
Tubuh Salimah sedikit bergetar, melihat mantan istrinya seperti ketakutan, Afnan segera menggenggam tangannya, menenangkan.
Evita berusaha bangkit untuk duduk, meski kepalanya terasa sakit.
Jendral jalan mendekat ke arah mereka dengan tatapan datar. Antara kosong dan bingung.
Tak ada reaksi apa pun, lelaki itu seperti manusia tak bernyawa. Tatapan matanya seperti linglung.
Tiba-tiba ...
Bruk!
Jendral menjatuhkan diri di depan sang ibu sambil memeluk Evita. Tangisnya pecah, dia membutuhkan sandaran dengan memeluk sang ibu.
Masalah yang terjadi pada keluarganya sungguh mengguncang batin lelaki itu.
"Apa salah kita Bu, kenapa nasib keluarga kita jadi begini?" lirihnya.
Dia lelah menyalahkan orang lain. Kehilangan sang istri merupakan pukulan berat baginya. Dan kini kabar mengenai musibah yang menimpa Fitria menjadi titik lemahnya.
Mereka akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Fitria di rumah sakit.
Alawiyah juga datang bersama mereka. Salimah merasa heran dengan keadaan Jendral yang cukup tenang, padahal sejak tadi dia merasa cemas.
Saat sampai, air mata Evita luruh tak terbendung saat melihat tatapan mata sang anak angkat yang kosong dengan keadaan yang cukup memprihatinkan baginya.
"Fitria?" panggil Evita sambil berjalan ke arahnya.
Fitria menoleh, tangisnya kembali pecah saat melihat wanita paruh baya yang selama ini telah merawatnya.
"Ibu!" pekiknya lalu memeluk erat tubuh Evita. Keduanya menangis, membuat siapa pun yang melihatnya merasakan iba.
"Ya Allah kenapa bisa sampai begini nak, maafkan ibu," ucap Evita sambil menangkup wajah sang anak angkat.
Ibu tak tahu bagaimana kelak akan menemui orang tuamu di akhirat nanti Fit. Mereka pasti kecewa sama ibu dan bapak.
"Kenapa harus Fitria Bu? Kenapa mereka kejam dengan Fitria?" rengeknya.
"Sabar nak, ibu dan bapak akan selalu ada untukmu," jawab Evita menenangkan.
"Enggak Bu, Fitri udah kotor. Fitri jijik. Pasti orang-orang akan menghina Fitri. Enggak akan ada yang mau dengan Fitria Bu!" pekik Fitria frustrasi.
Evita kembali menangis, sedangkan Alawiyah hanya memalingkan wajah untuk menahan air matanya.
Salimah sendiri beruntung ada Afnan yang menjadi sandarannya.
Setelah cukup tenang, mata Fitria membulat sempurna kala melihat ada tiga orang yang berdiri di depan pintu ruangannya.
Batinnya kembali merasa kalut saat melihat Afnan tengah menepuk-nepuk bahu Salimah menenangkan.
__ADS_1
Cemburu tentu saja. Hatinya semakin sakit karena dia yakin Afnan tak akan bisa di raihnya karena dirinya yang kotor.
Salimah harus segera kembali ke rumah karena keadaannya yang melemah. Beruntung tak ada pertengkaran dan makian seperti yang di khawatirkannya.
Jendral dan Evita memilih menjaga Firia sejenak karena Fitria tak mau di tinggalkan sendirian.
Kondisi Fitria sudah lebih tenang dari pada kemarin.
Setelah mengantarkan Salimah pulang. Alawiyah dan Afnan segera ke perusahaan Yudis karena pengacara yang mengusut kasus Fitria ingin bertemu dengan mereka.
Tentu Alawiyah dan Afnan datang dengan mobil mereka masing-masing.
Terlihat Yudis tengah berbincang serius.
"Pagi Pak Daniel," sapa Afnan sambil menjabat tangan pengacara mereka.
"Pagi pak Afnan Mbak Alawiyah," sapa Daniel balik.
"Saya datang ke sini untuk memberitahukan tentang hasil penyidikan terbaru," jelas Daniel.
Afnan, Yudis serta Alawiyah mendengarkan dengan serius, mereka sangat berharap agar kasus Fitria bisa segera terungkap.
"Memang agak janggal sebab mbak Fitria di temukan jauh dari kantor serta tempat tinggalnya. Polisi tengah menyelidiki beberapa karyawan bapak yang terlihat terakhir kali bersama dengannya."
Semua terkesiap mendengar penjelasan Daniel. Sepengetahuan Yudis dan Afnan, Fitria tak dekat dengan karyawan kantor mereka.
Bisa di bilang dia sedikit di asingkan sebab para karyawan merasa terpilihnya Fitria menjadi sekretaris Afnan karena ada sesuatu bukan murni karena kemampuannya.
Namun begitulah dunia kerja, jika ada yang lebih baik maka mereka akan berbondong-bondong menjatuhkannya.
"Lalu? Apa salah satu karyawan kami merupakan pelaku pelecehan itu pak?" sambar Afnan.
"Kami belum tau pak, nanti ada surat panggilan dari kepolisian untuk para karyawan bapak. Namun ... Apa tidak sebaiknya kita tanya mereka dulu? Siapa tau kita bisa mencecar mereka?" pinta Daniel
"Ya begitu lebih baik. Bapak tau siapa saja mereka?" Tanya Afnan.
"Ya, ini nama-nama mereka yang akan di mintai kesaksian," ucap Daniel sambil menyerahkan selembar kertas berisi nama-nama karyawan mereka.
Afnan dan Yudis membaca nama-nama mereka dan sedikit merasa heran, sebab setahu mereka Fitria bahkan tidak pernah berbincang apa lagi pergi bersama mereka.
Afnan lantas segera menuju meja kerjanya dan meminta pada sekretaris pengganti untuk memanggil nama-nama yang di sebutkan pihak kepolisian.
Tak lama mereka semua datang dengan raut wajah bingung.
"Siang pak Yudis, pak Afnan," sapa salah satu dari mereka.
"Ada apa ya Pak, bapak memanggil kami?" tanya salah satu dari mereka heran.
"Saya panggil kalian karena ada masalah serius. Mungkin sebentar lagi kalian juga akan di panggil kepolisian untuk menjadi saksi," ucap Afnan serius.
__ADS_1
Sepuluh orang yang di panggil Afnan terkesiap mendengar penjelasan atasan mereka.
"Me-memang ada pak? Kenapa kami harus di panggil kepolisian?" jawab yang lainnya gugup.
"Kami akan bertanya, dan tolong rahasiakan ini dari kantor," sergah Yudis dengan menatap bawahannya satu persatu.
"Silakan pak Daniel," tunjuk Afnan yang memilih agar pengacaranya yang menginterogasi mereka.
"Apa benar dua hari yang lalu kalian pergi bersama dengan Fitria ke restoran Mamamia?"
Mereka mengangguk bersamaan dan saling melirik bingung.
"Iya benar pak. Memang apa yang terjadi sama Fitria?" jawab salah satu dari mereka.
"Kalian di minta menjawab tanpa balik bertanya. Karena keterangan dari kalian inilah yang akan mungkin bisa membantu kalian nanti!" sergah Yudis kesal.
Mereka kembali menunduk, takut. Tubuh mereka gemetar karena melibatkan pihak yang berwajib.
Dalam pikiran mereka serempak bertanya, hal apa yang membuat mereka di panggil pihak kepolisian.
"Menurut pak Yudis dan pak Afnan kalian tidak akrab dengan Fitria. Mengapa tiba-tiba kalian mengajak Fitria keluar bersama?"
"Saya yang mengundang Fitria pergi bersama karena untuk merayakan ulang tahun saya pak. Memang kami tidak begitu akrab, tapi setelah itu kami berusaha mengenal Fitria. Apa ada yang salah dengan keputusan kami pak?"
Jawab karyawan Afnan mempunyai alibi yang kuat, tentu saja tidak salah. Mereka berkata hendak mengakrabkan diri.
"Jujur saja apa kalian tidak punya motif tersembunyi?" cecar Daniel menatap mereka dengan pandangan tajam.
Mereka saling melirik dan kompak menggeleng.
"Baiklah kalau kalian mengatakan hal seperti itu. Tapi saya berharap kalian mau jujur dan mengakui kesalahan kalian. Siapa tau saya bisa meringankan hukuman kalian nantinya," bujuk Daniel.
"Maafkan saya kalau ajakan saya kemarin membuat Fitria tak nyaman. Sungguh kami hanya berusaha mendekatkan diri pak. Kami enggak tau ada apa sebenarnya ini," jawab salah satu dari mereka.
"Yang pasti Fitria terkena musibah selepas pulang dari ajakan kalian. Semoga saja kalian tidak berbohong. Sebab kalau terbukti kalian ikut terlibat atas kejadian yang menimpa Fitria. Saya jamin kalian akan menerima hukuman yang setimpal," kecam Daniel.
Setelah mendengarkan berbagai pertanyaan dari Daniel. Para karyawan Yudis dan Afnan di minta kembali bekerja.
Setidaknya mereka tahu bahwa sebentar lagi mereka akan berurusan dengan pihak yang berwajib.
Ada satu orang yang pergi memisahkan diri dan segera menghubungi seseorang dengan perasaan cemas.
"Halo Bu, gawat Bu, kami tadi di panggil sama pak Afnan. Katanya kami akan mendapatkan panggilan dari kepolisian. Bagaimana ini Bu?" ucap wanita itu takut-takut.
"Apa?! Bagaimana bisa. Kamu tenang aja. Jelas kamu enggak akan di curigai, bilang aja seperti yang udah kita bicarakan tempo hari. Kamu tenang. Saya jamin tindakan kita enggak akan ketahuan!" balas seseorang dari seberang sana.
.
.
__ADS_1
.
Tbc