Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 25


__ADS_3

Hari tersenyum saat melihat reaksi karyawannya. "Baiklah Bu Alawiyah, bisa tinggalkan kami? Saya akan memulai wawancaranya," pinta Hari.


Alawiyah lantas memandang sang sahabat, setelah itu dia menepuk bahu Salimah sebelum akhirnya melangkah kan kaki meninggalkan ruangan Hari.


Hari tahu ada sesuatu terjadi pada keluarga sepupunya. Namun dia tetap akan bersikap profesional karena saat ini waktunya jam kerja.


Hari lantas membuka biodata lengkap milik Salimah serta ijazah terakhirnya.


"Kamu pernah bekerja di perkantoran?" tanya Hari santai.


"Iya Pak Hari, tapi waktu itu jabatan saya hanya staf biasa," jawab Salimah yang tahu dia sedang di wawancarai secara profesional.


"Baik. Jadi apa kamu enggak masalah menempati bagian personalia? Khususnya bagian keuangan?" tanya Hari lagi.


"Saya siap Pak," jawab Salimah mantap.


Meskipun dia dulu bekerja di bagian staf biasa. Namun dulu dia pernah magang di bagian personalia saat masih kuliah, makanya dia merasa yakin dengan bagian itu.


"Karena memang jurusan kuliah kamu bagian administrasi jadi kami rasa enggak ada kendala ya Bu Salimah," ujar Hari memanggil Salimah secara profesional.


Salimah mengangguk yakin. Setelahnya Hari memberikan dia dokumen untuk di serahkan pada bagian personalia.


Saat membaca bagian akhir status Salimah, Hari merasa heran karena Salimah di sana menuliskan jika statusnya adalah seorang janda.


Hari lantas menatap Salimah. Bertanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga sepupunya itu.


Dia memang pernah menangkap ke tidak sukaan bibinya terhadap Salimah. Bahkan bisa di bilang, Sri tidak pernah tahu tempat jika ingin menghardik Salimah.


Keluarga yang lain tampak biasa saja mendengar umpatan Sri pada menantunya. Hanya keluarga ayahnya saja yang merasa risi tak bisa berbuat banyak untuk membantunya kala itu.


Bahkan ibunda Hari pernah sempat ingin membantu Salimah karena merasa adik iparnya itu sudah sangat keterlaluan.


Namun di cegah oleh ayahnya, mengingat hubungan mereka yang belum membaik, ayah Hari tak ingin semakin memperkeruh hubungan mereka.


Padahal kata-kata Sri saat itu sangat tak layak di ucapkan oleh seorang wanita.


Yang Hari tarik dari ucapan Sri sepertinya sang bibi merasa malu memiliki menantu seorang anak panti.


Hari memilih tak membahas status Salimah saat ini, sebab dia merasa tidak etis menanyakan keadaan rumah tangga mantan sepupu iparnya.

__ADS_1


"Baiklah, selamat bergabung di perusahaan kami Bu Salimah," ucap Hari berdiri sambil menyalami Salimah.


"Terima kasih banyak Pak Hari," balas Salimah menggerakkan sedikit tangannya lalu segera melepaskan diri.


"Semoga nanti kita bisa berbincang-bincang santai Salimah. Bagaimana pun kamu saudaraku," pinta Hari saat keduanya sampai di pintu.


Napas Salimah tercekat, entah bagaimana dia memberi tahukan tentang kandasnya kehidupan rumah tangganya bersama Afnan.


Jelas Hari sudah tahu statusnya saat ini. Namun Salimah berusaha tersenyum dan mengangguk, dalam hati berharap kalau dia tak akan pernah bertemu lagi dengan Hari dalam keadaan santai.


.


.


Alawiyah yang sedari tadi sibuk mondar mandir di tempat tak jauh dari ruangan HRD segera menghampiri Salimah begitu melihat sang sahabat keluar dari kantor atasannya.


"Kalian berbicara apa aja? Dia enggak nanya-nanya masalah pribadi kamu kan?" tanya Alawiyah Khawatir.


"Pak Hari itu profesional. Kamu emang enggak kerja nunggu aku di sini?" sindir Salimah.


Alawiyah lantas mencebik, "aku harus balik ke kantor firma hukumku, mau konsultasi masalah perusahaan ini sama para senior," jelasnya.


"Ishh, ngga cape apa kamu makasih mulu. Udah yuk aku antar kamu ke bagian personalia, abis itu aku harus pergi soalnya," jawab Alawiyah.


Keduanya lantas ke bagian personalia yang berada satu lantai di bawah mereka.


Alawiyah lantas menyapa kepala bagian personalia yang bernama pak Ishak.


"Pagi pak Ishak ini karyawan baru yang akan membantu bapak di sini," ucap Alawiyah santai.


Lelaki yang usianya sekitar empat puluh tahunan itu lantas menurunkan kaca matanya ke hidung, lalu dia mendengus.


"Kamu ini Al, bisa aja cari pegawai yang bisa membuyarkan konsentrasi para bujang lapuk di sini. Bisa-bisa mereka makin berantakan kerjanya," cibir Ishak.


Alawiyah tertawa terbahak-bahak mendengar gerutuan Ishak, lelaki itu memang terlihat garang tapi sangat santai dan baik orangnya.


"Wih ada yang bening lagi!" sapa salah satu karyawan pria di sana.


Namun mereka kembali bergurau, mengatakan patah hati saat melihat bagian perut Salimah.

__ADS_1


"Elah, giliran ada yang bening udah ada pawangnya!" keluh lelaki tadi.


"Syukur! Gue tawarin Mbak Ela kagak mau Lu!" cibir karyawan wanita berkaca mata lalu bangkit berdiri menghampiri Alawiyah dan Salimah.


"Kenalin aku Okta, selamat bergabung ..." ucap Okta menggantung.


"Saya Salimah Mbak Okta, panggil Imah aja," jawab Salimah langsung.


"Welcome Mbak Imah, semoga betah. Jangan sampai gila di sini ya," sapa lelaki lainnya.


Di ruangan itu terdapat enam kubikel dan satu meja terpisah di mana itu di tempati oleh Ishak sebagai kepala bagian personalia.


Namun saat ini hanya ada lima orang di sana termasuk pak Ishak di sana, jadi Salimah tak tahu apa memang hanya mereka berempat yang bekerja atau ada karyawan lain yang belum hadir.


"Terima kasih, mohon bimbingannya," ucap Salimah begitu acara perkenalan selesai.


Okta lantas memberitahukan meja kerja Salimah, setelah mengantar Salimah, Alawiyah bergegas meninggalkan kantor tempat mereka bekerja.


Di sana ada Okta, Randu, Syamsul dan juga Amar. Okta juga menjelaskan jika ada satu lagi karyawan wanita selain dirinya dan Okta tapi saat ini sedang tidak masuk kerja karena sakit.


Salimah hanya mengangguk saja. Randu lantas mendekati Salimah atas perintah atasannya untuk menjelaskan pekerjaan Salimah.


Salimah yang pada dasarnya sudah paham sedikit bagiannya, merasa cukup mengerti apa tugas-tugas yang di jelaskan oleh Randu.


"Begitulah ya Mbak Imah, kalau ada yang enggak paham bisa tanya ke saya atau yang lainnya, pasti kami akan bantu. Kecuali sama Linda mending mbak abaikan aja dia nanti," jelas Randu.


Salimah hanya tersenyum menanggapi ucapan Randu padanya. Apa mungkin wanita bernama Linda itu sangat menyebalkan bagi lelaki itu atau bagaimana hingga Randu memberi pesan begitu padanya.


"Jangan gibah lu pagi-pagi! Dah kaya emak-emak aja," tegur Syamsul.


"Lah Gue kasih peringatan cuy! Takutnya mbak Imah terkaget-kaget nanti, jadi bisa kan dia bilang amit-amit, lagi hamil bro!"


Salimah terkekeh, dia baru menemukan rekan kerja di bagian personalia sesantai ini. Dulu saat magang semua wajah para karyawan terlihat selalu tegang.


Tanpa sadar Salimah mengusap perutnya, merasa bersyukur bisa bertemu orang-orang baik seperti mereka.


"Jangan di dengerin omongan Randu Mbak Imah. Tapi emang kalau bahas Linda, sabar-sabar aja ya, banyak istigfar kalau kata kalian," ujar Okta yang memang berbeda agama dengan mereka.


Nb : Saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya, ada beberapa bagian cerita author rubah seperti tempat kerja Salimah, semoga bisa di maklumi ya🥰🙏

__ADS_1



__ADS_2