
Takut mendatangi kantor kepolisian seorang diri. Salimah akhirnya mengabari Alawiyah tentang keadaan Fitria.
Meski tidak menjelaskan secara rinci. Namun Alawiyah bisa menyimpulkan ada sesuatu yang terjadi, hingga pengacara cantik itu bergegas mendatangi kediaman sahabatnya.
Saat sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Jendral datang dengan wajah lelahnya.
"Kamu enggak kerja?" cecar Jendral sambil memicingkan matanya.
Salimah merasa gugup, lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan mantan suami keduanya.
"E-enggak, aku masih cuti," jawab Salimah gugup.
Jendral menarik napas panjang dan menatap sendu pada Salimah.
"Boleh aku bicara?" pinta Jendral.
Salimah mengangguk kaku, dalam hati dia berdoa semoga Jendral tak minta segera pindah ke sana. Dia sendiri belum memikirkan cara apa yang terbaik untuk hidup berdampingan lagi dengan mantan suami dan mantan madunya.
"Kamu masih punya tabungan?"
Salimah mengernyit bingung dengan pertanyaan Jendral. Tabungan? Tentu saja dia masih memilikinya meski tidak banyak, sebab beberapa bulan terakhir kehidupannya sudah tak di topang oleh Evita, karena wanita itu memang berkata sedang banyak kebutuhan untuk berobat suaminya.
Dirinya berpikir mungkin Jendral hendak meminjam uang padanya.
"Tolong pergunakan untuk biaya lahiran dan keperluan bayi kita. Aku minta maaf karena enggak bisa bantu kamu saat ini. Hitung aja semuanya. Nanti pasti aku ganti," jelasnya.
Meski kesal dan berpikir untuk menyakiti Salimah. Namun dia tak tega mengingat wanita di hadapannya tengah mengandung anaknya.
Anak yang kehadirannya sangat di nantikan oleh keluarganya.
Jadi Jendral memilih untuk mengalah dan memikirkan cara untuk kembali merebut anaknya dari Salimah.
Toh hanya dengan cara seperti itu, Jendral yakin Salimah pasti akan terpuruk. Tak perlu mengotori tangan untuk melalukan sesuatu yang justru akan merugikannya kelak.
Salimah bernapas dengan lega, setidaknya semua pikiran buruk tentang Jendral tak terbukti saat ini.
"Mas tenang aja. Aku mengerti keadaan kamu. Aku hargai kamu yang mau tanggung jawab. Tapi enggak usah di paksa mas, lagi pula kamu pasti banyak kebutuhan lain," jawab Salimah sambil tersenyum.
Alawiyah yang tiba di kediaman Salimah bergegas masuk dan terkejut melihat Salimah yang justru terlihat santai bersama dengan Jendral.
"SAL?!" sentak Alawiyah.
"Eh Al, ayo kita pergi sekarang!" ajak Salimah lantas bangkit berdiri.
Wanita hamil itu takut Alawiyah akan mencecar dirinya saat ada Jendral di rumah.
Alawiyah yang bingung hanya bisa diam dan menatap keduanya bergantian.
__ADS_1
"Nanti aku jelasin," bisik Salimah.
"Ya udah mas, aku pamit dulu."
"Mbok Yem, jaga rumah ya. Jangan lupa antar Rino ya mbok," pamit Salimah pada asisten rumah tangganya.
.
.
"Ada apa Sal? Kamu di telepon kelihatan panik. Tapi tadi pas aku lihat, kayaknya kamu lagi bahagia!" cibir Alawiyah.
"Mas Jendral belum tau kondisi Fitria Al. Sekarang, kita ke rumah sakit dulu," jawab Salimah yang kembali khawatir.
"Jelasin Sal, apa yang di katakan para petugas polisi tadi?" tanya Alawiyah tegang.
Sebagai seorang pengacara jelas kekerasan yang dialami Fitria bukanlah kasus main-main. Dengan senang hati dia akan mendampingi gadis itu, menuntut keadilan. Meski Fitria sering berselisih paham dengan Salimah, tapi ini tentang kemanusiaan dan dia tak bisa mengabaikan itu.
Mereka tiba di rumah sakit yang di katakan petugas pagi tadi.
Setelah mengetahui ruang rawat Fitria dari resepsionis, keduanya bergegas mendatangi ruangan Fitria di rawat.
Saat berada di lorong, Salimah mendengar suara teriakan yang cukup nyaring dari salah satu kamar.
Keduanya bergegas karena sangat yakin dengan suara teriakan itu adalah suara dari wanita yang mereka kenal.
Terlebih lagi beberapa luka memar di wajahnya membuat hati Salimah miris.
Kepala yang biasanya selalu di tutupi dengan hijab, kini terekspos dan memperlihatkan rambut hitam panjang miliknya yang indah.
Di sana, Fitria tengah memberontak histeris, dua perawat laki-laki bahkan terlihat kewalahan saat memegangi tubuh Fitria.
Sedangkan satu orang perawat wanita sedang berusaha menyuntikkan sesuatu ke lengan gadis itu.
Fitria menjerit frustrasi, air matanya meleleh. Salimah dan Alawiyah datang mendekat, berusaha memberikan dukungan pada orang terdekat mereka.
Saat Fitria menatap Salimah. Mata gadis itu menyorot dengan tajam. Sorot kebencian yang teramat sangat.
"Puas kamu kan Mbak! Puas melihat aku sekarang. Semua gara-gara kamu. Kamu memang pembawa sial!" makinya.
Tak lama perawat tadi berhasil menyuntikkan obat penenang pada lengan Fitria, hingga tak lama gadis itu terkulai lemah dan tak sadarkan diri.
Salimah menangis dalam pelukan Alawiyah. Entah mengapa kata-kata Fitria sangat menyakiti hatinya.
Benarkah dia pembawa sial? Bahkan kini musibah yang di terima Fitria pun di salahkan padanya.
Salimah meremas dadanya. Mengapa orang-orang terdekatnya selalu mengalami nasib yang buruk.
__ADS_1
Alawiyah berusaha menenangkan sahabatnya. Dia juga sedikit kesal, mengapa justru Firia seperti menyalahkan nasib buruknya pada sang sahabat?
Setelah melihat kondisi Fitria. Keduanya lantas di arahkan perawat tadi menuju ruangan Dokter yang menangani Fitria.
Di sana Salimah bahkan sampai syok hingga perutnya terasa kram kala Dokter menceritakan apa saja yang di alami oleh Fitria.
Dokter juga menyarankan agar setelah ini Salimah dan Alawiyah mengonsultasikan kejiwaan Fitria pada psikiater, karena dia yakin luka yang di alami oleh Fitria pasti mengguncang jiwanya juga.
Usai bertemu Dokter, kini keduanya tengah memikirkan bagaimana mengabari perusahaan tempat Fitria bekerja.
Tak mungkin Fitria di biarkan libur tanpa kejelasan, bisa-bisa gadis itu di pecat oleh perusahaan.
"Bingung-bingung amat sih Sal, kamu punya nomor telepon Afnan kan? Kasih tau dia aja. Kan dia atasannya. Ini lebih baik, jadi kejadian yang menimpa Fitria enggak ke ekspos," saran Alawiyah.
Salimah pun setuju dan bergegas menghubungi nomor mantan suaminya. Untungnya kemarin Afnan sempat meminta nomor teleponnya, setelah tahu kalau dirinya seorang janda.
Di seberang sana, senyum Afnan merekah kala mendapat panggilan dari Salimah. Bergegas dia mengangkatnya sebab tak ingin wanita yang masih di cintainya itu menunggu lama.
"Iya Sal, ada apa?"
"Mas, Fitria ..." Lidah Salimah kelu, dia tak mampu menjelaskan keadaan Fitria pada mantan suaminya.
Mendadak hatinya di liputi perasaan cemburu. Bagaimana nanti jika Afnan memperhatikan adik angkatnya itu?
Melihat keraguan sahabatnya, Alawiyah meminta ponsel Salimah agar dirinya saja yang berbicara pada Afnan.
"Halo Nan, ini aku Alawiyah," ucap Alawiyah.
Afnan yang mendengar Alawiyah menggantikan Salimah di seberang sana, mendadak cemas, dia takut terjadi sesuatu pada mantan istrinya itu.
"Apa Salimah baik-baik aja Al?" cecar Afnan khawatir.
"Salimah baik-baik aja. Aku mau mengabari tentang Fitria, bagaimana pun dia karyawanmu," jawab Alawiyah.
Afnan bernafas lega sesaat kala mengetahui keadaan mantan istrinya baik-baik saja, tapi sedetik kemudian dia berubah bingung karena Alawiyah menyebut nama Fitria.
"Oh iya, sejak tadi aku menghubungi ponselnya tapi enggak aktif, ada apa? Apa Fitria sakit?"
"Fitria enggak sakit Nan, dia ... Habis terkena musibah—"
"Musibah? Musibah apa?" potong Afnan yang merasa cemas. Bagaimana pun Fitria adalah sekretarisnya, jelas dia mengkhawatirkan keadaan wanita itu.
"Fitria mengalami kejadian tragis, semalam dia habis menjadi korban pemerkosaan. Saat ini kami berada di rumah sakit Harapan. Kita cuma mau mengabari itu, karena bagaimana pun dia seorang karyawan," jelas Alawiyah.
Afnan terkesiap, dia tak percaya jika Fitria bisa mengalami nasib setragis itu.
__ADS_1