
Evita memilih pulang. Batinnya merancu, dia tak menyangka pikiran menantunya sepicik itu. Dulu dia yang membatalkan perjanjian, seolah anak seperti barang yang bisa di batalkan dan di kembalikan.
Lalu saat kecewa, dia berkata ingin kembali mengambilnya. Terlebih lagi putranya seperti kerbau yang di cucuk hidungnya oleh sang istri yang permintaannya harus selalu di penuhi.
Dia ingat saat Jendral mengantarkannya pulang dari rumah sakit, putranya itu justru berkata sesuatu yang membuatnya sangat kecewa.
"Bu, tolong bujuk Salimah agar kami bisa merawat anaknya," pinta Jendral tak tahu malu.
Evita menatap sengit putranya. Dia benar-benar kecewa. Entah mengapa Jendral berubah seperti ini, dia benar-benar tak mengenali putranya.
Apa semua permintaan istrinya harus di kabulkan meski tak masuk akal sekali pun?
Evita lantas melayangkan tamparan pada putranya, berharap sang putra sadar akan permintaannya yang tak masuk akal.
"Kamu enggak lupa kan sama surat perjanjian yang udah kamu tanda tangani dulu? Apa perlu ibu ingatkan isinya? Jangan serakah!"
"Kamu yang memutuskan membuang anakmu dari Salimah, tanpa memikirkan perasaannya. Kini dengan tak tahu malu ingin mengambilnya lagi?" cecar Evita sengit.
"Bapak juga kecewa sama kamu Jen. Kenapa kamu berpikiran dangkal sekali. Walau pun anak Salimah adalah darah dagingmu. Tapi kamu pernah memilih melepaskannya. Kenapa kamu enggak memikirkan jauh ke depan? Padahal ibu sudah mengingatkan kamu, bahwa apa pun bisa terjadi di kemudian hari?" sela Darmono.
"Kamu adalah putra kami. Dulu bapak masih ingat kamu selalu mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang. Tapi kini? Kami seperti tak mengenalimu lagi Jen," ucap Darmono di akhiri dengan menghela napas berat.
Jendral hanya bisa menunduk, cinta yang besar untuk Tria mungkin membuatnya dungu. Dia bahkan tak pernah menghiraukan ucapan orang tuanya. Dirinya tak bisa melihat Triya sedih.
Evita menarik napas dalam, entah kesalahan seperti apa yang harus Triya lakukan agar bisa membuat putranya sadar jika Triya bukanlah perempuan yang baik.
"Kembalilah, kami akan pulang sendiri," ucap Evita menolak tawaran sang putra yang ingin mengantarnya.
"I-ibu enggak ingin aku bertemu dengan Salimah?" tanya Jendral gugup.
"Kenapa harus melarang kamu? Kalau pun kamu memaksa Salimah, paling lawanmu adalah Alawiyah! Mungkin istrimu itu akan sadar kalau kamu udah mendekam di dalam penjara," jawab Evita ketus.
"Pe-penjara?" beo Jendral.
"Nanti akan ibu minta salinan surat perjanjian kalian. Baca baik-baik, kalau kamu ingin mendekam di penjara silakan saja, kami tak akan pernah menolongmu."
.
.
__ADS_1
Evita tak menceritakan apa pun perihal permintaan gila Triya pada Salimah.
Dia pasrah Seandainya Jendral tetap ingin mengikuti keinginan istrinya, maka putranya itu akan berurusan dengan hukum nantinya.
Kesehatan Darmono juga menurun akibat memikirkan sikap Jendral yang berubah semakin tak punya hati menurutnya.
Mereka memilih kembali ke kota karena Evita tak ingin merepotkan Salimah.
"Ibu sama bapak pulang dulu ya, kalau ada apa-apa kabari ibu. Bulan depan ibu ke sini lagi. Oh iya, seperti permintaan ibu kemarin. Fitria akan kembali ke sini karena minggu depan dia sudah harus bekerja, benarkan Fit?" tanya Evita.
Fitria mengangguk semangat. Dirinya tadi sempat mendatangi tempat kerjanya. Ternyata lumayan jauh juga dari kediaman Salimah.
Ingin meminta Evita membiarkannya mencari kontrakan yang dekat dengan perusahaan tempatnya bekerja, tapi dia tak berani.
Lagi pula dia yakin ibu angkatnya itu pasti tak akan mengizinkan, betapa wanita paruh baya itu terlalu mengkhawatirkan keadaannya seperti dia seorang anak kecil.
"Jangan mepet-mepet datangnya ya Fit. Ingat pesan Al kan? Kalau dia akan membantu kamu mencari pakaian kerja agar kamu lebih percaya diri," ucap Salimah.
Fitria tersenyum, merasa senang karena bisa di terima dengan baik oleh dua orang wanita yang baru saja di kenalnya.
.
.
"Jen, kira-kira si Salimah itu mau ngasih anaknya enggak?" tanya Via yang datang bersama suami serta adik dan iparnya.
"Aku enggak bisa jawab sekarang Vi," elak Jendral yang tak ingin membuat sang istri semakin sedih.
Via yang melihat keengganan di wajah kakak iparnya justru semakin mendesaknya. Dia ingin sekali-kali membuat sang kakak sadar kalau selama ini dia sudah terlalu angkuh dan sombong.
Hanya karena bisa menikah dengan laki-laki kaya dan anak tunggal, Triya selalu merendahkan kehidupan rumah tangganya.
Meski dia selalu berhasil menjawab telak ucapan sang kakak dengan membahas masalah anak, tapi nanti dirinya tetap kena marah sang ibu, sebab ibu mereka sangat takut jika Triya marah dan menghentikan bantuannya.
"Loh kenapa emang? Bukannya itu anak kamu juga? Bukannya dia udah punya anak ya? Sanggup emang ngurus dua anak?" cecar Via.
"Udahlah Vi, kamu tenang aja, mamah yakin Bu Evi pasti sanggup mengabulkan permintaan Triya!"
"Toh dia cucunya juga, mau di asuh Triya atau si Sal- Sal itu sama aja kan? Udah kamu enggak usah ngurusin kehidupan mereka. Urus aja rumah tanggamu sendiri, suami kerja lembur terus tapi enggak pernah punya duit," sindir Tati balik.
__ADS_1
Dendi dan Puji memilih diam, dari pada nanti mereka kena semprot sang ibu yang mengungkit mereka tak pernah memberi jatah padanya.
Sedangkan Wahyu hanya bisa mengeratkan rahangnya karena sindiran mertuanya.
Via yang melihat sang suami menahan marah, lantas mengusap punggungnya. Salahnya yang memancing kemarahan sang ibu dengan mencecar Jendral.
Padahal dia tahu jika Triya adalah anak emas ibunya. Karena Jendral tak pernah absen memberikan mereka jatah bulanan, tak seperti dirinya atau adiknya.
.
.
Sore harinya, Jendral memutuskan untuk menemui orang tuanya. Di samping ingin meminta maaf, dirinya juga berharap bisa bertemu Salimah.
Nahasnya, dia yang tidak pernah mencari tahu tentang kehidupan Salimah setelah mereka bercerai, di buat bingung karena ternyata mantan istrinya itu sudah pindah dari kontrakannya.
Dia lantas menghubungi sang ibu untuk mencari tahu keberadaan mereka.
"Halo Bu? Ibu di mana? Jendral membawakan makanan untuk kalian," bujuk Jendral.
"Kami sudah pulang, maaf tidak memberitahumu, karena ibu tak mau mengganggu kalian," balasan Evita benar-benar seperti tombak yang menusuk jantungnya.
Jendral paham dengan kekecewaan orang tuanya. Dia hanya tak menyangka jika orang tuanya akan semarah ini padanya.
"Ibu benar-benar marah? Maafkan Jendral Bu, apa yang harus Jendral lakukan agar bisa mendapatkan maaf kalian?" rengek Jendral.
"Jauhi Salimah. Ibu yakin Salimah tak akan sekejam itu menutupi kebenaran tentang kamu. Hanya saja kamu tidak boleh memaksa keinginan untuk merawat anak kalian. Cukup temui dia kelak dan berikan kasih sayang dan perhatian sebagai seorang ayah."
"Hidup damailah dengan Triya tanpa merecoki Salimah. Hanya itu permintaan kami. Ibu hanya takut Salimah akan pergi jauh membawa cucu ibu, jika kalian masih mendesaknya," jawab Evita panjang lebar.
Jendral menatap layar ponselnya usai panggilannya di matikan sepihak oleh sang ibu.
Dia teringat bagaimana sedihnya Triya tadi saat mengingat kembali anak mereka. Bahkan ucapan Triya yang di sertai tangisan pilu masih terngiang di telinganya saat memohon agar dirinya bisa membujuk Salimah lagi.
"Maafkan Jendral Bu ..." lirihnya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc