Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 78


__ADS_3

Di kantor, Afnan di kejutkan dengan kedatangan tamu yang meminta bertemu dengannya, terlebih lagi dia menyebutkan nama Norma sebagai alasannya.


"Bagaimana pak? Apa bapak mau menemuinya?" tanya Fitria agar bisa segera memberi jawaban pada resepsionis di bawah.


Afnan menarik napas panjang, entah siapa lelaki itu. Namun dia tetap menemuinya, karena takut lelaki itu membuat keributan di kantor.


"Ya udah suruh dia masuk Fit," jawab Afnan.


Tak lama Fitria datang bersama dengan seseorang yang keadaannya cukup memprihatinkan.


Mukanya lebam penuh dengan luka memar seperti habis kecelakaan tau mungkin pengeroyokan.


Tangannya juga terluka hingga menggunakan penyangga lengan yang sepertinya cedera.


Lelaki itu mengulurkan tangan kirinya karena lengan kanannya yang terluka.


"Maaf Pak Afnan," ucap lelaki itu yang langsung menyebut nama dirinya.


Afnan sempat mengernyit bingung. Namun tetap menyambut uluran tangannya sambil bertanya tentangnya.


"Anda siapa?"


"Saya Medi, kekasih Norma," jawab Medi pelan.


Afnan melirik Fitria dan meminta sekretarisnya itu menyiapkan suguhan untuk tamunya. Dia yakin lelaki yang mengatakan jika dia adalah kekasih Norma pasti memiliki tujuan tertentu hingga datang menemuinya.


"Kita duduk di sofa aja," tawar Afnan sambil melangkah menuju sofa.


Kini keduanya saling berhadapan. Medi memilih menundukkan pandangannya karena bingung harus bicara apa.


Dia tak punya pilihan lain selain meminta bantuan Afnan, itu pun dia tidak yakin apa Afnan mau membantunya atau tidak.


"Ada perlu apa Pak Medi menemui saya?" tanya Afnan tanpa basa-basi.


"Panggil saya Medi saja Pak. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu bapak. Sungguh saya enggak tau lagi harus meminta bantuan pada siapa kalau bukan pada bapak," jelasnya.


Afnan mengernyit heran, dalam hati bertanya bantuan apa yang di harapkan kekasih mantan tunangannya itu padanya.


"Boleh saya cerita dulu?" pinta Medi memelas.


Afnan mengangguk sebagai jawaban. Dia tak mau langsung menolak keinginan lelaki di depannya itu meski sedikit bisa menebak jika pasti ada sangkut pautnya dengan Norma.

__ADS_1


"Saya berencana pergi bersama Norma keluar negeri. Dia tengah mengandung anak saya. Mungkin bapak sudah tau."


Afnan lagi-lagi hanya mengangguk tanpa mau menjawab, sebab dia ingin segera tau maksud dan tujuan lelaki itu menemuinya.


"Sayangnya dalam rencana pelarian kami, kami tertangkap oleh anak buah Pak Subhan. Saya sungguh khawatir dengan nasib Norma dan calon anak kami. Oleh sebab itu saya datang ke sini meminta bantuan pada bapak," ucapnya penuh harap.


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Afnan bingung.


Medi yang mendengar jawaban itu seketika matanya berbinar, dia bersyukur ternyata lelaki yang sempat di jodohkan dengan kekasihnya itu adalah orang baik. Pantas saja orang tua Norma bersikeras menjodohkan anak mereka dengan Afnan, pikirnya.


Padahal, bukan seperti itu makna dari pertanyaannya Afnan. Lelaki itu hanya bingung, memang bantuan seperti apa yang bisa dia berikan untuk kasus mereka, sepertinya tidak ada, begitu pikir Afnan.


"Tolong selamatkan Norma dan calon anak kami pak. Saya yakin kalau hanya bapak yang bisa datang ke rumah Norma. Saya hanya ingin tau kabar keduanya. Kalau orang tua Norma tak melakukan sesuatu pada anak kami dan mereka baik-baik saja, saya akan merasa tenang."


"Anda meminta saya hanya untuk memastikan jika Norma dan calon anak kalian baik-baik aja?" tanya Afnan tak percaya.


"Iya pak, hanya itu. Saya takut Pak Subhan melakukan sesuatu pada calon anak kami." Medi merasa jika akan terjadi sesuatu yang buruk dengan kekasih dan calon anak mereka.


Subhan yang terkenal kejam dia yakin mampu melakukan hal nekat jika sedang marah.


"Kamu tenang aja, Norma anak mereka, kayaknya enggak mungkin Pak Subhan akan berlaku macam-macam," elak Afnan.


Medi menggeleng, "bapak enggak tau seberapa kejinya Pak Subhan. Dia bisa berbuat nekat pak. Tolong saya pak, saya enggak tau lagi harus minta tolong sama siapa. Saya yakin cuma bapak yang bisa masuk ke rumah itu dan mengetahui keadaan Norma."


Bisa-bisa mereka berpikir jika dirinya akan meminta Norma kembali padanya.


Afnan menggeleng, dia tahu kecemasan lelaki di hadapannya ini. Namun dia tak mau mengambil risiko dengan menemui Norma di rumahnya.


Memang apa yang akan dia katakan jika sampai ke sana? Menanyakan kabar Norma lalu pulang begitu saja? Akan terasa aneh pasti, pikir Afnan.


"Saya enggak bisa Mas Medi, ada sesuatu yang ngga bisa begitu aja saya lakukan—"


Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Medi bangkit dan bersujud di depan Afnan. Dia menangkup kedua tangan di depan dada memohon pada Afnan.


Lelaki yang sangat mencintai Norma itu bahkan rela merendahkan harga dirinya demi bisa mengetahui nasib kekasih dan calon anaknya.


Melihat sorot mata Medi yang putus asa seperti itu, membuat Afnan jadi tak tega. Hingga akhirnya dia meminta Medi bangkit sebab dia merasa risi melihat Medi harus bersujud seperti itu padanya.


"Bangunlah Mas Medi, saya akan coba membantu Mas Medi. Namun saya enggak yakin sama hasilnya nanti, bagaimana?"


Medi menengadah, mengusap air matanya. Hatinya yang sedang kalut karena merasakan cemas yang tak terkira, lalu mendengar Afnan mau membantunya tentu membuat sedikit perasaannya melega, meski dia tahu Afnan tak bisa menjanjikan apa-apa.

__ADS_1


"Terima kasih Pak Afnan. Terima kasih, saya tau mungkin enggak akan mudah mengetahui keadaan Norma, tapi senggaknya inilah usaha terakhir saya," lirihnya.


Setelah mengutarakan keinginannya, Medi bergegas keluar dari ruangan Afnan, sebab dia tak mau mengganggu pekerjaan Afnan lebih lama lagi. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih dan berharap hasilnya akan baik-baik saja.


Afnan tak banyak berjanji, dia hanya mengangguk dan mengaminkan doa Medi.


Setidaknya dia juga berharap jika keadaan Norma dan kandungannya baik-baik saja.


Selepas kepergian Medi, datanglah Yudis yang mengernyit bingung dengan tamu sepupunya itu. Mereka memang sempat berpapasan kala Medi hendak keluar dan Yudis akan masuk ke dalam ruangan Afnan.


"Siapa Nan?" tanya Yudis langsung.


"Pacarnya Norma," jawab Afnan malas.


"Hah, mau apa dia? Gila, kenapa muka dia bonyok gitu?"


Mengabaikan pertanyaan Yudis, Afnan justru mengatakan hal lain pada atasan sekaligus sepupunya itu.


"Dis, antar aku ke rumah Norma," ucapnya seperti perintah.


"Dih, kamu minta tolong apa nyuruh?" keluh Yudis.


"Tolonglah, aku udah janji sama Medi mau ke rumah Norma," jelasnya.


"Mau apa emang? Tau kan kamu kalau sampai ke rumah dia? Bisa-bisa orang tuanya ngira kamu mau balikan lagi ma dia!"


"Kayaknya ada sesuatu yang buruk terjadi sama Norma, Dis. Entah kenapa perasaanku agak enggak enak."


"Nyesel mutusin dia?" ejek Yudis yang mendapat tatapan tajam dari Afnan.


.


.


Keduanya tiba di kediaman Norma sore harinya. Afnan sengaja menghubungi sang ibu jika dia akan pergi ke rumah mantan tunangannya itu.


Sri tentu saja senang bukan main, dan berpikir jika Afnan berubah pikiran dan akan kembali melanjutkan pertunangan mereka.


Hingga setelah panggilannya berakhir, dia lanjut menghubungi seseorang.


Usai urusannya selesai, Sri tersenyum miring, dia yakin kali ini tak ada lagi orang yang akan menjadi penghalang hubungan anaknya dengan Norma.

__ADS_1



__ADS_2