Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 84


__ADS_3

Sudah seminggu kasus Fitria tengah di periksa pihak kepolisian. Kurangnya saksi mata membuat penyidik cukup kesulitan mencari para pelaku.


Fitria pun masih belum bisa di mintai keterangan, sebab jika penyidik menanyakan tentang kejadian itu Fitria berteriak histeris.


Bahkan kini Fitria harus di dampingi psikiater untuk mengembalikan kesehatan mentalnya.


Darmono yang sudah kembali sehat bisa di izinkan pulang. Sayangnya semua orang menutupi masalah kematian Triya dan kasus Fitria dari ayah Jendral itu.


Sebab Evita dan Jendral takut jika kesehatan Darmono akan kembali turun karena berita mengejutkan itu.


Evita bahkan berencana mengajak suami dan anak angkatnya kembali ke kampung, sebab merasa jika di kampung mungkin akan membuat perasaan Fitria tenang.


Namun sayang, rencana mereka untuk menutupi kejadian itu dari Darmono harus pupus karena kedatangan Iwan dan keluarganya.


Pasca tujuh hari kepergian putri mereka. Kini Tati memiliki tujuan lain yang pasti membuat Evita dan Jendral tak habis pikir.


"Ini ada apa Bu Tati dan pak Iwan datang ke sini?" tanya Evita tajam.


Dia malas berbasa-basi pada mantan besannya. Tak mungkin juga kedatangan mereka untuk menjenguk suaminya.


Iwan dan Tati saling pandang sebelum akhirnya Iwan memulai mengutarakan niatnya.


"Maaf kalau kedatangan kami ke sini cukup membuat kalian terkejut. Tapi mau bagaimana pun kami selaku orang tua Triya berhak mendapatkan hak anak kami," ucap Iwan.


Evita dan Jendral bingung dengan arah pembicaraan orang tua Triya. Terlebih lagi mereka mengatakan hak Triya yang membuat keduanya semakin heran.


Beruntung Darmono sudah kembali istirahat di kamar jadi tak ikut mendengarkan pembicaraan yang cukup menegangkan di ruang tamu Salimah.


"Apa secepat itu kamu menikah lagi Jen? Kuburan Triya bahkan masih basah!" sela Tati ketus.


"Apa maksud mamah? Saya di sini karena ada ibu dan bapak saya, jadi tolong jangan berpikiran yang tidak-tidak!" sanggah Jendral yang sudah tak lagi mengedapkan sopan santunya pada mantan mertuanya.


"Jaga ucapan kamu Jendral! Bagaimana pun kami ini masih mertuamu! Dan kamu harus sopan sama kami," bentak Iwan tak terima.


Sedangkan kedua anak mereka Via dan Dendi hanya diam mendengarkan bersama pasangan mereka masing-masing.


Jendral menahan geram, ingatannya melayang saat acara tahlilan mendiang istrinya.


Di mana dengan tidak berperasaannya Tati meminta uang tahlilan Triya padanya. Sudah begitu, Tati meminta uang yang cukup banyak sebab dia ingin memberikan suguhan yang mewah untuk para tetangga yang hadir di acara tahlilan Triya.


Tati berdalih jika semua akan berdampak pada pahala Triya yang akan mengalir semakin besar. Entah pemikiran dari mana, karena enggan berdebat Jendral memilih menyerahkan apa yang ibu mertuanya inginkan.


Bahkan dengan tega Jendral tak boleh sedikit pun menggunakan uang sumbangan para pelayat.


Kini mereka kembali hadir entah dengan niat apa lagi.


"Kami ke sini mau membicarakan masalah empat puluh harian Triya. Sekaligus meminta harta warisan Triya," ucap Iwan buru-buru.


Jendral dan Evita membelalak tak percaya dengan ucapan kedua orang tua Triya.

__ADS_1


"Apa? Warisan? apa maksud papah?" jawab Jendral geram.


"Kamu tentu tau hukumnya jika seorang meninggal dan kami berhak atas harta Triya," ucap Iwan yang semakin membuat Jendral tak habis pikir.


Jendral tertawa sarkas tak menyangka jika kedua mertuanya memang seorang parasit yang akan terus menghisap habis inangnya tak peduli jika tubuh inangnya itu bahkan sudah kering kerontang.


"Warisan ya," sinis Jendral.


"Iya, tolong cepat serahkan segala hak kami Jendral, agar Triya tenang di sana," jawab Tati.


"Apa mamah lupa apa yang terjadi sama Triya hingga akhirnya dia meregang nyawa? Bahkan sampai sekarang masih ada sisa hutang yang harus saya bayarkan untuk membayar ganti rugi. Lalu kalian mau menuntut warisan yang mana?" cibirnya.


"Jendral yang sopan kamu. Kami enggak peduli itu urusan kamu. Yang kami minta adalah warisan milik Triya. Rumah mobil dan juga harta bersama harus di jelaskan secara rinci!" pekik Iwan tak peduli.


"Aku sungguh kasihan sama nasib Triya. Bahkan kepergiannya sekalipun masih harus terbebani oleh orang tua parasitnya. Bukannya mendoakan anak mereka agar tenang di akhirat sana, justru orang tua yang harusnya menjadi sandarannya meributkan warisan yang bahkan tidak pernah ada wujudnya," cibir Jendral.


"Tutup mulut kamu brengsek! Kenapa kamu hina orang tua kami. Ingat kamu cuma menantu!" sergah Dandi yang tak terima orang tuanya di hina.


Jendral melirik ke arah adik iparnya, "bahkan kau pun hidup dari hasil memeras harta kakakmu. Jadi tutup mulutmu bocah tengil!"


Merasa harga dirinya di injak-injak Dandi bangkit berdiri hendak melayangkan tinjunya pada mantan kakak iparnya.


Beruntung Iwan dan Puji segera mencegahnya, sebab mereka takut tak mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Kenapa kamu enggak terima? Bukannya aku benar, mana bisa kamu yang cuma kuli bisa memberikan perhiasan pada anak dan istrimu. Terlebih bisa membeli sepeda motor kalau bukan mengemis dari istriku," cibir Jendral lagi.


Dendi kembali hendak merangsek. Dia memberontak dengan mengatakan hal yang sangat kasar untuk mencaci mantan kakak iparnya.


Sejujurnya dia pun cukup malu dengan sikap mertua dan keluarga istrinya. Namun mau tak mau dia ikut ke sana karena ancaman Via.


"Sudah cukup. Terserah kamu mau menyebut kami apa Jendral, yang pasti kami akan meminta warisan Triya dan juga uang untuk empat puluh harian Triya sebesar lima puluh juta," putus Iwan yang malas berlama-lama..


"Tidak akan. Aku tidak akan memberikan apa yang kalian inginkan, sebab memang tak ada lagi harya yang tersisa dari kami," tolak Jendral tegas.


"KAU!" tunjuk Iwan yang sudah tak bisa lagi membendung amarahnya.


"Kami tidak meminta pendapatmu. Kamu harus memberikan hak kami dan kewajiban kamu. Jangan lupa seratus harian Triya nominalnya bahkan akan lebih besar lagi. Kami tunggu uang itu besok!" tutup Iwan tak ingin mendengar jawaban mantan menantunya.


"Pergi dari rumah kalian, sekarang! Sepertinya kalian memang tak bisa di beri hati!" jawab Jendral yang kini ikut berdiri menatap mantan mertuanya.


"A-apa maksudmu, itu rumah kami!" sela Tati yang murka dengan ucapan Jendral.


"Kalian enggak berhak tinggal di sana. Saya masih sabar menghadapi kalian, tapi ternyata seperti inilah wajah asli mertua saya. Maksud saya mantan mertua saya."


"Rumah itu atas nama saya kalau kalian lupa. Demi bisa menyelamatkan Via dan anaknya kalian rela menjual rumah itu pada saya, dan saya akan menuntutnya."


"Jadi silakan keluar dari rumah itu baik-baik. Karena saya akan jual untuk menutupi segala hutang yang di akibatkan Triya agar dia tak terbebani di akhirat sana. Toh semua itu lebih penting dari pada permintaan kalian."


"Kamu memang biadab. Enggak punya hati, begini kah balasan kamu terhadap kami?" pekik Tati tak peduli jika masih ada besannya. Dia mendekat hendak memukul Jendral.

__ADS_1


"Jaga kelakuan kalian jika masih ingin menghirup udara bebas. Rumah ini di lengkapi kamera pengawas, sekali saja kalian melakukan kekerasan pada anak saya, saya pastikan akan membuat kalian mendekam di penjara!" sela Evita yang sejak tadi memilih diam.


"Ingat ucapan saya. Segera tinggalkan rumah itu. Dan untuk permintaan kalian, saya tak akan memberikannya, urusan kita sudah selesai. Sekarang silakan pergi dari rumah ini," usir Jendral yang sudah mulai jengah dengan sikap mantan mertua serta keluarganya.


"Apa enggak bisa di bicarakan baik-baik Jen?" sela Iwan yang masih memegangi Dendi.


Dia yang merupakan staf biasa merasa terbantu dengan tinggal di kediaman mertuanya.


Jika Jendral mengambil rumah itu, sudah di pastikan pengeluarannya akan bertambah sebab untuk biaya sewa tempat tinggalnya kelak.


"Kami sama-sama lelaki dan menantu di rumah itu bukan Wan? Berdoa saja kamu tak di perlakukan seperti aku nantinya. Atau kamu merasa takut sebab kamu secara tak langsung juga seperti parasit kaya mereka?" sinis Jendral.


Iwan kalah telak, dia tak berani menjawab ucapan mantan kakak iparnya. Sungguh harga dirinya sangat di rendahkan saat ini.


"Sialan kamu Jen. Aku pastikan kami akan menuntutmu!" sela Via yang tak terima suaminya di rendahkan seperti itu.


"Silakan saja, semua yang ada sama aku punya bukti kuat, yakin kalian punya uang buat nuntut saya? Pikirkan saja hidup kalian ke depannya, sekarang keluar dari sini!" usir Jendral lagi.


"Enggak usah belagu, ini juga bukan rumah kamu. Enggak perlu usir-usir kami!" cibir Tati.


"Kamu masih tak mau memberikan apa yang papah inginkan Jendral?" tanya Iwan tajam.


"Saya rasa pendengaran bapak masih bagus untuk mendengar ucapan saya bukan?"


Iwan mengepalkan tangan lalu beranjak dari sana di ikuti oleh keluarganya.


Setelah kepergian mereka, Jendral jatuh terduduk di samping Evita.


Lelaki itu menangis pilu. Tak menyangka jika sikap mertuanya sangatlah mengerikan.


"Sabar nak. Ini ujianmu. Tapi apa benar rumah mertuamu itu milikmu?" tanya Evita.


"Iya Bu, tepatnya milik ibu. Ibu ingat waktu Jendral pinjam uang untuk investasi? Ya itulah investasi Jendral. Sebenarnya Triya sudah merengek untuk kembali mengubah nama rumah itu menjadi milik orang tuanya. Namun belum terlaksana, syukurlah."


"Apa bisa rumah yang tadinya rumah mereka terus ganti nama kamu, terus di rubah lagi?" tanya Evita bingung.


"Rumah itu juga warisan dari orang tuanya mamah Tati Bu, mamah Tati meminta Triya untuk membayarkan hak dari saudara mamah agar rumah itu menjadi milik mereka.”


Evita menghembuskan napas lega. Ternyata selama ini sang putra dan dirina hanya di jadikan sapi perah oleh besannya.


"Jadi kamu serius mau menjual rumah mertuamu?"


"Iya Bu, bukankah kita memerlukan uang banyak untuk pengobatan Fitria dan bapak? Maaf kalau selama ini Jendral di butakan oleh cinta Jendral pada Triya dan mengesampingkan perasaan kalian," lirih Jendral.


Evita mengusap punggung sang putra bangga. "Tidak nak, kamu anak yang baik dan berhati lembut. Bahkan kamu masih mengurusi hutang-hutang istrimu. Semoga Allah kelak memberikan kebahagiaan untukmu," doa Evita tulus.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2