Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 9


__ADS_3

Salimah segera memegang kedua tangan sahabatnya.


"Jangan salah paham, ceraikan aku setelah bayi itu hadir di rahimku. Yang panting saat bayi ini hadir nasabnya tetap milik suamimu," jelas Salimah.


"Bisa kah begitu?" tanya Triya dengan pandangan curiga.


Dia takut selama tiga bulan tinggal bersama jangan-jangan sang sahabat memiliki perasaan pada suaminya.


Meski dia tau interaksi keduanya sangat jarang, tapi siapa yang bisa menebak, jika sahabatnya itu menaruh hati.


"Sungguh Ya, percuma kalau anak ini akan bernasab padaku juga pada akhirnya. Kita enggak tau anak ini laki-laki atau perempuan. Cuma antisipasi aja kalau perempuan, dia bisa menggunakan nama suamimu sebagai bintinya," jelas Salimah.


Sungguh maksud Salimah adalah demi kebaikan keduanya. Namun dia sadar Triya pasti memiliki ketakutan sendiri akan pernikahan keduanya.


"Baiklah, besok aku akan menikahkan kalian tapi hanya secara siri dan sesuai kesepakatan setelah kamu hamil kamu harus langsung cerai ya?"


"Dan satu lagi, sepertinya aku akan memindahkanmu ke kontrakan, akan terasa aneh jika ada wanita yang tiba-tiba hamil di rumah ini. Kamu enggak papa kan?"


Salimah mengangguk, begitu lebih baik pikirnya. Lagi pula dia juga tidak nyaman tinggal di satu atap yang sama dengan sahabatnya.


.


.


Lagi, Jendral merasa frustrasi dengan permintaan istrinya. Belum cukup sang istri memintanya menanam benih di rahim wanita lain.


Kini dia juga harus menikahi sahabatnya. Hal gila apa lagi yang harus dia lakukan! Keluh lelaki berperawakan tinggi tegap itu.


"Yang benar aja Bun, harus nikah juga?" kini pasangan suami istri itu tengah membiasakan diri dengan panggilan ayah bunda demi bisa segera menyambut anak yang akan segera hadir di antara mereka.


"Salimah menjelaskan tentang nasab Yah, setelah bunda lihat-lihat you*tube memang benar apa yang dia ucapkan. Please, ini kan demi kita. Ayah enggak perlu memberikan nafkah batin pada Salimah, setelah proses inseminasi buatan berhasil, kalian bisa bercerai."

__ADS_1


Astaga, Jendral benar-benar tak mengerti dengan pemikiran dua wanita itu. Bagaimana bisa keduanya mudah sekali membahas masalah pernikahan dan perceraian.


Seakan tidak ada campur tangan Tuhan di sana. Harusnya Salimah yang terlihat lebih paham agama lebih banyak dari istrinya tak akan berkata semudah itu.


"Terserah kalian saja Bun!" lagi-lagi Jendral memilih pasrah dengan keinginan istrinya.


.


.


Hari yang di nanti pun tiba, Salimah yang berbalut kebaya putih milik Triya duduk beriringan dengan suami sahabatnya Jendral.


Meski kemarin-kemarin Triya sangat yakin dengan keputusannya. Namun saat melihat pemandangan seperti ini, hatinya tetap merasa sakit.


Dia mencoba bertahan, dalam hati berkata jika semua demi masa depannya. Hingga akhirnya dia bisa tersenyum menenangkan sang sahabat yang terlihat tidak enak padanya.


"Kamu yakin Ya?" tanya Salimah.


Pernikahan siri itu hanya di hadiri oleh ketua Rt dan Rw sebagai saksi mereka.


Tak ada acara syukuran atau apa pun, karena Triya meminta ketua Rt dan Rwnya untuk merahasiakan pernikahan itu.


Usai acara akad nikah yang berlangsung singkat, mereka melakukan kegiatan seperti biasa. Bahkan tak ada acara cium tangan atau kening karena Salimah dan Jendral tak ingin menyakiti hati Triya.


Paginya mereka bertiga ke rumah sakit untuk melakukan inseminasi buatan.


Salimah harus menahan rasa sakit saat sebuah alat masuk ke dalam rahimnya.


Air matanya mengalir, dalam hati nama sang suami yang dia sebut. Dia berharap setelah ini dia dapat menemukan kembali suaminya.


Proses inseminasi berjalan lancar, mereka hanya tinggal menunggu hasilnya. Triya dan Jendral pun berharap penuh kalau proses itu akan langsung berhasil.

__ADS_1


Kini Salimah sudah tinggal terpisah dengan Triya dan Jendral. Di sebuah kontrakan tiga petak dia hidup bersama sang putra.


Bahkan Triya menyekolahkan Rino di sebuah taman kanak-kanak tak jauh dari kontrakan mereka.


Kabar yang mereka tunggu akhirnya datang, dua minggu usai inseminasi Salimah mengabarkan kalau dia sudah berhasil hamil. Terlihat dari hasil tespecknya yang menunjukkan garis dua.


Tentu saja kabar itu di sambut bahagia oleh pasangan yang sudah lama mengidam-idamkan kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya.


"Benarkah Sal? Baiklah, kita harus cek ke Dokter kandungan," ucap Triya semangat.


"Mas ... Mas ayo kita ke Dokter kandungan. Salimah bilang dia positif!" serunya pada sang suami.


"Benarkah? Akhirnya, ayo bersiap!" ajak Jendral yang tak kalah bersemangatnya.


Setibanya mereka di rumah sakit mereka langsung memeriksakan kehamilan Salimah.


Harapan yang mereka tunggu akhirnya terkabul, Salimah memang positif mengandung, inseminasi yang mereka lakukan berhasil.


Saat keluar dari poli kandungan langkah kaki ketiganya terhenti kala Salimah mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Salimah?"


Salimah pun menoleh saat melihat mantan mertuanya datang dengan seorang gadis cantik di sampingnya.


"Mamah?" lirihnya.


Air mata Salimah sudah tak bisa terbendung lagi, dia ingin bertanya lagi tentang keberadaan suaminya pada mantan mertuanya.


"Tolong panggil saya Bu Sri, kita udah enggak ada hubungan apa-apa lagi. Dan kenalkan ini Nurma calon istri Afnan nanti."


__ADS_1


__ADS_2