Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 13


__ADS_3

Salimah masih terbaring lemas di ranjangnya. Tubuhnya benar-benar lemas, bahkan sejak semalam dia selalu muntah-muntah.


Beruntung Evita dengan telaten selalu membantunya. Dia bersyukur tidak membiarkan Salimah pulang ke rumahnya.


Bisa jadi lebih buruk jika wanita itu berada di rumah seorang diri tanpa ada yang merawatnya.


Triya yang sudah sibuk di dapur merasa heran karena mertua serta sahabatnya tak kunjung keluar kamar.


Dia sendiri pagi ini merasa tidak enak badan, dia berpikir mungkin faktor kelelahan mempersiapkan acara empat bulanan Salimah hingga membuat tubuhnya terasa sakit semua.


"Bun, ibu sama Salimah belum keluar?" sapa Jendral setelahnya lelaki itu duduk di hadapan kopi yang sudah di hidangkan sang istri.


"Ayo kita cek, takut kenapa-napa sama Salimah!" ajak Triya yang di balas anggukan oleh Jendral.


Keduanya berjalan bersamaan menuju kamar tamu tempat Salimah dan Evita tidur bersama.


Di ketuk beberapa kali tak ada jawaban, akhirnya Jendral memutuskan membuka pintu kamar itu karena merasa sangat cemas.


Terlihat ibunda Jendral yang duduk di lantai dan tangannya berada di perut Salimah, sedangkan Salimah dan Rino tidur di atas kasur.


Di atas dahi Salimah juga ada sebuah kain yang sepertinya di gunakan oleh Evita untuk mengompresnya.


"Apa Salimah demam?" bisik Triya pada suaminya.


Jendral hanya mengedikan bahunya. Dia menebak hal yang sama dengan pikiran sang istri.


"Bu," panggil Triya perlahan. Dia tak tega melihat sang mertua yang sepertinya menjaga Salimah semalaman.


Harusnya itu tugasnya, dia jadi merasa bersalah karena cemburu tak beralasan pada Salimah malam tadi.


Andai saja Salimah pulang, dia yakin ada sesuatu yang buruk terjadi pada calon anaknya kelak.

__ADS_1


Evita bangun dan menyipitkan matanya. Dia melirik sekilas pada anak dan menantunya. Tak lama dia memeriksa lagi keadaan Salimah.


"Badannya panas sejak semalam, dia bahkan muntah-muntah terus. Apa enggak sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit?" tanya Evita setelah berhasil mendudukkan diri di sisi ranjang Salimah.


Lagi, Triya merasa sedikit cemburu dengan perhatian sang mertua, meski dia tahu kondisi Salimah yang memang sedang sakit.


"Jangan lupa hubungi suaminya, ibu yakin suaminya pasti cemas," sambungnya.


Triya dan Jendral saling berpandangan. Mereka kembali memusatkan perhatian pada keadaan Salimah.


Triya memeriksa keadaan Salimah yang memang sedang demam. Dia lalu merasa cemas takut terjadi sesuatu pada anak yang di kandung Salimah.


"Ayo kita ke rumah sakit mas!" ajaknya.


Jendral pun bergegas menyiapkan mobil. Dia lalu berkata pada ibunya agar di rumah saja istirahat dan menjaga Rino anak Salimah.


Evita pun setuju, sebab tubuhnya juga merasa lelah karena kurang istirahat sejak semalam.


"Ada apa?" tanyanya bingung.


Dalam keadaan seperti ini Triya masih memikirkan perasaannya sendiri. Dia tak mau sang suami bersentuhan dengan madunya, maka dari itu dia tak mengizinkan Jendral menggendong tubuh Salimah.


"Bun ada apa?" sela Jendral yang masih menunggu jawaban istrinya.


"Emm ... Kalian bukan muhrim, jadi jangan sentuh Salimah," ucapnya kemudian.


Evita yang memperhatikan tingkah keduanya sejak tadi hanya menggeleng tak percaya.


Bisa-bisanya dalam keadaan genting seperti ini menantunya itu berpikir tentang mahram atau bukan.


"Udah Jen, angkat Salimah cepat. Dia butuh segera di tangani!" selanya yang kesal karena anak dan menantunya terlalu lambat bergerak.

__ADS_1


"Tapi Bu ... Jangan Mas Jendral juga yang angkat!" jawab Triya mengungkapkan keberatannya.


"Lalu siapa? Ibu? Atau kamu?"


"Jangan dengarkan istrimu Jen, lekas bawa Salimah!" titah Evita yang mulai geram melihat sikap cemburu menantunya yang tak beralasan.


Jendral akhirnya mengikuti perintah sang ibu, dia tidak bermaksud mengabaikan sang istri. Hanya saja benar kata ibunya kalau saat ini keadaan Salimah tengah genting.


Triya memberengut kesal. Dia benar-benar tak suka sang mertua mencampuri urusannya. Dia merasa sang mertua tak merasakan kerisauan hatinya yang tak suka jika suaminya berdekatan dengan wanita lain.


"Ayo Bun!" pekik Jendral yang ingin agar segera memeriksakan keadaan Salimah.


Triya berjalan dengan mengentak-entakkan kakinya kesal.


.


.


Dokter Setyo memeriksa keadaan Salimah dengan sangat teliti.


Nafasnya terasa berat, dia merasa ada yang tak beres dengan kondisi kehamilan Salimah.


"Kenapa Yo?" tanya Triya yang tak memanggil panggilan Dokter karena melihat kecemasan Setyo.


"Sepertinya kehamilan Salimah bermasalah, anaknya seperti tidak sempurna," ucapnya.


Triya dan Jendral saling melempar pandangan. Segala upaya sudah mereka lakukan agar kandungan Salimah sehat dan anak mereka tumbuh dengan sempurna.


Namun bagaimana kalau apa yang mereka inginkan tak sesuai harapan?


Mampukah mereka tetap bertahan dan menerima anak dalam kandungan Salimah?

__ADS_1



__ADS_2