
Mau tak mau Evita harus menyusul anak dan menantunya. Dia tidak bisa diam begitu saja karena bagaimana pun anak yang di kandung Triya juga cucunya.
"Ibu ke sana dulu ya, ibu khawatir," ucap Evita panik.
Mereka bertiga membalas dengan anggukan saja karena masih terkejut dengan apa yang terjadi.
Saat seorang perawat yang tadi membantu Triya lewat kembali di hadapan mereka. Alawiyah lantas mencegahnya karena tak tahan dengan rasa penasarannya.
"Mbak, pasien yang tadi pingsan ada di mana sekarang?" tanya Alawiyah.
"Bu Triya?"
Alawiyah mengangguk menjawab pertanyaan sang perawat.
"Beliau ada di ruang observasi Bu, karena akan melakukan operasi," jelas sang perawat yang membuat mereka terkejut bukan main.
Pantas saja Triya marah-marah tidak jelas dengan mereka, karena wanita itu tengah menghadapi masalah dengan kehamilannya, pikir Alawiyah.
"Lalu apa Dokter akan kembali praktik?" cecar Alawiyah yang tak mau menunggu dengan tanpa kepastian.
Pertanyaan Alawiyah menjadi pertanyaan sebagian para pengunjung yang juga bertanya tentang nasib mereka karena sang dokter meninggalkan polinya demi merawat Triya.
Jika memang keadaan darurat mereka berharap bisa kembali saja dan datang esok hari.
"Saya belum tau Bu, nanti saya tanyakan lagi sama Dokter Nela. Karena memang tadi Bu Dokter masih memeriksa Bu Triya," jelasnya.
"Oh ya udah Sus, mungkin kami undur diri aja ya, besok saja kontrolnya," jawab Alawiyah.
Sang perawat mengangguk, karena memang hak mereka ingin menunggu atau memilih memundurkan jadwal kontrol mereka.
Salimah lantas meminta mereka untuk menjenguk Triya karena bagaimana pun dia khawatir dengan kondisi mantan madunya.
"Kita nengok Triya dulu yuk Al. Aku enggak enak," pinta Salimah memelas.
"Ish, mau apa sih! Kamu mau di maki-maki lagi sama emaknya si Triya? Belum lagi pikiran busuk mereka nanti, kamu siap kalau kehilangan anakmu?!" balas Alawiyah sengit.
Fitria hanya mendengarkan saja ucapan keduanya. Masih berusaha mencerna maksud perkataan mereka.
"Tapi Al, gimana sama ibu? Aku khawatir ibu justru kena amukan ibunya Triya!" balasnya yang tak bisa lagi menahan kecemasan.
Tanpa menunggu jawaban sang sahabat, dirinya segera berlalu menuju ruang unit gawat darurat untuk melihat Evita.
Fitria pun merasa khawatir, dia juga bergegas menyusul Salimah untuk menemui ibu angkatnya.
Alawiyah mau tak mau mengikuti Salimah. Meski kesal dengan ke keras kepalaan sang sahabat.
Salimah hanya takut ibunda Jendral itu kenapa-napa. Saat melihat di depan ruang operasi, hati Salimah mencelos melihat ibunda Jendral itu tengah di tunjuk-tunjuk oleh Tati.
"Bu?" panggil Salimah. Evita lantas menoleh dan tersenyum pada Salimah serta yang lainnya.
__ADS_1
Raut wajah sedih jelas tergambar jelas di wajah Evita, sedangkan Tati, raut wajahnya merah padam.
Bahkan matanya mendelik saat melihat kedatangan Salimah dan Fitria.
Tati bergegas mendekati Salimah, hendak melampiaskan kemarahannya pada mantan madu putrinya.
Dia sejak tadi merutuki wanita itu yang kehamilannya justru tampak baik-baik saja.
Tati merasa tidak adil. Harusnya anak Triya yang sehat dan selamat. Mengapa harus anak dari wanita ketiga dalam rumah tangga putrinya yang justru hidup.
Alawiyah bergegas mencegah tangan Tati dan menghempaskannya dengan kasar. Membuat wanita paruh baya itu terhuyung ke belakang.
"Apa-apaan kamu!" pekik Tati tak terima.
"Ibu mau berbuat apa? Mau berbuat anarkis dengan menyakiti Salimah? Enggak lihat apa ini di rumah sakit? Atau ibu mau mendekam dalam penjara?" kecam Alawiyah.
"Cih! Mau apa kalian ke sini? Mau menertawakan Triya yang kehilangan bayinya?" cecar Tati tak mau kalah.
"Apa ada raut wajah kami yang mengejek? Otak Anda terlalu di penuhi pikiran buruk, hingga akhirnya selalu merasa orang lain mengejek Anda," jawab Alawiyah datar.
Salimah dan Fitria memilih mendampingi Evita yang tampak sekali tengah berduka, tanpa mau melerai perdebatan Alawiyah dan Tati.
Mereka duduk di kursi yang berjauhan dengan Tati yang masih saja marah-marah tak jelas.
Sempat beberapa kali Alawiyah terpancing emosinya, tapi selalu bisa di cegah oleh Salimah.
"Udah tua mulutnya lemes amat tuh orang. Enggak tau jalan ceritanya main nuduh pelakor aja!" gerutu Alawiyah.
"Mas Jendral ke mana Bu?" sela Fitria yang tak melihat keberadaan putra Evita tersebut.
"Jendral masuk ke dalam. Dia pasti sangat sedih kehilangan buah hatinya," jawab Evita menerawang. Pandangan matanya kosong ke depan.
Lalu dia beralih menatap Salimah di sebelah kanannya.
"Tolong kamu jaga cucu ibu baik-baik ya Sal. Hanya dia harapan ibu," pinta Evita.
.
.
Selang satu jam, Triya selesai di operasi. Janin yang belum terbentuk sempurna sudah di serahkan pada Jendral.
Jendral keluar dengan wajah sedihnya. Dia menatap kain kafan yang membungkus anaknya masih berbentuk gumpalan daging, meski sudah terbentuk kepalanya.
"Yang sabar ya Jen," ucap Evita sambil memeluk tubuh jangkung putranya.
Tangis Jendral pecah di pelukan ibunya. Keduanya menangis meluapkan kesedihan. Salimah dan Fitria pun sampai ikutan menitikkan air mata.
Bahkan Alawiyah yang terlihat tegar dan garang, pun merasa terenyuh dengan tangisan keduanya.
__ADS_1
"Biar kami yang urus janinnya. Kamu jaga saja Triya. Nanti ibu ke sini lagi sama bapak ya," ucap Evita.
Jendral lantas mengangguk dan menyerahkan kendi yang berisi janin anaknya di bawa sang ibu.
Setelah berhasil memakamkan jasad cucunya. Evita dan Darmono memenuhi janjinya untuk melihat keadaan menantu mereka.
Jendral mengabari jika Triya sudah di pindahkan ke ruang perawatan.
Kedua orang tua Jendral lantas segera menuju ruangan sang menantu di rawat.
"Bagaimana keadaan kamu Tri?" sapa Evita saat melihat tatapan kosong sang menantu.
Melihat mertuanya datang, wajah Triya berubah masam. "Kenapa?! Ibu berharap aku mati bersama anakku?" jawabnya ketus.
"Ya Allah Tri, kenapa kamu bicara seperti itu. Ibu tau kamu sedih, bukan hanya kamu tapi kami semua pun sedih karena kehilangan anak yang kamu kandung," jawab Evita tak berdaya.
Beruntung besannya tak ada di sana, bisa bertambah runyam kalau Tati ikut memojokkan mereka.
"Bukannya ini harapan ibu? Agar Mas Jendral bisa menikahi Fitria? Makanya ibu membawa Fitria ke rumahku agar aku stres kan!" maki Triya.
"Apa maksud kamu Tri?" tanya Evita bingung dengan jalan pikiran menantunya.
"Halah ibu enggak usah pura-pura, bukannya dulu ibu berharap Mas Jendral mau menikahi Fitria agar bisa memberikan ibu cucu? Aku tau semuanya Bu! Ibu tau, ibu manusia jahat yang tidak punya empati sama sekali dengan sesama wanita!"
Evita mengusap dada mendengar segala makian Triya. Dia tak menyangka jika sang menantu mengetahui niatannya dulu.
Namun dia sama sekali bermaksud seperti apa yang Triya tuduhkan dengan membawa Fitria ke sana.
Evita menyerah, dia memilih diam dari pada harus menjelaskan pada menantunya dalam keadaan seperti ini.
Setelah keadaan cukup hening, Evita lantas melanjutkan ucapannya.
"Maafkan ibu yang mungkin tidak sengaja pernah menyakitimu. Ibu berharap kamu di berkahi Allah agar bisa kembali mengandung," ucap Evita tulus.
Air mata Triya pecah mengingat ucapan Setyo yang menjelaskan keadaannya yang sudah tak akan bisa lagi kembali hamil.
Dia terpukul dan kecewa, marah pada keadaan yang tak pernah memberikan kebahagiaan untuknya.
Triya mengusap kasar air matanya lalu menatap sang mertua dengan tajam.
"Aku akan memaafkan ibu, asal ibu bisa meminta Salimah menyerahkan anaknya!"
.
.
.
Tbc
__ADS_1