
Salimah tak bisa segera menjawab lamaran Afnan. Bukannya ragu, tentu dia sangat senang karena ternyata Afnan serius dengan niatnya.
Namun Salimah yang sudah menganggap Evita seperti ibunya, harus meminta izin padanya.
"A-aku—"
"Maaf nak Afnan, baik Fitria maupun Salimah. Ibu tidak bisa membiarkan mereka bersama denganmu. Maaf sekali lagi, bukan ibu tidak menyukaimu, hanya saja sikap dan kelakuan ibumu yang membuat ibu takut," sergah Evita lantang.
"Mungkin beliau sekarang masih berada di balik jeruji besi. Tapi ibu sama sekali enggak tau seberapa berkuasa dan liciknya ibumu itu nak Afnan. Jika dulu saja dia bisa memisahkan kamu dan Salimah. Bisa jadi saat tahu kamu kembali pada Salimah. Ibumu akan menyakitinya lagi.
Terlebih lagi, kejadian Fitria cukup membuat ibu trauma. Ibu takut dia bisa saja menyakiti Azka. Sungguh ibu tak bisa membiarkan itu terjadi."
"Jadi Sal, maafkan ibu kalau kamu anggap ibu kejam dan terlalu ikut campur. Seandainya kamu memaksa, maka maafkan ibu kalau akhirnya ibu akan membuat keputusan yang sulit."
Salimah terkesiap, dia tak percaya Evita yang biasanya lembut dan pengertian, tampak menggebu-gebu melarang dirinya.
Dia memang menganggap Evita selayaknya ibu kandungnya. Dia juga paham akan ketakutan dan kecemasan mantan mertuanya itu.
Namun yang tak dia sangka adalah, Evita seperti memberikan pilihan padanya. Entah apa, tapi firasatnya mendadak buruk.
"Apa maksud ibu?" lirihnya.
"Ibu enggak mau di kira kejam dan tak mengerti perasaanmu yang masih mencintai nak Afnan. Tapi seorang ibu yang keluarganya pernah di sakiti oleh keluarga Afnan tentu ibu tak bisa membiarkan keluarga ibu di timpa kemalangan lagi, terlebih cucu ibu—" Evita menjeda kalimatnya dengan tarikan napas panjang.
"Jadi ... Seandainya kamu tetap memilih untuk bersama dengan Nak Afnan, maka tolong lepaskan Azka untuk kami rawat. Ibu enggak bisa membiarkan dia dalam bahaya jika dalam pengasuhanmu," jelas Evita.
Salimah membelalakkan matanya. Dia tak percaya jika mantan mertuanya akan memberikan pilihan sulit padanya, meski dia sudah memprediksinya tadi.
"Ma-maksud ibu? Ibu mau memisahkan aku dengan Azka?" tanya Salimah tak percaya.
"Maafkan ibu Sal, tapi sungguh ibu enggak bermaksud seperti itu. Ini pilihan sulit, ibu juga enggak mau merusak kebahagiaanmu. Jika bersama Afnan kamu dan Rino bahagia, maka lepaskanlah Azka agar kami juga bahagia."
"Enggak Bu, aku enggak mungkin melepaskan Azka, tolong jangan pisahkan kami. Dia anakku Bu," Salimah sudah menangis. Hatinya teramat sakit membayangkan berpisah dengan bayinya.
Pilihannya sangat sulit, memilih melepaskan Afnan yang sangat di cintainya, atau melepaskan Azka agar ada dalam pengasuhan mantan suami dan mertuanya.
"Jangan lakukan ini Bu Evita. Tidakkah ini terlalu kejam bagi Salimah? Mengapa ibu memberikan pilihan sulit baginya?" sela Afnan yang tak suka dengan syarat yang di tentukan Evita.
"Maaf keputusan ibu sudah bulat. Bukankah tadi ibu bilang, ibu tak peduli jika kalian menganggap ibu ini kejam. Cukup sekali ibu mengalami kesakitan yang teramat sangat mengenai kejadian Fitria. Tidak akan ada lagi kejadian di kemudian hari yang harus menimpa keluarga ibu lagi."
"Sungguh ibu sendiri enggak yakin kalau kamu bisa melindungi Salimah dan cucu ibu. Jadi silakan kalian pikirkan kembali niat kalian."
Evita berlalu kembali ke ruang keluarga meninggalkan Salimah yang terisak dengan pernyataannya.
Wanita paruh baya itu menghela napas panjang. Biarlah di katakan kejam, asal dia tak lagi merasakan sakit hati karena kelakuan Sri.
Afnan mendatangi Salimah dan duduk di sebelahnya. Dia tahu kekalutan yang sedang melanda mantan istrinya itu.
"Maafkan aku yang telah membuat kekacauan dalam hidupmu. Aku enggak maksa kamu untuk memilihku. Benar kata Bu Evita. Kelakuan mamah memang sangat mengerikan, hingga Bu Evita jelas merasa cemas."
"Aku juga enggak punya kekuatan untuk membuktikan kalau aku akan menjaga kamu dan anak-anak dari mamah. Pikirkanlah lagi. Sebisa mungkin aku akan terus berusaha menjaga kalian. Ini janjiku. Bukan hanya Bu Evita yang cemas, aku pun sama, karena mamah memang tak pandang bulu dalam menyakiti seseorang," jawab Afnan.
Salimah hanya bisa terisak, pikirannya carut marut. Dia tahu sebesar apa perjuang Afnan dalam melindunginya dan Rino.
Namun dia juga tak menyalahkan kekhawatiran yang Evita rasakan. Mungkin benar jika kekuasaan Sri masih besar, bisa saja dia memerintahkan orang lain untuk menyakitinya dan anak-anaknya lagi.
Semua itu sudah dia pikirkan sejak lama. Namun hasrat ingin kembali bersama Afnan juga tak bisa di abaikannya.
Namun kini semuanya terasa makin sulit karena banyak yang menentang keinginan mereka.
__ADS_1
.
.
Karena perasaan Salimah yang memburuk, jadi mempengaruhi produksi asinya.
Salimah tak bisa memberikan asinya kepada bayi Azka, hingga membuat anaknya terpaksa harus meminum susu formula.
Sudah berbagai vitamin dia konsumsi tapi sayang tak ada satu pun yang bisa membuat produksi asinya kembali lancar.
Salimah menangis frustrasi, dia merasa gagal menjadi ibu bagi Azka. Dia merasa seperti menelantarkan anaknya, padahal bukan seperti itu.
Karena emosi Salimah yang tak menentu membuat kondisi Azka juga menurun. Berat badan yang seharusnya bertambah, justru semakin menurun, hingga membuat Azka terpaksa harus di rawat di rumah sakit karena tak mau meminum susu formula sama sekali.
"Aku merasa enggak berguna banget Al. Aku merasa bersalah sama Azka. Aku takut," ucap Salimah di pelukan Alawiyah.
Alawiyah menarik napas panjang, dia tahu kecemasan sang sahabat. Ini tentang psikis, mau di paksa seperti apa pun jika Salimah tidak bisa berdamai dengan hatinya tentu sulit.
Dia tahu kekalutan yang sedang di alami sang sahabat. Di hadapkan pada dua pilihan sulit dalam hidupnya jelas membuat pikiran Salimah sangat terganggu.
Jendral yang tak sengaja mendengar percakapan keduanya memilih diam tak melanjutkan langkahnya yang hendak menengok sang putra.
Mantan suami kedua Salimah itu menarik napas panjang dan berlalu dari sana.
Ada sesuatu yang harus dia selesaikan dan dia berharap keputusannya kali ini akan berdampak baik pada semuanya.
Jendral kembali ke rumah kontrakan yang di tinggali sang ibu dan adik angkatnya. Mereka memutuskan tinggal terpisah dengan Salimah sebab takut jika Fitria mungkin bisa membahayakan Salimah dan juga anak-anaknya.
Sebab dia dan sang ibu takut jika emosi Fitria meledak bisa menyakiti Salimah dan anak-anaknya karena kambuhnya Fitria yang terakhir kali karena ada rasa sakit hati dengan Salimah.
Sakit hati karena lelaki yang di inginkannya tak memedulikannya dan dia menyalahkan Salimah.
.
.
Beruntung tak lama Evita segera membukanya. "Jendral?" tanya Evita heran, sebab tak biasanya di waktu siang seperti ini sang putra berkunjung ke rumahnya karena pasti masih bekerja.
"Kamu enggak kerja?"
"Bu, ada yang mau aku omongin," ucap Jendral langsung.
"Ada apa? Mau tanya kapan ibu sama Fitria pulang? Kemungkinan dua hari lagi ibu pulang, kasihan bapak di rumah sendirian," jawab Evita sendu.
Dia memang bimbang, antara menetap di kota tempat tinggal sang putra demi mengobati sang anak angkat. Atau kembali ke kampungnya, di mana ada sang suami yang keadaannya juga tidak begitu baik.
"Bapak kan ada Pakde Harso Bu, lagian kata Pakde, bapak sehat kok."
"Iya tetep aja ibu ke pikiran. Kamu tumben jam segini ke rumah, ada apa?" cecar Evita.
"Jendral mau ngomong sesuatu Bu, janji ibu jangan marah ya. Tolong bu, demi Azka dan aku," pintanya.
"Ada apa? Kenapa sama Azka? Kamu mau kembali sama Salimah?" tanya Evita penuh harap.
Jendral menggeleng, tentu saja dia dan Salimah tak pernah berpikir untuk kembali bersama. Meski Salimah tak membatasi pertemuannya dengan sang putra, tapi mereka tahu tak ada cinta di hati keduanya untuk mereka bisa bersama membina kembali mahligai rumah tangga.
"Lalu?"
"Bu Jendral mohon, biarkan Salimah kembali sama Afnan. Dia lelaki baik, mereka saling mencintai. Kasihan mereka bu," pintanya mengiba.
__ADS_1
"Ibu enggak pernah melarang mereka bersama Jen—"
"Iya tapi ibu berencana memisahkan Azka dengan Salimah. Bu, apa ibu tau, Azka saat ini sedang di rawat karena kekurangan gizi?” jelas Jendral.
"APA?! KENAPA KAMU ENGGAK BILANG DARI TADI JENDRAL! AYO KITA KE SANA SEKARANG!" pekik Evita panik.
"Bu, duduk dulu, tenang. Jendral jelasin dulu. Salimah enggak bisa menyusui Azka karena pikirannya yang tengah kalut. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Meski sudah di usahakan dengan bantuan susu formula, tapi tetap aja, Azka merasakan perasaan ibunya yang kacau. Mungkin karena hubungan batin keduanya."
"Jendral rasa ini semua karena ucapan ibu tempo hari. Makanya Jendral mohon, biarkan mereka bersama. Kita juga akan menjaga Azka dan juga Salimah. Jendral yakin Afnan mampu mengendalikan ibunya."
"Ibu takut Jen. Kamu enggak tau seberapa berbahayanya wanita itu," jawab Evita lirih.
"Tapi apa dengan keputusan ibu, ibu enggak memikirkan kejiwaan Salimah dan Azka? Biarkan mereka bahagia bu, mereka saling mencintai dan di paksa berpisah karena keadaan. Kalau bukan karena ada Azka di antara mereka. Jendral yakin Salimah tanpa pikir panjang pasti akan kembali pada Afnan."
Evita terdiam, dia tak menyangka keputusannya waktu itu bisa berakibat panjang hingga jadi seperti ini.
Wanita paruh baya itu mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.
"Kamu tau ibu enggak mungkin bisa selamanya di sini. Tapi ibu bingung harus menjaga siapa antara Fitria dan bapakmu. Fitria ..." ucap Evita tercekat.
"Kenapa sama Fitria Bu?"
"Dia hamil," tangis Evita pecah. Inilah salah satu alasan dia tak bisa membawa Fitria kembali ke kampungnya. Dia tak ingin mental Fitria kembali memburuk jika menjadi bahan gunjingan di kampungnya.
Jendral menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. Dia menggenggam tangan sang ibu dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Jendral akan menikahi Fitria Bu," ucap Jendral mantap.
.
.
Salimah bisa kembali ceria pasca Evita memilih mengikhlaskan mantan menantunya untuk kembali bersama dengan Afnan.
Dia memang merasa bersalah karena pernah menghalangi keduanya. Namun dia sadar bagaimana pun dia ingin melindungi mereka, jika memang takdir berkata lain maka mereka harus menerimanya.
Di tengah ke khawatirkannya, Evita berusaha ikhlas melihat kebahagiaan Salimah dan cucunya.
Karena perasaan Salimah yang sudah stabil membuat keadaan Azka juga ikut membaik.
"Selepas Azka pulang dari sini saya akan segera meminang Salimah Bu," ucap Afnan setelah dirinya di perbolehkan kembali bersama dengan Salimah.
"Baiklah, makin cepat makin baik agar tak mengundang fitnah. Ibu harap kamu bisa menjaga Salimah dan cucu-cucu ibu," ucap Evita sendu.
Afnan mengangguk yakin. Dirinya bahkan rela keluar dari perusahaan keluarga, dan pindah dari kota kelahirannya demi agar bisa tenang hidup dengan Salimah dan keluarga kecilnya.
Meski di sudah yakin jika sang ibu tak memiliki kuasa untuk memerintah seseorang, tapi dia tetap memilih merahasiakan hubungannya dengan Salimah saat ini.
Semua akses dan keuangan Sri sudah di bekukan, wanita paruh baya itu juga harus menjalani hukuman kurang lebih selama lima belas tahun penjara.
Afnan berharap, selama masa tahanan sang ibu, wanita yang melahirkannya itu akan berubah. Hingga kelak dia bisa menceritakan jika dirinya telah kembali dengan Salimah.
.
.
.
TAMAT
__ADS_1