Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 55


__ADS_3

Di kediaman Jendral, anak lelaki Evita itu tengah pusing menghadapi kelakuan istri dan keluarga istrinya.


Mertuanya selalu merongrong dirinya yang kini semakin sedikit memberi mereka bantuan.


"Kamu kenapa berubah seperti ini Jen? Kamu tau sendiri bagaimana kebutuhan hidup mamah dan papahnya Triya kan? Papah kalian itu enggak bisa kalau enggak makan enak, makanya mamah mintalah pengertian kamu," rengek Tati pada menantunya.


Jendral melirik sang istri kesal. Keuangan mereka menjadi kacau karena ambisi Triya dalam merebut anaknya dari Salimah.


Jendral merasa kesal karena merasa sang istri hanya di manfaatkan saja oleh Dirga. Entah apa saja yang sudah mereka lakukan, nyatanya tak ada satu pun yang membuahkan hasil.


Dirinya hanya berharap semoga saja Triya dan Dirga, mantan pengacara mereka tak berbuat sesuatu yang melanggar hukum demi mendapatkan keinginan mereka.


Dirga yang dulu mengatakan tak akan meminta bayaran nyatanya hanya membual saja menurut Jendral. Triya selalu meminta uang padanya acap kali Dirga akan melakukan sesuatu seperti memata-matai kehidupan Salimah.


Triya juga sempat mengamuk kala mengetahui jika Salimah tinggal di sebuah kompleks perumahan yang cukup bagus menurut Triya.


Istrinya itu tak terima dengan kenyataan hidup Salimah yang ternyata berkecukupan.


Flasback.


"Mas! Kamu enggak ngasih tau aku kalau Salimah udah punya rumah sendiri?" cecarnya.


"Astaga Tri, mana tau aku Salimah tinggal di mana? Memangnya kamu tau dari mana?" balas Jendral heran.


"Aku tau dari mata-mata yang kami sewa," jawabnya ketus.


"Kami? Kami siapa?" heran Jendral karena dia tak pernah di mintai pendapat tentang rencana sang istri.


Triya mendadak gugup, Jendral menatap semakin heran pada istrinya itu.


"Ada apa? Apa kamu dan pak Dirga yang kamu maksud dengan 'kami' tadi?"


"Iya mas, siapa lagi," Triya kembali menjawab dengan ketus.


Baginya sudah terlanjur ketahuan, lebih baik dia ceritakan saja semua rencananya dengan Dirga pada sang suami.


Dia juga bingung dari mana nanti dia harus membayar jasa detektif yang bekerja untuknya.


"Buat apa kamu memata-matai Salimah? Biarkan dia hidup tenang Bun. Bukankah Salimah berjanji akan membiarkan kita bertemu dengan anak kita nanti?"


Triya mendengus, sudah berapa kali sahabat Salimah itu menjelaskan pada sang suami jika dia tak mau hanya sekedar menjenguk. Dia ingin merawat anaknya dari Salimah.


"Pokoknya aku harus mendapatkan anak kita mas!" pintanya kekeh.


Jendral membuang napas frustrasi. Biarlah apa yang di lakukan sang istri. Jika hanya sekedar memata-matai mantan istri keduanya, dia rasa tak masalah. Bagus juga kalau ada apa-apa dengan Salimah dan anak mereka dia bisa tahu dengan cepat.

__ADS_1


Selama ini komunikasi antara dirinya dan Salimah sudah terputus sebab Triya sudah menghapus nomor Salimah di ponselnya.


Dia juga tak berminat mencari tahu, baginya keadaan Salimah akan di ketahuinya lewat sang ibu kelak.


"Memang apa rencana kamu?" cecar Jendral yang seketika membuat Triya gugup.


Jendral menatap tajam sang istri yang terlihat sedikit panik.


"Jangan katakan kalau kamu dan pak Dirga berencana melakukan kejahatan pada Salimah atau anaknya!" tebak Jendral.


"E-enggak kok, ih apaan sih mas. Aku cuma mata-matai dia aja, nyari celah keburukan Salimah yang bisa kita jadikan alasan untuk menggugatnya lagi nanti," elak Triya kesal karena tuduhan keji sang suami.


Jendral bernapas lega mendengar penjelasan sang istri, meski tetap merasa heran dengan segala kelakuan istrinya yang di rasa buang-buang waktu serta uang saja.


Saat membayangkan masalah uang untuk membayar jasa detektif itu, Jendral segera menanyakannya pada sang isyri.


"Lalu berapa banyak kamu bayar itu mata-mata?"


Lagi-lagi Triya terlihat gugup, bahkan wajahnya terlihat sedikit pias. Keringat dingin sudah membasahi dahinya.


"Katakan Tri? Jangan bilang semua tabungan kita kamu pakai untuk membayarnya?" cecar Jendral tak sabar.


Triya menggigit bibirnya untuk menekan perasan gugupnya, "Ma-af mas. Bahkan tabungan kita aja enggak cukup buat bayar jasa mereka," cicit Triya.


"APA?!" pekik Jendral yang terkejut bukan main. TAbungan yang bernilai puluhan juta ternyata sudah raib dari tabungan mereka.


"Lalu berapa uang yang harus kamu bayar untuk mereka lagi?" tanya Jendral lemas.


"Ba-banyak mas, total keseluruhan hampir seratus jutaan lagi," jawab Triya pelan.


"Astaga TRIYA! Dari mana mas mendapatkan uang sebanyak itu? Kamu tahu berapa gaji mas bukan? Bahkan mobil dan rumah ini masih menyicil!" jawab Jendral frustrasi.


Rumah dan mobil yang di berikan oleh orang tuanya, seharusnya dia bisa nikmati tanpa harus berhutang. Namun pada kenyataannya memang dia justru harus menyicilnya.


Itu semua karena permintaan Triya yang memintanya0 untuk membeli secara kredit saja uang dari pemberian Evita.


Evita memang memberikan uang yang hanya cukup untuk membeli mobil biasa dan juga rumah yang sederhana.


Namun karena gaya hidup Triya yang suka sekali Riya, mereka jadi harus berhutang demi bisa memiliki mobil yang cukup mewah di kelasnya dan juga tinggal di kawasan perumahan kluster.


"Mas kan bisa minta bantuan sama ibu," usul Triya lirih.


Jendral meraup wajahnya kasar, entah bagaimana lagi dia harus membohongi dan memberatkan hidup orang tuanya.


Sebagai anak tunggal dan juga laki-laki, dirinya bahkan masih menyusahkan orang tuanya. Bukan itu saja, perlakuan Triya dan mertuanya kepada orang tuanya juga cukup menyakitkan bagi orang tuanya.

__ADS_1


Bukannya balas budi dan bersikap baik, Triya dan keluarganya justru seperti memanfaatkan orang tuanya.


"Mas enggak bisa Bun, mas malu kalau harus merepotkan bapak dan ibu terus. Apalagi ibu ngabarin kalau bapak harus operasi. Jadi aku enggak sanggup minta bantuan mereka lagi," jawab Jendral sendu.


Triya mendengus kesal, mengapa mertuanya harus repot-repot operasi lagi, dia rasa mertuanya hanya membuang-buang uang saja.


Toh ayah mertuanya sudah tua dan sakit-sakitan, dalam hati dia berkata harusnya di biarkan saja, lama-lama juga ayah mertuanya mati.


"Terus gimana mas? Aku enggak enak loh, mana semuanya di talangi dulu sama pak Arga."


"Hah, ya terserah dialah, toh dia yang ngusulin kan? Katanya dulu rela enggak di bayar, kok sekarang nuntut bayaran?"


"Loh mas, enggak gitu perjanjiannya dong, maksud pak Dirga dia rela enggak di bayar kalau kita nanti naik banding. Tapi masalah detektif ini ya beda urusanlah," gerutu Triya yang merasa pusing harus menjelaskan pada sang suami.


"Kenapa kamu mau-mauan aja di mintai pendapat kaya gitu? Enggak ngomong lagi sama aku. Giliran kesusahan kaya gini baru cerita."


"Maaf mas, lagian aku juga yakin kamu pasti enggak akan setuju, makanya aku gerak sendiri. Tapi ternyata pakai jasa detektif butuh uang yang enggak sedikit," lirihnya.


Jendral kembali mendengus kesal dengan tingkah absurd istrinya. Dia merasa sang istri hanya di peralat oleh Dirga demi ambisi mantan pengacara mereka itu.


Jadilah kini Jendral harus rela mencicil tiap bulan hutangnya sang istri pada Dirga.


Meski dulu Dirga menolak usulan Jendral yang akan membayarnya dengan mencicil, tapi saat Jendral menyudutkannya tentang kelakuannya dan sang istri, terpaksa pengacara itu hanya bisa pasrah, dari pada uangnya melayang, lebih baik kembali meski harus sedikit demi sedikit.


Flasback off


"Saya rasa biar Triya aja yang menjelaskan mah. Saya lelah mau istirahat, sebentar lagi bapak dan ibu mau datang, saya ingin menyambut mereka dengan baik," jelas Jendral yang memilih meninggalkan ibu mertua dan istrinya.


"Hah, mau apa mertua kamu datang ke sini lagi Tri?" tanya Tati heran.


"Mau operasi," jawab Triya sambil mencebik.


"Dih, buang-buang duit aja," gerutu Tati yang masih bisa di dengar oleh Jendral.


Tak terima orang tuanya di pojokkan seperti itu, Jendral pun berbalik dan menatap tajam mertuanya.


"Orang tua saya operasi pakai uang mereka sendiri mah! Kenapa mamah yang usil?" ucapnya kesal.


Tati dan Triya terkejut bukan main saat Jendral berani menjawab ucapan Tati. Sejak dulu menantu pertamanya itu terlihat paling pendiam dan menurut.


Tentu saja perubahan Jendral membuatnya sedikit terkejut. Terlebih lagi Triya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2