Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 89


__ADS_3

Di tengah jeritan frustrasi Fitria, suara bayi juga ikut terdengar dari ruang bersalin.


Afnan memegang kedua tangan Fitria yang terus memukulnya. Tatapannya tertuju pada ruang bersalin sambil mengucap syukur pada Tuhan atas kelahiran anak mantan istrinya.


Tiba-tiba saja Fitria ambruk, membuat perhatian mereka kembali beralih padanya.


Afnan yang memang tengah memegang tangan Fitria, refleks mendekap tubuh sekretarisnya.


"FITRIA!" pekik Evita terkejut dan bergegas mendekati anak angkatnya.


"Ya Allah gusti. Ayo kita bawa ke UGD nak Afnan!" pintanya mendesak.


"Kamu di sini aja Jendral, jangan lupa azankan anakmu!" titah Evita.


Afnan yang kembali merasa cemburu tak bisa berbuat banyak, sebab anak itu memanglah anak dari Jendral.


Dengan segera dia membopong tubuh Fitria agar bisa di tangani oleh pihak medis.


Sepeninggal keduanya. Kini hanya tinggal Jendral dan Alawiyah yang menunggu di depan kamar bersalin.


Menunggu Dokter atau perawat yang akan memberitahu mereka tentang keadaan Salimah dan juga bayinya.


Alawiyah memilih menunggu sahabatnya dari pada mengurus Fitria. Sungguh dia sudah merasa muak dengan segala drama yang di lakukan gadis itu.


Tak lama seorang Dokter keluar dan menyalami keduanya.


"Selamat pak, anaknya laki-laki. Sehat dan sempurna. Silakan masuk," ajaknya.


Tanpa menjawab lagi Jendral dan Alawiyah masuk ke dalam ruang bersalin.


Jika tujuan Jendral adalah putranya. Maka Alawiyah memilih mendekati Salimah.


"Selamat ya Sal. Kamu punya jagoan lagi. Mau di kasih nama apa?" tanya Alawiyah sambil merapikan anak rambut Salimah yang acak-acak kan.


Usai mengazani sang putra, Jendral menggendong putranya di bantu oleh perawat. Matanya meneduh, dia teringat sosok mendiang istrinya.


Andai Triya masih hidup istrinya pasti akan sangat bahagia, melihat putranya. Putra yang sangat mirip dengannya.


"Terima kasih sudah melahirkan putraku ke dunia ini Sal. Terima kasih banyak," ucap Jendral tulus.


"Iya Mas, sama-sama," jawab Salimah pelan.


"Baguslah kamu tau berterima kasih. Salimah udah berjuang untuk melahirkan anakmu. Sudahi segala niat burukmu. Jangan sampai ada pikiran untuk merebutnya!" kecam Alawiyah.


Jendral sedikit tersentak dengan ucapan Alawiyah, bagaimana bisa wanita cantik di hadapannya itu mampu menebak pikirannya dulu.


Ya dulu, bukan sekarang, sebab Jendral sudah pasrah dan tak ingin lagi melukai banyak orang termasuk Salimah.


"Kamu ngomong apa sih Al!" tegur Salimah yang berusaha menenangkan batinnya. Entah kenapa kata-kata Alawiyah seperti suatu peringatan nyata jika kemungkinan Jendral akan merebut anak mereka.

__ADS_1


"Aku enggak akan melakukan hal kaya gitu Al, kamu tenang aja. Aku yakin Salimah pasti lebih mampu merawat Azka," jawabnya sambil menyematkan nama pilihan pada putranya.


"Eh maaf Sal. Bolehkan aku memberi sedikit nama? Aku ingin dia memiliki nama Azka," ucap Jendral tak enak hati.


"Enggak papa mas, dia juga kan putramu. Baiklah Azka putra satria. Gimana menurut kalian?" tanya Salimah antusias.


"Nama yang bagus, semoga Azka menjadi orang yang taat dan berjiwa kesatria. Bisa melindungi bundanya nanti," jawab Alawiyah.


.


.


Sedangkan di ruang UGD kegemparan kembali terjadi akibat ulah Fitria.


Gadis itu siuman kala Afnan hendak menidurkannya di ranjang. Dia memeluk erat tubuh Afnan dan menjerit tak mau di lepaskan.


Afnan berusaha menenangkannya lewat usapan lembut di punggungnya.


"Tolong pak. Tolong saya. Masa depan saya udah hancur. Kenapa bapak tidak punya sedikit pun rasa belas kasihan pada saya? Saya mohon pak, saya akan jadi istri yang baik," pinta Fitria mengiba.


Afnan tak menjawab, dia tak mau jawabannya yang justru hanya untuk menenangkan Fitria, bisa jadi bumerang di kemudian hari, jadi dia memilih diam. Membiarkan Fitria meracau sendiri.


Melihat pasien yang sudah cukup tenang, Dokter segera menyuntikan obat penenang agar bisa melepaskan Afnan dari pelukan pasiennya.


Fitria terkulai lemah tak sadarkan diri. Dia hanya butuh di tenangkan tak perlu harus di rawat inap.


"Sebaiknya Nak Afnan pergi dari sini. Kalau Fitria melihat nak Afnan lagi, bisa-bisa dia berbuat nekat lagi," pinta Evita.


Afnan mengangguk dan meninggalkan ruang UGD. Dia mampir sebentar untuk menjenguk Salimah dan anaknya.


Raut wajah frustrasi tergambar jelas dari wajah Afnan membuat Salimah berpikir buruk.


Apa akhirnya mas Afnan setuju dengan permintaan Fitria? Pikirnya.


Di UGD Evita menatap iba pada sang anak angkat. Nasib buruk yang menimpanya, membuat gadis itu berubah makin jauh.


"Harusnya dulu ibu enggak mengizinkanmu ke kota Fit. Andaikan bisa di ulang, ibu lebih baik di musuhi kamu, tapi kamu tetap menjadi gadis ceria seperti dulu, dari pada seperti sekarang," monolog Evita sedih.


Dia yang di beri amanah orang tua Fitria untuk menjaga sang anak, justru tak bisa menjaganya. Sungguh, Evitalah yang merasa sedih sekaligus bersalah dengan keadaan Fitria saat ini.


.


.


Ternyata kasus Fitria tidak semudah itu di putuskan, meskipun Fitria mengatakan tidak ingin melanjutkan laporannya seminggu lalu.


Kasus Fitria termasuk dalam kasus berat yang tidak bisa di putuskan secara kekeluargaan. Jadi percuma saja Fitria menawarkan kata damai dengan permintaan agar Afnan menikahinya.


Sebab, tak mungkin pihak kepolisian membebaskan Sri yang menjadi otak dari kejadian itu dan para pelaksana tetap di penjara, tentu saja itu sangat tak adil.

__ADS_1


Mendengar keputusan pihak kepolisian, membuat niat Fitria yang tadinya sudah melambung tinggi di hempaskan begitu saja.


Fitria yang sempat sedikit membaik, kini kembali depresi karena sudah di pastikan tak dapat bersama dengan lelaki pujaan hatinya.


Sri sendiri berteriak histeris kala kasusnya sudah masuk ke dalam pengadilan, tinggal menunggu sidangnya saja.


Dia masih memohon kepada Afnan agar bersedia melakukan apa saja agar bisa membebaskannya.


"Mamah takut Afnan. Mamah jijik di sini, tolong bebaskan mamah Afnan!" pekik Sri mengiba.


"Seharusnya mamah pikir dulu sebelum bertindak. Apa mamah enggak mikir, sebaik apa pun rencana buruk, ada Tuhan yang maha melihat. Afnan harap mamah bisa berubah. Afnan janji tak akan meninggalkan mamah. Afnan akan terus menjenguk mamah," jawab Afnan pelan.


Tak tega tentu saja, tapi tak ada yang bisa Afnan lakukan, semua ini adalah ulah Sri sendiri. Dia tak mau dan tak bisa ikut campur sebab kasus yang menimpa Sri adalah kasus pidana berat.


Bahkan dirinya sudah di kucilkan oleh keluarga besar sang ayah saat mereka tahu jika ibunya terjerat kasus hukum


Semua keluarga mencaci ibunya, hanya segelintir orang yang memilih diam, salah satunya adalah keluarga Hari. Paman dan bibinya itu justru memberi semangat dan dukungan padanya. Keluarga yang selalu di perlakukan buruk oleh ibu dan dirinya. Justru keluarga itulah yang kini menyemangatinya.


Afnan menyesal, andai dulu tak termakan ucapan ibunya tentang keluarga sang paman, tentu saat ini dia tak akan malu bertemu dengan mereka.


.


.


Salimah sudah berada di rumah sejak lima hari lalu. Kini dia sedang menikmati peran barunya sebagai seorang ibu.


Afnan datang dengan sebuah cincin di saku jasnya. Berharap kali ini dia bisa bersama dengan mantan istrinya, yang pasti masih di cintainya.


"Mas Afnan ayo masuk!" ajak Salimah setelah memberikan bayinya pada Evita.


"Bagaimana kasus mamah Mas?"


"Berkasnya udah komplit, sudah masuk pengadilan. Tinggal tunggu sidang."


"Sal, ada yang mau mas bicarakan," ucap Afnan gugup.


Salimah mengernyit bingung, "ada apa Mas?"


"Setelah masa nifas kamu, maukah kamu kembali sama mas?" tanya Afnan lemah.


Kepercayaan dirinya sedikit berkurang dengan adanya kasus sang ibu. Dia takut Salimah akan menolak karena kasus itu.


Salimah terkesiap. Dia bimbang, di satu sisi dia teringat akan ucapan Evita yang berharap jika dirinya bisa kembali bersama Jendral.


Sedangkan Evita yang berada di ruang keluarga mendengar permintaan Afnan dan cukup terkejut, sebab tak mengira jika lelaki yang di cintai anak angkatnya itu ternyata berharap kembali pada ibu dari cucunya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2