Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 47


__ADS_3

Afnan sudah sampai di perusahaannya. Dia di sambut Yudis sepupunya yang selama ini menggantikan pekerjaannya.


"Mas Afnan, akhirnya. Aku udah mau nyerah rasanya ngegantiin posisi mas tau!" gerutu lelaki yang usianya hanya terpaut tiga tahun dengan Afnan itu.


Afnan terkekeh mendengar keluhan sang adik sepupu. "Kamu gimana sih, sebentar lagi juga mau gantiin posisi ayah kamu, baru juga gantiin jabatan aku udah uring-uringan," jawab Afnan.


Yudis berdecap sebal, lelaki yang berjiwa bebas itu merasa terkekang bekerja di kantoran.


"Mas tau banget aku orangnya kaya gimana! Asli aku tuh enggak banget di pekerjaan kaya gini. Tapi ayah enggak mau ngerti banget dah. Padahal mending mas Afnan yang gantiin, aku yakin mas pasti bisa majuin perusahaan ini," ucap Yudis yakin.


Afnan menggeleng tak percaya dengan jawaban Yudis. Bagaimana bisa adik sepupunya itu bahkan tak tertarik pada jabatan tertinggi di perusahaan itu sedangkan banyak dari keluarga mereka berharap bisa menempatinya.


Meski Yudis lelaki yang pintar tapi dia tipe orang bosanan, oleh sebab itu dia merasa tidak begitu layak menempati posisi tertinggi di perusahaan keluarga besarnya.


"Kamu sekarang ngomong kaya gitu Dis, tapi nanti? Jangan remehin jabatan ayahmu. Saat nanti ayah kamu udah nyerahin ke orang lain, baru kamu menyadari kalau posisi itu berguna buat kamu," cibir Afnan.


"Oh iya Cindy mana?" tanya Afnan mencari sekretarisnya.


"Astaga aku lupa ngasih tau mas Afnan. Cindy udah resign mas, dia lagi hamil muda. Sering bolak balik rumah sakit, makanya suaminya minta dia berhenti," jelas Yudis.


"Sayang sekali. Padahal Cindy orang yang ulet dan cekatan. Terus siapa yang gantiin posisi dia?"


"Karyawan baru mas. Dia lagi di breafing sama Bu Rumana di ruangannya. Nanti juga ke sini," jelas Yudis.


"Karyawan baru? Haduh ... lama belajarnya dong Dis, enggak bisa apa ambil dari karyawan lama aja?"


"Dia udah kerja dari dua hari yang lalu kok mas. Tenang aja, anaknya pinter, cepat tanggap juga, ya sebelas dua belaslah sama Cindy."


Tak lama obrolan mereka terjeda kala ada suara ketukan di pintu.


Yudis meminta seseorang itu masuk, sebab dia yakin yang mengetuk pintunya adalah Rumana dan sekretaris baru Afnan.


"Pagi Pak Afnan, selamat datang kembali," sapa Rumana yang merupakan seorang HRD di perusahaan Palm Group.


"Pagi Bu Rum, terima kasih," jawab Afnan sambil menjabat tangan Rumana dan juga seorang wanita yang datang bersama dengannya.


"Perkenalkan ini Fitria pak Afnan. Nona Fitria ini yang akan menggantikan tugas Bu Cindy," ujar Rumana memperkenalkan Fitria pada atasannya.


Afnan tak bisa banyak membantah, lagi pula dia masih memerlukan bantuan Yudis di kantor untuk saat ini.

__ADS_1


Dia hanya berusaha sedikit menghindari sang ibu yang selalu memaksanya untuk menikahi Norma.


"Terima kasih Bu Rumana. Baiklah Nona Fitria, silakan kembali bekerja. Saya memang manajer di sini, tapi sementara masih banyak di pegang oleh Pak Yudis," jelas Afnan.


Yudis memicingkan matanya pada Afnan. Sungguh tadi dia sempat bernapas lega saat sang sepupu telah kembali. Namun saat Afnan berkata demikian membuat kelegaannya terasa pupus sudah.


Tanpa banyak kata Fitria kembali ke tempat kerjanya.


Tinggallah Afnan dan Yudis yang kembali uring-uringan.


"Astaga Mas, aku baru aja pesen pesawat mau ke bali! Ini apa-apaan dah," keluhnya.


Afnan menghela napas panjang, lalu duduk di sofa sambil memijat keningnya. Yudis merasa panik seketika, karena melihat sang kakak sepupu seperti kesakitan lagi.


"Mas, mas masih kurang sehat? Maafin aku mas, enggak papa kok aku gantiin kerjaan mas lagi," ucap Yudis cepat.


"Maafin mas Dis, mungkin mas masih akan ngerepotin kamu terus. Sebenarnya mas masih belum bisa bekerja. Mas ke sini cuma menghindari ibu mas aja. Kamu tau sendiri kan gimana tante kamu itu," jawab Afnan sambil terkekeh.


Yudis tertawa, paham dengan maksud kakak sepupunya. "Masih aja tante kekeh jodohin mas sama si Norma?" Afnan hanya mengangguk sebagai balasan.


"Heran sama tante Sri, apa sih yang di lihat dari Norma? Udahlah kalau dandan hedon banget, terus pernah bikin ulah juga di keluarga kita. Kok ya mau-maunya jodohin mas Afnan sama dia," kekeh Yudis.


"Dih, ogah mas, saya punya selera sendiri kali," tolak Yudis lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Sedangkan Afnan memilih membaringkan diri di sofa. Kini Yudis tak mengeluh, sebab dia juga merasa kasihan pada sepupunya itu. Pasti banyak beban yang di pikirkan lelaki itu, hingga membuat tubuhnya belum juga sehat.


.


.


Di sebuah kantor pengadilan, Salimah tengah merasa cemas karena harus menghadapi gugatan dari Jendral.


Mantan suaminya itu ternyata tak jera dengan ingin memperebutkan anaknya.


Alawiyah menatap bengis pasangan suami istri yang duduk di seberangnya bersama pengacara mereka.


Saat hakim memulai persidangan, pengacara Jendral menyerahkan segala permohonan mereka.


Bahkan di sana mereka mempertanyakan ke siapan Salimah sebagai seorang ibu tunggal yang di rasa tak akan mampu menghidupi anak mereka kelak.

__ADS_1


Salimah merasa sakit hati, dulu anaknya di buang begitu saja saat Triya sudah berhasil mengandung, sekarang mereka seperti menjilat ludah sendiri dengan meminta anaknya kembali.


"Keberatan yang mulia," ucap Alawiyah geram.


Hakim lantas mengizinkan Alawiyah mengutarakan keberatannya.


"Klien saya sudah memiliki pekerjaan, jadi saya rasa ucapan pengacara Dirga sangat tidak masuk akal bagi kami," sanggah Alawiyah.


"Apa Bu Salimah seorang pekerja tetap? Tidak bukan? Ibu Alawiyah yakin jika saudari Salimah akan mampu bertahan di pekerjaannya?" jawab Dirga cepat pengacara Jendral itu lantas menatap hakim kembali.


"Klien saya hanya meminta pembagian waktu mengurus anak mereka yang mulia, bukan untuk meminta hak asuhnya, harusnya itu tidak jadi masalah. Toh anak butuh kasih sayang kedua orang tuanya bukan?"


Hakim mengangguk lalu berkata pelan pada para jaksa di sampingnya.


Dirga tersenyum puas, dia yakin bisa memenangkan kasus ini.


"Keberatan yang mulia," ucap Alawiyah lagi.


"Silakan Bu Alawiyah," jawab hakim ketua mengizinkan.


"Saya punya rekaman di mana saudari Triya bahkan sudah menolak anak ini. Jadi saya rasa tak ada yang salah dengan penolakan klien saya."


Alawiyah lantas menunjukkan bukti rekaman juga surat perjanjian mereka. Hakim ketua lantas membaca dengan saksama.


Salimah memang boleh menolak karena bukti yang dia miliki sangat kuat.


"Klien saya tidak mempermasalahkan kalau saudara Jendral ingin menjenguk anaknya, karena bagaimana pun dia adalah ayah biologisnya. Tapi untuk berbagi peran dalam menjaga, klien saya menolaknya," jawab Alawiyah tegas.


Setelah hakim ketua berdiskusi dengan para jaksa, mereka menyimpulkan jika gugatan Jendral tak beralasan. Karena jelas mereka menuntut hak asuh, bukan hanya sekedar keinginan untuk bertemu buah hatinya.


"Menilik dari bukti yang di ajukan oleh tergugat, dengan ini kami menolak gugatan saudara Jendral. Beliau masih di izinkan bertemu oleh saudari tergugat, tapi tidak untuk mengasuh. Jika pada kenyataannya kelak saudari tergugat mengingkari kesepakatan mereka, barulah saudara tergugat bisa kembali melayangkan gugatan," putus hakim ketua.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2