
Triya sangat gugup mendengar jawaban Salimah. Dalam hati, dia berdoa semoga Salimah setuju dengan permintaannya.
"Maafin aku Ya. Aku—"
Belum selesai Salimah berbicara Triya sudah memotongnya dengan duduk mendekati sahabatnya dan menggenggam tangan Salimah.
"Kami akan berusaha keras mencari keberadaan suamimu Sal. Tolong pikirkan lagi," paksanya.
Jendral yang melihat sikap sang istri hanya bisa menghela napas berat. Mungkin saking frustrasinya membuat nurani Triya tertutup.
Sudah terlihat sekali kalau Salimah menolak usulan sang istri, tapi Triya tetap kekeh membujuk dengan segala janjinya.
"Iya kan Mas? Kalau kamu ngga percaya kita bisa mulai hari ini juga kan ya?" ucapnya tiba-tiba sambil berderai air mata.
Hatinya rapuh, harapan yang sangat besar pada Salimah harus kandas begitu saja. Dia tidak siap. Sejak semalam dia sudah terlaku yakin kalau Salimah pasti akan menyetujui permintaannya.
"Kita tidak bisa memaksa sayang. Salimah pasti punya alasannya sendiri," jawab Jendral menengahi.
Melihat tangisan sang sahabat yang sangat memilukan sedikit membuatnya tak tega. Namun dia bisa apa?
Sejak semalam dia berpikir kalau dia setuju dengan permintaan Salimah maka akan percuma jika dia bisa menemukan suaminya.
Apa yang harus dia jelaskan jika nanti dia sang suami tahu dia sedang mengandung tapi benih dari lelaki lain.
Oleh karena pikiran itu Salimah akhirnya membuat keputusan menolak permintaan Triya.
Lagi pula semalam dia sempat membuka uang pemberian dari Tuti dan keluarganya. Uang sebesar lima ratus ribu memang tidaklah banyak, tapi setidaknya dia bisa menyewa tempat tinggal di pinggiran pasar.
Dia tahu di sana ada kontrakan yang hanya terbuat dari papan kayu, sewanya juga sangat murah. Dia juga berpikir akan mencari pekerjaan di pasar.
__ADS_1
Meski mungkin hanya sekedar pelayan toko atau buruh kasar dia merasa lebih berarti dari pada menerima tawaran sahabatnya.
"Kenapa kamu enggak mau membantuku Sal? Kehidupan kamu akan terjamin. Anakmu enggak akan terlunta-lunta, kenapa Sal?" ucapnya tak terima.
"Maafkan aku Ya, rasanya aku benar-benar enggak siap menerima tawaranmu," jawab Salimah jujur.
Tiba-tiba Triya bangkit dan berlari menuju kamarnya. Rasa kecewanya sudah tak terbendung. Dia merasa harapannya musnah.
Setelah ini sudah di pastikan kalau sang mertua akan melancarkan aksinya dengan menghadirkan madu untuknya.
Suara benda berjatuhan membuat Jendral dan Salimah tersentak. Kamar yang tak tertutup sempurna membuat mereka bisa mendengar suara kegaduhan dan teriakan Triya di dalam sana.
Jendral segera bangkit menemui istrinya, sedangkan Salimah hanya bisa berdiri dengan perasaan cemas dan tak enak hati.
Tak lama Jendral keluar dengan wajah letihnya. Dia lantas menatap Salimah. "Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Maaf, bukan maksud mengusir, aku cuma takut kalau Triya masih melihatmu dia akan kembali memaksamu," jelas Jendral.
Salimah merasa sedih mendengar ucapan suami dari sahabatnya. Dia tahu mungkin Triya masih merasa kecewa dengan jawabannya.
Tujuannya adalah pasar, karena di sana ada rumah kontrakan murah yang sesuai dengan keadaannya saat ini.
Dalam perjalanan, Salimah dan Rino memutuskan berhenti di sebuah warung nasi pinggir jalan.
Waktu yang memang sudah siang membuat perut keduanya meminta haknya.
Rino yang pada dasarnya anak penurut dan tak rewel mengenai makanannya, terlihat menikmati makanan pinggir jalan itu.
Sayangnya, karena memang tak terbiasa makan di tempat seperti itu, Salimah tak memerhatikan bawaannya, hingga membuat tangan jahil seseorang berhasil mengambil dompet miliknya.
Salimah belum merasa hingga keduanya selesai makan dan harus membayar, barulah dia kelimpungan mencari uang miliknya.
__ADS_1
Sikapnya menjadi perhatian pemilik warung dan para pengunjung.
Seolah paham, sang pemilik warung lantas berkata dengan sedikit ketus.
"Kamu kecopetan ya? Makanya jaga dong barangnya! Udah tau di tempat umum naro barang sembarangan!" gerutu pemilik warung yang merasa kalau dia tak akan mendapatkan bayaran atas makanan yang telah di makan oleh Salimah dan Rino.
"Maafkan saya Bu, saya enggak tau, dari tadi tas saya selalu di samping saya Bu," jelasnya tak enak hati.
Sedangkan Rino, bocah itu sudah ketakutan saat melihat tatapan tak suka dari pemilik warung.
"Ya udah sana Mbak pergi aja, gantian sama yang lain!" usir pemilik warung.
Terpaksa Salimah menggandeng Rino keluar dari dalam warung. Dia bingung harus ke mana lagi.
Uang yang dia miliki dari Tuti telah raib di copet, sedangkan untuk kembali meminta bantuan pada Triya dia merasa sungkan.
Salimah mengajak Rino duduk di sebuah pohon pinggir jalan, dia bingung hendak ke mana sebab tak memiliki uang sedikit pun.
Beruntung ponselnya masih ada dan tak di rampas oleh pemilik warung, bisa lebih buruk lagi keadaannya jika dia juga harus kehilangan benda pintar itu.
"Apa aku jual aja hape ini ya?" monolognya.
Sedang memikirkan apa yang hendak dia lakukan, tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama Tuti di layar.
"Tuti? Ada apa ya?"
.
.
__ADS_1
.
Tbc