Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 19


__ADS_3

Dua hari di rawat Jendral sama sekali tak pernah menjenguk Salimah.


Dia bahkan melarang sang ibu datang ke rumah sakit sebab takut sang ibu melukai perasaan istrinya yang ingin sekali memutuskan hubungan dengan Salimah.


Triya sangat sensitif, apa pun yang berhubungan dengan Salimah ingin dia hilangkan.


Seperti saat ini dirinya sudah di perbolehkan pulang tapi mereka tak memedulikan kondisi Salimah sudah baik kan atau belum.


"Ayo Yah!" ajaknya begitu mereka selesai berkemas.


Jendral menatap lorong tempat Salimah di rawat. Ingin dia mendatangi istri keduanya hanya untuk sekedar menanyakan kabarnya.


Namun dia tak ingin menyakiti Triya yang saat ini keadaan mentalnya harus di jaga karena mood wanita hamil itu sedang sangat sensitif.


Baru akan melangkahkan kaki suara di belakang mereka membuat keduanya berhenti dan menoleh.


"Apa kamu udah baik kan Ya?" sapa Salimah yang ternyata juga sudah di perbolehkan pulang.


"Salimah?" ucap Jendral pelan.


Triya tetap menampilkan senyum bersahabat pada madunya yang sebentar lagi akan dia singkirkan.


"Kamu udah boleh pulang juga?" tanyanya lembut, tak ada ucapan maaf karena dirinya yang telah mengabaikan Salimah selama di rawat.


"Iya, alhamdulillah." Salimah pun sadar kalau Triya seperti menjaga jarak dengannya.


Alawiyah yang melihat kepalsuan pada diri Triya hanya bisa mendengus kesal.


"Ayo Sal, Rino pasti udah nunggu kamu!" sela Alawiyah yang malas berbasa-basi dengan pasangan busuk di hadapannya ini.


Salimah juga tak ingin bertanya perihal apa yang sudah pernah dia dan Alawiyah bicarakan mengenai keputusan Jendral dan Triya yang ingin melepaskan dirinya dan anak mereka.


Biarlah mereka sendiri yang membuka pembicaraan nanti seperti saran Alawiyah dan dia akan menerima tanpa protes sedikit pun.


"Tunggu Sal, ada yang ingin kami bicarakan," sergah Triya yang harus menuntaskan maksudnya.


"Kamu bukannya baru sembuh? Salimah juga baru sehat, kalau ada yang harus di bicarakan datang ke rumahnya, bukan berdiri seperti ini!" sentak Alawiyah.


"Apa kamu mau masuk lagi ke sini?" cibir Alawiyah lagi.


Jendral mengusap lengan sang istri. Dia setuju dengan usulan Alawiyah. Mereka memang harus bicara baik-baik, bukan di tempat seperti ini dan kondisi mereka yang juga baru sembuh.


"Sepertinya kamu udah tau maksud kami Sal. Baguslah, jadi kita enggak perlu banyak berbasa-basi—"


"Kamu punya otak kan? Apa enggak paham bahasa manusia? Bukannya aku bilang bicara di rumah Salimah!" bentak Alawiyah yang sudah tersulut emosi mendengar ucapan Triya yang mengabaikannya.

__ADS_1


Triya menatap sengit pada sahabat madunya itu yang di rasa terlalu ikut campur.


"Urusan apa kamu—" lagi-lagi Alawiyah memotong ucapan Triya.


“Aku berdiri di sini sebagai pengacara Salimah! Kami bisa menuntutmu kalau kamu terus bicara. Temui kami di rumah Salimah, paham?!" kecamnya.


Triya terkejut bukan main, dia tak menyangka jika profesi Alawiyah adalah seorang pengacara, dia takut kalau Salimah akan menuntut dirinya dan sang suami.


Jendral lantas menengahi keduanya. Dia sedikit tidak terima saat Alawiyah berkata kasar dan membentak istrinya, meski dia tahu kalau Triya lah, yang memulai menyulut emosi Alawiyah.


Wajah Salimah sudah pucat karena beban pikiran yang tiba-tiba menghinggapinya.


"Al, sabar, ayo kita pulang!" ajak Salimah yang tak ingin keduanya kembali membuat keributan.


"Kamu seorang pengacara tapi seperti tak punya etika. Berkata kasar bahkan bicara sangat ketus, apa pantas?" sindir Triya.


Jendral mendekati sang istri dan hendak menarik Triya pergi dari sana. Sudah cukup mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit.


Dirinya juga tak tega saat melihat Salimah yang kembali pucat. Dia tak ingin kedua istrinya kembali berakhir di rumah sakit karena perdebatan yang pasti akan menguras emosi ini.


"Besok kami akan ke rumahmu Sal. Maaf kalau sudah mengganggu kalian," sergah Jendral lalu menarik tangan sang istri agar menjauh.


.


.


"Sabar Bun, yang tenang, kamu lupa apa kata Setyo? kamu harus jaga pikiran kamu, karena kehamilan kamu ini masih sangat rawan."


"Biar ayah aja yang nyelesain masalah kita ya, kamu duduk dan jaga kondisi kesehatan kamu dan anak kita aja!" pinta Jendral lembut.


"Enggak bisa, pokoknya besok kita harus selesein urusan kita sama si Salimah. Kalau Alawiyah mau dukung dia, maka kita juga harus sewa pengacara. Aku enggak mau di porotin sama Salimah!" jawab Triya.


Batin ibu hamil itu sedikit takut karena kini Salimah memiliki seorang pengacara yang bisa membelanya.


Dia tak mau berbagi dengan anak Salimah, makanya dia ingin menyewa pengacara lain untuk melawan Alawiyah.


Lagi pula menurutnya anak Salimah adalah anak hasil di luar hukum negara jadi tak boleh menuntut tanggung jawab suaminya, oleh sebab itu dia merasa di atas angin.


.


.


Salimah sendiri sudah sampai di kontrakannya. Di sana sudah ada Rino dan seorang wanita paruh baya yang sedang menyuapi balita itu.


"Dia siapa Al?" tanya Salimah begitu mereka sampai.

__ADS_1


"Itu mbok Iyem, dia yang akan membantu kamu di sini," jelas Alawiyah.


Salimah menangis tersedu, dia merasa tak berguna karena hanya bisa merepotkan orang lain.


"Loh kamu kenapa Sal?" ucap Alawiyah panik.


"Aku malu karena hanya bisa merepotkan kamu aja Al. Bagaimana aku balas budi padamu," jawab Salimah.


Alawiyah terkekeh mendengar ucapan sahabatnya. Dia sangat tahu Salimah bukanlah seseorang yang suka memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri.


Lagi pula dirinya memang sudah berniat membantu Salimah dan Rino demi mencari keadilan untuk mereka.


"Jangan di pikirin, yang penting kamu dan anak-anakmu sehat."


"Al, apa kamu bisa mencarikan perkerjaan untukku? Aku enggak mau merepotkan kamu terus," pinta Salimah.


Alawiyah tampak berpikir, meski tidak merasa keberatan sama sekali membantu Salimah. Namun dia tau kalau sahabatnya itu pasti merasa sungkan padanya.


Jadi dia memutuskan untuk mencarikan Salimah pekerjaan yang mungkin bisa di kerjakan oleh wanita hamil sepertinya.


"Kayaknya di kantor tempatku bekerja ada lowongan bagian personalia. Apa kamu mau mencobanya?" tawar Alawiyah.


Mata Salimah berbinar, tanpa ragu dia mengangguk setidaknya ijazah S1nya bisa berguna saat ini.


"Ya udah kamu siapkan berkas-berkasnya besok aku bawa ke tempat kerja."


Salimah mengucap syukur karena bisa bertemu dengan Alawiyah, semoga dia bisa menghidupi anak-anaknya kelak kalau memang Jendral dan Triya memilih melepaskan tanggung jawabnya.


.


.


Di kediaman Triya, sudah ada Evita yang menunggu kepulangan mereka. Wanita paruh baya itu sebenarnya ingin menjenguk Salimah di rumah sakit tapi selalu di larang oleh sang putra karena Jendral memberi alasan kalau itu akan menyakiti hati menantunya.


"Assalamualaikum Bu," sapa Triya semringah.


"Wa ‘alaikumsalam," jawab Triya sambil mendekati anak serta menantunya lalu memeluk Triya.


"Kamu udah sehat banget Tri? Maaf ibu enggak bisa ke sana karena di larang Jendral!" adu Evita.


Triya tersenyum menanggapi aduan mertuanya. Suaminya sudah menjelaskan padanya karena dia takut sang ibu jatuh sakit kalau harus bolak balik menjenguk dirinya, meski dia tidak tahu kalau itu hanya alasan Jendral agar tak terjadi huru-hara.


"Enggak papa Bu, alhamdulillah aku dan cucu ibu baik-baik aja."


"Lalu gimana kabar Salimah? Apa dia juga udah pulang?" tanya Evita yang membuat sorot mata Triya meredup.

__ADS_1



__ADS_2