduanya dan tak pernah sekali pun mereka bertemu hanya berdua.


Jadi Triya menganggap kalau hubungan mereka masih bisa di kendalikan. Triya berpikir mungkin nanti sekalian Salimah lepas melahirkan saja keduanya baru bercerai.


"Kamu bersikap biasa aja Sal. Bilang aja suamimu lagi keluar kota. Mertuaku baik kok, dia pasti enggak akan nanya macam-macam sama kamu," ucap Triya menenangkan.


"Baiklah Ya, semoga saja ya."


Sebenarnya sempat beberapa kali Salimah merasa minder saat sebagian tetangganya menanyakan suaminya.


Sebab yang mereka tahu dirinya hanya di datangi oleh Triya dan Jendral lalu tak lama dirinya hamil.


Dia ingin meminta pendapat apa yang harus di lakukan olehnya agar bisa membungkam rasa penasaran mereka.


Padahal Salimah juga merasa risi di tanya hal pribadi seperti itu. Ketua Rt di sana juga sudah membantu menjelaskan sebisa mungkin karena tak mungkin beliau mengatakan jika Salimah adalah istri kedua dari Jendral.


Triya melarang tegas orang lain tahu status pernikahan Salimah dan juga suaminya.


Padahal masalah itulah yang membuat Salimah justru tertekan karena ke ingin tahuan para tetangganya.


__ADS_1


__ADS_2