
Pembicaraan mereka terhenti tatkala tiba-tiba Salimah merasakan kontraksi.
Karena terkejut akibat ucapan Fitria, membuat kandungannya tiba-tiba merasa kram.
Semua panik melihat ibu hamil itu yang kesakitan. Hanya Fitria yang masih bergeming tak peduli.
Sri sendiri juga masih syok dengan permintaan wanita di hadapannya.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang Al!" pekik Evita cemas.
Afnan yang tadi sempat mematung segera mendapatkan kembali kesadarannya saat mendengar jeritan para wanita di sana.
Afnan dan Alawiyah memapah tubuh Salimah. Tak mungkin Afnan mengangkat tubuh Salimah karena takut justru membuat keduanya terjatuh.
Salimah merintih kesakitan. Meski sudah pernah melahirkan, tapi rasa sakit itu tetaplah sama.
Namun bedanya, kali ini Salimah berusaha tenang, tidak mengeluh, hanya berusaha menetralkan tarikan napasnya.
Mereka masuk ke mobil Afnan karena mobil itulah yang paling dekat dengan pintu masuk tadi.
Alawiyah duduk di depan, sedangkan Evita berada di belakang bersama Salimah.
Baru saja mereka duduk, Evita baru sadar jika Fitria tidak mengikutinya.
"Al, Fitria mana?" tanyanya panik.
"Astaga! Ya udah kamu ke rumah sakit dulu sama Salimah Nan. Aku nyusul sama Fitria!" pinta Alawiyah lantas segera turun dari mobil Afnan.
Tak banyak bicara, Afnan segera memacu mobilnya menuju rumah sakit yang di inginkan Salimah.
Alawiyah bukannya tak khawatir pada sang sahabat. Namun dia tak bisa membiarkan Fitria seorang diri karena saat ini keadaan gadis itu belum lah bisa di katakan membaik.
Alawiyah kembali ke dalam. Di sana masih ada Daniel dan juga Fitria yang duduk bersama para tersangka.
"Ayo Fit, kita harus ke rumah sakit," ajak Alawiyah.
"Buat apa? Aku mau memastikan sama Bu Sri tentang permintaan aku. Maka dengan senang hati aku akan membebaskan beliau," tolaknya.
"Astaga Fit, otak kamu bener-bener enggak waras ya. Di saat kaya gini malah kamu mikirin hal gila kaya gitu!" gerutu Alawiyah geram.
Fitria menoleh dan menatap tajam sahabat kakak angkatnya itu.
"Kamu enggak tau apa-apa mbak! Kamu enggak ngerasain jadi aku, jadi jangan banyak bicara! Ini bukan urusanmu!" maki Alawiyah berani.
Geram sekali Alawiyah pada Fitria. Selama ini dia berjuang demi membela haknya, lalu dengan mudahnya gadis itu justru ingin melepaskan segalanya hanya demi bisa menikah dengan Afnan.
Tak tahukah wanita itu dengan segala risiko yang di utarakannya maka para tersangka bisa terbebas?
Lalu untuk apa dirinya dan para kuasa hukum bekerja keras demi sebuah keadilan untuknya.
"Bagaimana Bu Sri?" tanya Fitria tak memedulikan sekelilingnya.
.
__ADS_1
.
Di rumah sakit, Salimah tengah di tangani. Dia memang hendak melahirkan tapi baru pembukaan tiga.
Jadi Salimah di biarkan istirahat di ruang rawat inapnya sampai pembukaannya sempurna.
Evita menatap Afnan, dia sekarang tahu siapa lelaki di hadapannya ini.
"Jadi kenapa ibu kamu bisa melakukan hal keji seperti itu Nak Afnan?" tanya Evita tiba-tiba.
Afnan hanya menunduk, dia sendiri tak tahu mengapa sang ibu bisa melakukan kejahatan seperti itu.
"Maafkan saya Bu. Maafkan ibu saya. Saya sendiri tidak tau apa motivasi ibu saya melakukan itu," jawab Afnan lirih.
Evita menarik napas panjang. "Lupakan permintaan Fitria tadi. Maaf ibu enggak bisa melepaskan ibu kamu semudah itu," ucapnya.
Evita kini mengerti ternyata lelaki di hadapannya ini adalah mantan suami dari Salimah dan juga lelaki yang di cintai anak angkatnya.
Kepalanya terasa nyeri memikirkan segala permasalahan pelik ini.
Salimah sendiri tak bisa ikut campur dalam perbincangan keduanya.
Hatinya sendiri mendadak kacau saat mendengar permintaan Fitria yang tak terduga tadi.
Jendral tiba setelah di hubungi sang ibu. Dia merasa ada ketegangan di ruangan Salimah.
Dirinya memang tak bisa hadir di kantor kepolisian sebab ada tugas kantor yang tak bisa dia tinggalkan.
"Bagaimana keadaan kamu Sal?" tanya Jendral mengabaikan ibu dan mantan suami Salimah.
Dia menatap penuh iba saat melihat Salimah menggerang kesakitan, kala wanita itu mengalami kontraksi lagi.
Refleks Jendral mendekat dan mengusap perut Salimah membuat Afnan terbakar cemburu.
Namun dia sadar dirinya juga bukan siapa-siapa bagi Salimah.
Evita dan Jendral saling memberi semangat pada Salimah, sedangkan Afnan memilih keluar dari sana karena tak tahan dengan perasaan cemburunya.
.
.
Di dalam mobil Alawiyah. Pengacara cantik itu masih menahan geram akibat perdebatan mereka tadi.
Fitria sendiri sudah kembali senyum-senyum, mengingat jawaban Sri yang setuju dengan permintaannya.
"Kita mau ke mana Mbak?" tanya Fitria heran. Dia seakan lupa kejadian tadi saat Salimah hendak melahirkan.
"Kita mau ke rumah sakit. Kamu lupa tadi Salimah kan ngalamin kontraksi," jawab Alawiyah ketus.
"Ah iya, pasti ada mas Afnan di sana," ucapnya yang membuat Alawiyah jengkel.
.
__ADS_1
.
Tiga orang di sana menunggu dengan tegang di depan ruang bersalin.
Semua terdiam dan berdoa agar supaya Salimah bisa melahirkan dengan selamat.
Alawiyah dan Fitria mendatangi keduanya dengan tatapan berbeda. Jika Alawiyah terlihat cemas berbeda dengan Fitria yang justru terlihat tak peduli.
Tatapannya hanya tertuju pada sosok lelaki tampan yang akan di milikinya.
"Gimana keadaan Salimah Bu?" tanya Alawiyah.
"Dia baru aja masuk, berdoa aja semoga Salimah dan bayinya selamat," jawab Evita.
Keduanya saling berpegangan tangan. Fitria lantas mendekati Afnan yang berada di paling ujung, menyendiri dengan wajah menunduk.
"Pak Afnan," sapa Fitria.
Afnan menengadah menatap heran pada Fitria. Jika pertama kali dia melihat Fitria merasa iba, kini perasaan itu berubah jadi muak.
"Ada apa?" jawab Afnan dingin.
Fitria tak peduli dengan nada dingin dan datar sang atasan. Yang penting baginya Afnan akan menjadi miliknya.
Meski aku sakit hati dengan kelakuan ibunya. Mungkin ini cara Tuhan menyatukan kita. Batinnya berucap.
"Ibu Sri udah setuju pak. Jadi saya harap bapak bisa segera menikahi saya," ucap Fitria tanpa ragu.
Afnan mendengus dan tersenyum sinis. Alawiyah dan yang lainnya mendengar ucapan Fitria terkejut dan tak percaya.
Bagaimana bisa gadis yang mereka pikir masih membutuhkan bimbingan psikiater terlihat bahagia saat ini.
Saat Evita hendak mendekati sang anak angkat, Alawiyah mencegahnya. Dia menggeleng dan berkata biarkan mereka bicara.
Sebenarnya Alawiyah ingin tahu bagaimana jawaban dan isi hati Afnan.
Jika mantan suami sahabatnya itu setuju dengan permintaan Fitria. Maka dia akan membuat Salimah pergi jauh dari sana.
Jendral sendiri merasa bingung. Saat hendak meminta penjelasan pada sang ibu, Evita berkata jika nanti akan dia jelaskan.
"Kamu memintanya pada Ibuku tanpa tanya padaku? Kamu pikir aku mau?" jawab Afnan datar.
"PAK!" pekik Fitria murka, dia tak terima penolakan Afnan. Hanya ini satu-satunya cara mendapatkan lelaki itu, yaitu dengan menekannya.
"Apa bapak enggak kasihan sama ibu bapak? Bapak tega membiarkan ibu bapak di penjara? Apa susahnya menikah dengan saya pak! Karena saya kotor? Tapi semua kan karena ulah ibu bapak, jadi saya enggak mau tau bapak harus tanggung jawab!" pekik Fitria frustrasi.
"Kamu salah kalau berpikir begitu. Saya kenal betul bagaimana mamah saya Fit. Biarkan dia mempertanggung jawab kan perbuatannya. Untuk kamu, saya hanya bisa meminta maaf yang sebesar-besarnya. Sampai kapan pun saya enggak bisa terima kamu, maaf."
"Enggak bapak jahat! Arrrghhh ...." Fitria memukul-mukul dada Afnan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc