Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 12


__ADS_3

Triya lantas mengenalkan Salimah dan Alawiyah pada mertuanya.


"Ini sahabatku Bu, yang akan mengadakan acara bersama hari ini," jelas Triya.


"Ini Salimah dan ini Alawiyah," ucap Triya mengenalkan keduanya.


Salimah dan Alawiyah bergantian menyalami mertua Triya.


Tak lama ibu-ibu pengajian yang di undang Triya dan para tetangganya mulai hadir memenuhi ruang tamu rumahnya.


Acara empat bulanan berlangsung khidmat, Evita tak banyak protes meski dia bingung mengapa acara seperti ini harus di lakukan bersama.


Evita juga melihat bagaimana gerak-gerik menantunya yang terlihat sekali sangat perhatian pada Salimah.


Dia juga tidak melihat keberadaan suami dari wanita yang di anggap sahabat oleh menantunya itu sejak tadi.


Justru Evita merasa jika hari ini seperti acara milik Salimah ketimbang menantunya itu.


Usai acara empat bulanan, Salimah dan Triya serta putranya yang mengenakan pakaian seragam warna putih masih di sana berbincang secara hangat.


Evita memilih ikut bergabung dengan meletakan oleh-oleh yang dia bawa dari rumahnya.


"Nak Salimah ini tinggal di mana?" tanya Evita.


"Saya di daerah kali ulu Bu," jawab Salimah.


"Maaf kalau ibu lancang. Suami nak Salimah dan keluarga tak ikut hadir?"


Alawiyah pun ingin bertanya hal yang sama seperti mertua Triya, hanya saja dia memilih mengikuti acara empat bulanan keduanya terlebih dahulu.


Salimah menunduk, tak lama lalu dia mendongak dan tersenyum pada Evita.


"Suami saya ada di luar kota Bu, sedangkan saya hanya seorang anak panti," lirihnya.

__ADS_1


Merasa terenyuh dengan jawaban Salimah, Evita lantas menggenggam tangannya.


"Maafkan ibu. Alhamdulillah kita bisa bertemu hari ini. Anggaplah kami keluargamu," ucap Evita.


Dia lalu menatap sang menantu dengan bangga. Ternyata menantunya memiliki sifat yang sangat baik hingga mau membantu wanita seperti Salimah.


Berbeda dengan Alawiyah, dia merasa ada yang tidak beres dengan kedekatan ketiganya.


Namun Alawiyah urung mengatakan hal yang mengganjal di hatinya saat itu juga.


"Sal, aku harus pulang. Mamahku udah nunggu dari tadi. Ayo aku antar kamu pulang!" ajak Alawiyah.


"Yuk!"


"Bu, Ya, mas saya pamit dulu ya, makasih udah mau bikin acara empat bulanan aku ya," ucap Salimah dengan air mata yang menetes di sudut matanya.


"Sama-sama Sal. Kita ini sahabatan, jadi ngga usah bilang makasih hanya untuk hal seperti ini," jawab Triya.


Namun saat hendak bangkit berdiri, tiba-tiba perutnya terasa keram. Membuat semua yang melihatnya menjadi panik.


"Perut aku keram," jelasnya.


"Mending Nak Salimah istirahat di sini aja. Pasti ini karena kelelahan," tawar Evita yang tak tega melihat kondisi Salimah.


Salimah mengangguk setuju saja tanpa melihat wajah Triya yang seperti keberatan.


Ibu satu anak itu benar-benar sangat kepayahan pada kehamilan ini.


Alawiyah melihat sikap Triya yang mendadak berubah, ingin mengatakan pada Salimah untuk mengurungkan tawaran mertua Triya, tapi saat melihat kondisi Salimah yang terlihat pucat dia merasa tak tega.


"Tapi di rumah ini cuma ada dua kamar Bu," ucap Triya yang ingin menghentikan niatan mertuanya.


"Biar ibu tidur sama Salimah, dari pada di jalan kenapa-napa. Lagi pula Salimah ini sendirian di rumahnya bukan? Kalau terjadi sesuatu gimana?" sergah Evita yang tak mau di bantah.

__ADS_1


Mertua Triya itu lantas mengajak Salimah dan Rino masuk ke dalam kamarnya agar bisa segera istirahat.


Jendral yang melihat keberatan istrinya itu lantas memeluk bahu sang istri dan menenangkannya.


"Ibu benar, takut kalau ada apa-apa di rumah Salimah Bun. Yang sabar ya," bisik Jendral.


"Ya udah Tri, gue balik ya, titip Salimah. Besok gue ke sini lagi," pamit Alawiyah.


Sebenarnya Alawiyah tidak terlalu akrab dengan Triya. Dia memang sahabat Salimah begitu juga dengan Triya, tapi keduanya bukan teman dekat, semua hanya karena mereka kenal orang yang sama saja.


Triya mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Alawiyah.


Dalam hati Triya merasa kesal karena pikiran buruknya dia merasa jika Salimah seperti tengah mencari perhatian mertuanya.


.


.


Di dalam kamar, Triya menghempaskan kasar bantal penyangga perutnya tadi.


Jendral memeluk tubuh sang istri agar tenang dan tak meledak-ledak. Dia tak ingin perasaan sang istri memburuk hanya karena hal sepele seperti ini.


"Apa-apaan sih Ibu! Main nyuruh Salimah nginap segala!" gerutunya.


"Ibu kan cuma khawatir. Emang kamu enggak khawatir, kalau terjadi sesuatu sama anak kita gimana?" jawab Jendral.


"Mulai lagi. Jelas aku khawatir. Tapi enggak begini caranya, aku cemas tau!" keluh Triya.


"Cemas kenapa?"


Triya menggigit bibir bawahnya, dia malu mengakui kalau dia takut Salimah akan merebut perhatian semua orang dengan kehamilannya. Terutama suaminya nanti.


"Kamu harus tetap jaga jarak dengan Salimah ya Yah!"

__ADS_1



__ADS_2