Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 15


__ADS_3

"Benarkah aku hamil Mas? Lalu bagaimana keadaan anak kita?" tanya Triya semangat.


"Dia dalam keadaan baik, masih sangat kecil. Jadi gimana? Apa kamu mau di satukan dengan Salimah, di ruangan yang sama?" tanya Jendral lagi.


Triya harus segera di pindahkan di ruang rawat inap dan Jendral memutuskan menunggu Triya siuman agar sang istri yang nanti memutuskan.


Triya menggigit bibir bawahnya bingung, tentu saja dia sangat senang mendengar kabar kehamilannya.


Masalahnya kini apa yang harus dia lakukan dengan Salimah? Dia sudah memutuskan untuk menghentikan segala hubungan dengan sahabatnya saat tahu jika dirinya mengandung.


Persetan dengan segala janji yang pernah dia ucapkan, toh Triya merasa jika apa yang dia harapkan sudah di kabulkan sendiri oleh Tuhan.


Oleh sebab itu dia akan mengakhiri perjanjian mereka. Kalau Salimah mau menggugurkan anaknya, Triya berpikir itu terserah pada keputusan sahabatnya kelak.


Menurutnya juga bagus, jadi dirinya dan sang suami bisa fokus pada anak mereka saja.


Wanita itu berpikiran sangat picik sebab dia tak rela membagi apa pun milik anaknya pada anak lain, meski itu dulu adalah idenya.


"Yah, Salimah sama anaknya kan penyakitan. Kalau aku dan anak kita tertular bagaimana? Bukankah seharusnya kita fokus aja sama anak kita?" ucap Triya.


Jendral terkejut dengan pemikiran sang istri. Bagaimana bisa sang istri berubah secepat ini setelah tahu dirinya mengandung.


Cemas tentu saja, tapi Jendral tahu jika Salimah dan anak yang di kandungnya tak memiliki penyakit menular.


Namun dia tak ingin membebani pikiran sang istri di tengah kehamilannya yang masih rawan ini.


Jelas beda antara anak yang di kandung Salimah dengan yang di kandung sang istri.


Anak yang di kandung sang istri adalah benar-benar buah cinta mereka yang sangat di tunggu kehadirannya.


Namun untuk mengabaikan anaknya yang berada di rahim Salimah pun ia tak tega.


Jendral merasa jika Tuhan tengah menguji mereka lagi dengan kehamilan Triya.


Mampukah dia berlaku adil pada kedua anaknya yang masih dalam kandungan dari wanita yang berbeda?

__ADS_1


"Tapi Bun, Salimah juga cuma kelelahan, sama seperti Bunda, kalau kalian bersama—"


"Aku ingin membatalkan perjanjian kita dengan Salimah Yah!" putus Triya tegas.


"Ma-maksudnya Bun?" tanya Jendral tak percaya.


Benar dugaannya, firasatnya mengatakan jika Triya akan mengingkari kerja sama mereka.


Mendadak perasaannya menjadi waswas, entah kenapa dia merasa hal buruk akan terjadi di kemudian hari jika dia menuruti keinginan sang istri saat ini.


"Ayah tau, kondisi ekonomi kita pas-pasan. Anak ini—" Triya mengusap lembut perutnya yang masih datar.


"Bunda yakin memerlukan banyak perhatian kita. Ayah mau kita buang-buang uang untuk anak Salimah yang penyakitan?" ucapnya menohok.


"Tapi dia anak ayah juga Bun," lirih Jendral.


Lelaki itu memang sangat lemah jika berurusan dengan sang istri. Sikapnya tak pernah bisa tegas, meski kadang firasat-firasatnya selalu benar.


"Ayah lebih menginginkan anak dari Salimah dari pada anak yang Bunda kandung?" benar saja Triya tahu betul cara meluluhkan sang suami.


Suaminya akan panik jika melihatnya sedih dan itu adalah cara terakhirnya untuk bisa melakukan apa pun yang ia inginkan.


"Tenang sayang, bukan begitu maksud Ayah. Lalu bagaimana cara kita menyampaikan pada Salimah? Dia pasti akan kecewa dan sakit hati sama kita," ucap Jendral.


"Ayah tenang aja, biar semua jadi urusan bunda," jawab Triya yakin.


.


.


Evita datang bersama dengan Alawiyah dan juga Rino.


Sahabat Salimah itu menepati janjinya untuk menjemput Salimah. Dia begitu terkejut mendengar kabar dari Evita kalau Salimah harus di rawat pagi tadi.


Di perjalanan menuju ruangan Salimah, mereka bertemu dengan Jendral yang habis mengantar sang istri ke ruang rawatnya sendiri.

__ADS_1


"Apa mereka di rawat di ruangan yang sama?" tanya Evita.


Jendral menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan sang ibu, "Triya di rawat di kelas Vip Bu," jawabnya.


"Lalu Salimah ada di mana Jen?" sela Alawiyah.


"Dia di kelas nomor tiga," jawab Jendral datar.


"Astaga Jen, kenapa kamu taruh Salimah di ruang perawatan kelas tiga? Keterlaluan sekali kamu ini, senggaknya kelas dua yang enggak banyak penghuninya!" keluh Evita.


"Aku enggak ada biaya buat bayar perawatan Salimah Bu. Triya sendiri juga membutuhkan biaya perawatan yang cukup besar," jelas Jendral.


Evita menghela napas mendengar jawaban sang putra. Dia memang senang sang putra sangat menyayangi istrinya.


Dia hanya tak menyangka kalau Jendral akan menuruti semua permintaan istrinya.


Ibunda Jendral itu yakin jika usulannya untuk menyatukan keduanya tadi pasti di tolak mentah -mentah oleh sang menantu.


"Ayo kita segera ke ruangan Salimah!" ajak Evita.


Jendral menghentikan langkah sang ibu sebab tak senang dengan ucapan ibu kandungnya.


"Kok ke ruangan Salimah dulu sih Bu! Triya juga di rawat loh," keluh Jendral.


"Ini ibu mau anterin Rino sama Alawiyah dulu, baru ke ruangan Triya, gimana sih kamu!" jelas Evita.


Bukan maksud tidak peduli dengan sang memantu. Namun ucapannya benar jika dia harus mengantar teman dan anak Salimah terlebih dahulu.


"Ibu ikut Jendral aja ke ruangan Triya. Biar saya ke ruangan Salimah bersama Rino," putus Alawiyah.


Dia tak mau sang sahabat akan menjadi pemicu pertengkaran keluarga itu nantinya.


Sebab dia merasa ada yang tak beres dengan tingkah ketiganya dan dia harus tahu hari ini juga, pikirnya.


__ADS_1


__ADS_2