Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 27


__ADS_3

Evita menghela napas, hubungannya dengan sang besan memang tak pernah akrab sedari dulu.


Memang tak bermusuhan, tapi entah kenapa Tati seperti menjaga jarak dengannya.


Padahal sebagai seorang besan Evita tak pernah merasa menyakiti sang menantu, entah itu berkata kasar atau pun fisik.


Namun ada satu hal yang dia ingat, percakapannya dengan sang putra mengenai permintaannya tentang memiliki dua istri, mungkin Triya mendengar atau mungkin Jendral yang memberi tahu, entahlah.


"Saya mohon maaf kalau ada salah besan, tapi saya bukan cenayang yang bisa membaca pikiran mengenai apa kesalahan saya, bisa tolong di jelaskan?" Pinta Evita tenang.


"Jeng kan tau kalau Triya lagi hamil muda, cucu yang kita harapkan selama ini, kenapa jeng dengan sengaja menyakiti batin anak saya dengan mengancam akan berhenti membantu mereka?" sindir Tati.


"Jeng kan kaya, anak jeng juga cuma Jendral aja, mau di bawa ke mana sih harta jeng itu kalau enggak buat anak? Enggak usahlah mengancam yang ngga jelas gitu," jelas Tati.


Evita menarik napas panjang, kini dia paham sang menantu ternyata mengadu pada orang tuanya mengenai ancamannya kemarin.


Dia juga berpikir kalau Triya pasti tak menceritakan awal mula permasalahan mereka.


"Apa yang jeng tau mengenai permasalahan kami?" cecarnya.


Kini dia memilih menjawab segala tudingan yang di pikirkan oleh besannya tentang dirinya.


Sekalian saja sang besan tahu apa yang telah di lakukan putrinya.


Triya terlihat gelagapan saat sang mertua justru menantang ibunya.


"Sudah mah, Triya enggak papa kok, mamah enggak usah pikirin, Triya yakin bukan maksud ibu seperti itu sama Triya," sela Triya gugup.


"Loh gimana sih Tri! Biarin aja ibu mertuamu tau kalau kamu tertekan dengan ancamannya. Mamah tuh enggak habis pikir sama mertua kamu apa sih yang di permasalahin! Gara-gara kamu bohong tentang usai kandunganmu? Cih!" gerutu Tati.


Astaga, ternyata Triya mengadu hanya permasalahan usia kandungannya saja, Evita benar-benar tak habis pikir.


"Besan tau kalau Triya ini punya madu?" tanya Evita datar.


"IBU!" sentak Triya sambil bangkit berdiri, sedangkan Tati terpaku syok mendengar ucapan besannya.


"Kenapa? Harusnya kamu jelaskan permasalahan kita dari awal, kenapa kamu hanya menjelaskan masalah kebohonganmu aja?" tantang Evita.


"A-apa ini maksudnya Tri?" tanya Tati bingung.


"Enggak mah, enggak ada apa-apa," elak Triya.


"Dia punya madu, yang sedang hamil juga saat ini, usia kandungannya empat bulan. Kemarin mereka bahkan baru merayakan empat bulanan di sini," jelas Evita.

__ADS_1


"Ibu tolong, bukankah aku bilang semuanya udah selesai? Kenapa ibu ungkit-ungkit lagi? Toh kami udah memutuskan menyudahi perjanjian itu kan!" balas Triya geram.


"Ada yang belum, kamu lupa kalau Jendral belum memberikan talak pada Salimah?"


"Nanti malam kita bawa wali nikah dan saksi yang menikahkan mereka. Menikah siri meski terlihat mudah, tapi bercerai tak bisa sembarangan juga!"


Triya menelan salivanya kasar, berarti dia mau tak mau harus menjelaskan masalahnya pada sang ibu.


"Ada apa sebenarnya ini Tri!" bentak Tati yang bingung dengan arah pembicaraan keduanya.


Triya menghela napas berat, dia merutuki sang ibu yang menjelaskan masalahnya pada sang mertua.


Padahal tadi ibunya berjanji tak akan memperpanjang masalah mereka. Sialnya juga Evita kembali saat dirinya tengah mengadu pada sang ibu.


Enggan mendengarkan penjelasan sang menantu. Evita memilih bangkit berdiri. Dia merasa lelah karena kegiatan hari ini cukup menguras tubuh tuanya.


Saat membuka pintu kamar, betapa terkejutnya dia saat melihat ayah dari menantunya tengah tiduran di ranjangnya.


"Astagfirullah!" pekiknya.


Tati dan Triya yang mendengar pekikan Evita segera menghampirinya.


"Ngapain jeng main masuk aja sih! Enggak sopan banget!" keluh Tati yang justru menyalahkan Evita.


"Saya mau istirahat jeng, kenapa jeng enggak memberitahu saya kalau di kamar ada bapaknya Triya?" jawab Evita.


"Loh ini kan rumah anak saya, ya suka-suka kami mau tidur di mana? Jangan mentang-mentang jeng yang beli rumah ini lantas bisa seenaknya!" ucap Tati murka.


Evita benar-benar pusing menghadapi besannya ini, segala ucapannya sangat tidak nyambung dengan maksudnya.


Ibunda Jendral itu lantas menoleh dan menatap sang menantu. "Boleh ibu istirahat di kamarmu Tri? Ibu benar-benar lelah," pinta Evita.


Triya yang masih marah dengan mertuanya lantas menjawab dengan sedikit ketus.


"Kalau nanti aku mau istirahat bagaimana Bu? Makanya ibu kan tau kami sebentar lagi mau punya anak, belikanlah aku rumah yang lebih besar lagi! Masa aku enggak punya kamar tamu?"


Evita sudah tak tahan, dia memilih meninggalkan menantu dan besannya yang tak habis-habisnya merongrong dirinya.


"Ibu mau ke mana?" tanya Triya saat mertuanya menuju ke pintu utama.


"Mau istirahat," jawab Evita datar.


.

__ADS_1


.


Salimah dan Alawiyah kembali ke kantor dengan perasaan berbeda.


Jika Alawiyah merasa puas telah memenangkan hak Salimah, berbeda dengan Salimah yang masih di liputi perasaan tak percaya.


Meski kamu tidak bisa di rawat oleh ayahmu, tapi nenekmu sangat menyayangimu sayang. Ucap Salimah dalam hati sambil mengusap perutnya.


"Kenapa? Kamu lapar?" tanya Alawiyah khawatir.


"Enggak Al, namanya ibu hamil pasti sering ngusap perutnya tau! Makanya nikah deh jadi tau rasanya," sindir Salimah.


"Dih ogah, kamu denger ya Sal, aku dulu sampe mual kalau menangani kasus perceraian. Makanya pas ada kesempatan kerja di perusahaan kaya gini aku langsung kabur! Mending nanganin kasus bisnis dari pada rumah tangga, sumpah," jawab Alawiyah sambil bergidik ngeri.


"Ye ... Kan enggak semuanya kaya gitu Al. Jangan karena masalah yang pernah kamu tangani bikin kamu takut menikah. Cemen banget sih sahabat aku ini!" ejek Salimah.


Alawiyah hanya memutar malas bola matanya. Dia termasuk wanita yang cantik, mandiri, pekerja keras dan bisa di bilang cukup mapan sebagai seorang perempuan single.


Banyak laki-laki yang mendekatinya tapi tak pernah sekalipun dia tanggapi. Baginya menikah bukan hanya sekedar rasa cinta, tapi sifat dan sikap yang bisa saling menerima.


Kebanyakan dia melihat para lelaki yang mendekatinya awalnya baik, lama-lama ketahuan ada sifat yang membuatnya tidak cocok.


Meski dia paham betul bahwa tak ada manusia yang sempurna, tapi mau bagaimana lagi, dia belum menemukan lelaki yang ideal menurutnya.


.


.


Saat akan memasuki lift tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan pintu agar tak tertutup. Ternyata itu adalah Hari yang masih sibuk menatap gawainya.


Dia lantas menengadah saat melihat ada orang di dalam lift.


"Bu Alawiyah, Bu Salimah?" sapa Hari.


"Pak Hari," balas keduanya. Setelahnya tak ada percakapan apa pun, sebab Hari kembali fokus pada gawainya.


Saat Salimah akan turun di lantai tujuannya, Hari mencegah ibu hamil itu.


"Bu Salimah, bisa kita bicara?" pinta Hari tiba-tiba.


Alawiyah mendadak panik, dia yang tidak tahu bagaimana hubungan antara Hari dan Afnan, takut kalau atasannya itu menekan sahabatnya.


"Ada perlu apa ya pak?" sergah Alawiyah.

__ADS_1



__ADS_2