Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 77


__ADS_3

Salimah berangkat kerja dengan lesu. Entah kapan Jendral akan mulai tinggal di rumahnya. Namun jujur saja dia tak akan pernah siap.


Alawiyah yang menjemput sahabatnya merasa heran dengan sikap Salimah pagi ini.


"Kamu kenapa Sal? Pak Darmono kondisinya masih lemah?" tebak Alawiyah yang mengira jika kesedihan sahabatnya karena kondisi mantan mertuanya yang menurun.


"Udah stabil sih," jawab Salimah lemah.


"Terus? Apa ada sesuatu lagi? Kamu berantem sama Fitria?" cecar Alawiyah.


Mereka berhenti di sebuah kafe yang memang buka pagi hari dengan menu kopi dan rotinya.


Alawiyah biasa mengajak ibu hamil itu untuk berbincang jika masih ada waktu luang sebelum masuk jam kantor.


"Ada apa lagi? Oh ayolah Sal, kamu ini lagi hamil, enggak bisa apa tenangin pikiran, masalah si Fitria mau apa udah terserah dia aja sih!"


Salimah menunjuk menu pada pelayan dari pada menjawab ocehan sahabatnya.


"Bukan Fitria, tapi ini tentang mas Jendral sama Afnan Al, aku bingung," jelasnya.


"Jendral? Afnan? Kenapa sama mereka?"


"Pertama, mas Jendral mau minta tolong tinggal sementara di rumah aku—"


"APA?! Gila aja, ngga bisa di biarin, itu rumah kamu loh hak kamu kenapa jadi dia ngerusuh?" pekik Alawiyah emosi.


"Shuuut, tenang dulu ngapa Sal, kamu malu-maluin banget sih!" gerutu Salimah sambil menatap sekeliling dengan panik.


"Ok ... Ok sorry."


"Dia enggak mau ambil rumah itu, Cuma mau tinggal sementara aja. Kamu tau, ternyata kecelakaan itu karena kelalaian Triya jadi Jendral harus mau ganti rugi akibat ulahnya. Dia berencana menjual rumah mereka. Itu juga masih kurang katanya. Makanya dia minta tolong mau tinggal sementara di rumah," jelas Salimah lesu.


"Terus kamu biarin aja gitu? Ckck ... Sal, Sal, enggak bisa gitu juga kali. Masa buat ngontrak aja enggak ada? Aku malah curiga dia punya mungkin punya niat terselubung. Kenapa enggak di tolak aja? Kamu itu gampang banget kasihan dan enggak enakkan jadi gini nih pasti ketemunya sama orang yang enggak tau diri," ejek Alawiyah yang kesal dengan sikap sahabatnya.


"Bukan gitu Al, aku bingung juga nolaknya. Lagian dia juga kasih alasan yang masuk akal, dia mau jadi ayah siaga katanya. Kamu tau sendiri, di rumah perempuan semua, dia mikirin takut-takut kalau aku mau lahiran malam hari."


Alawiyah berpikir, alasan yang di utarakan Jendral memang masuk akal. Namun nalurinya sebagai pengacara mengatakan ada sesuatu yang di harapkan oleh mantan suami sahabatnya itu.

__ADS_1


"Entah kenapa perasaanku bilang kalau mungkin Jendral berencana ngajak rujuk kamu, soalnya mungkin Triya udah enggak ada harapan hidup," ucapnya asal.


Salimah menepuk lengan sang sahabat, "kamu ini sembarangan aja kalau ngomong. Do’ain Triya yang baik-baik bukan malah ngomong yang enggak-enggak," gerutu Salimah.


"Ya kan siapa tau, kalau pun ngajak rujuk juga enggak salah kan? Siapa tau loh ya."


"Terus masalah Afnan apa lagi?"


Salimah lantas menceritakan tentang permintaan Afnan untuk kembali bersama. Alawiyah yang sedang menyesap kopinya bahkan segera menyemburkannya setelah mendengar cerita Salimah.


"Apa? Rujuk?"


Gemas dengan mulut Alawiyah yang selalu saja berteriak, Salimah sampai harus menutup mulut sahabatnya.


"Biasa aja si Al! Kamu ini lebay banget sih! Bikin malu aja."


"Ya maaf, habisnya berita hari ini bikin kepala pening juga. Pantas kamu kelihatan frustrasi."


"Menurut kamu aku harus gimana Al?" tanya Salimah lemah.


"Aku tau Afnan orang baik Sal. Aku juga liat dia masih sangat mencintai kamu. Tapi rumah tangga enggak cukup hanya saling mencintai. Tapi juga ada rasa aman dan nyaman di dalamnya—" jeda Alawiyah.


"Kamu tau sendiri, sebesar apa pun cinta kalian, penghalang kalian terlalu tinggi. Afnan enggak akan pernah bisa memilih antara kamu atau ibunya, karena kalian bukan pilihan."


"Harusnya kamu dan ibunya Afnan saling berdampingan di sisi Afnan. Tapi nyatanya? Ibu Afnan selalu berusaha menyingkirkan kamu."


"Kamu udah cukup bahagia akhir-akhir ini tanpa gangguan atau tekanan dari ibu mertuamu itu. Apa kamu siap melepaskan semuanya dan kembali hidup dalam ketakutan?" cecar Alawiyah panjang lebar.


Alawiyah sangat tahu sosok seperti apa Afnan itu. Dia lelaki baik dan bertanggung jawab. Dia juga sangat mencintai sahabatnya.


Namun satu yang di sayangkan dari Afnan, yaitu harus lahir dari rahim seorang wanita bernama Sri yang sangat bengis.


Wanita serakah dan juga kejam. Mengatakan sangat mencintai putranya tapi dengan cara yang salah. Begitu menurut pandangan Alawiyah terhadap sosok Sri.


"Mas Afnan bilang dia akan berusaha melindungi kami Al," jawab Salimah sendu.


Bohong jika dia tak merasa bahagia dengan ajakan mantan suaminya yang masih sangat di cintainya itu.

__ADS_1


Namun dia sangat tahu apa yang di ucapkan Alawiyah juga benar adanya. Dia tak boleh menganggap remeh benteng yang di ciptakan ibu mertuanya.


Alawiyah terkekeh mendengar jawaban Salimah. Dia merasa sahabatnya ini kembali bodoh karena bujukan Afnan.


"Melindungi kamu bagaimana? Menyembunyikan kamu dan Rino? Meninggalkan ibunya dan kabur ke luar negeri? Sehingga semua keluarga Afnan akan membenci dia dan kamu juga? Sampai kapan?"


"Pikirkan baik-baik Sal. Cinta boleh, tapi bodoh jangan. Kamu harus tetap waras. Jika enggak bisa bersama sebagai pasangan, kenapa kamu dan Afnan enggak belajar aja jadi orang tua yang baik aja buat Rino?"


"Ingat Sal, Rino yang cucu kandung ibunya si Afnan aja tega dia sakiti apa lagi sekarang kamu hamil anak orang lain. Kamu siap nanggung risikonya?"


“Hidup dalam kecemasan dan ketakutan sepanjang waktu kamu yakin?”


Bahu Salimah merosot. Dia tak menampik apa yang di ucapkan sahabatnya memang benar adanya. Bahkan sejak kemarin benaknya di penuhi pikiran itu tanpa penjelasan Alawiyah sekarang.


Namun terkadang hati kecilnya ingin kembali merajut kasih dengan Afnan. Lelaki yang masih bertakhta di hatinya.


"Apalagi keluarga besar si Afnan itu juga kan banyak yang angkuh juga—" Alawiyah mendesah.


"Makanya aku juga agak ragu buat terima Heri, karena keluarga besarnya yang menyeramkan," ucap Alawiyah tiba-tiba.


Salimah mengerjap tak percaya dengan ucapan sahabatnya. Apa dia tak salah dengar jika dua orang yang selalu saja berseteru tiba-tiba memiliki perasaan? Batinya bertanya-tanya.


"Apa pak Heri mengutarakan perasaannya sama kamu Al?" tanya Salimah dengan senyum terkembang.


Dia sangat tahu Heri menyukai Alawiyah. Hanya saja sang sahabat selalu ketus pada atasan mereka itu, padahal menurut Salimah Heri itu lelaki baik dan keluarganya pun baik.


"Iya. Tapi aku enggak tau mau jawab apa. Jujur aja melihat bagaimana rumah tangga kamu sama Afnan, bikin aku segan buat terima dia."


Salimah menatap sang sahabat sambil menggenggam tangan Alawiyah.


"Pak Heri orang baik Al keluarganya juga baik. Yang harus kamu pikirkan hubunganmu sama pak Hari dan keluarga intinya aja. Urusan keluarga besarnya aku yakin banget pak Heri tau bagaimana cara melindungi kamu," jelas Salimah.


"Benarkah?"


Salimah tersenyum lalu mengangguk. Dia tak menyangka sahabatnya yang selalu ceplas ceplos dan terkenal bar-bar bisa juga di taklukkan oleh lelaki.


__ADS_1


__ADS_2