
Triya meneguk salivanya kasar. Menyewa pengacara tentu bukanlah perkara mudah. Ada banyak uang yang harus dia gelontorkan untuk membayar jasa mereka yang tidaklah murah.
"Memang untuk apa pengacara Sal?"
"Aku mendapat surat gugatan dari pengadilan. Semua pasti ulah mertuaku. Tolong bantu aku melawan dia. Aku tak mau di pisahkan begitu saja," jelas Salimah.
"Sal, maaf untuk kasusmu aku yakin biaya yang kita perlukan akan sangat besar dan aku tak akan mampu," jujur Triya.
Biarlah rencananya gagal dari pada tabungannya harus habis untuk biaya Salimah yang tidak jelas.
"Bu-bukannya kamu berjanji akan membantuku?" lirih Salimah.
"Iya untuk menemukan suamimu, bukan untuk menghamburkan uang melawan mertuamu Sal. Uang dari mana aku, maafkan aku Sal. Mungkin memang kita tidak di takdirkan saling membantu," putus Triya.
Meskipun berharap sangat atas bantuan Salimah. Triya bukanlah wanita bodoh yang akan menyia-nyiakan uang tabungannya begitu saja.
Salimah hanya bisa menangis. Jendral lalu menatap sang istri, dia sudah menebak jika inilah yang akan mereka alami jika menjanjikan sesuatu pada Salimah.
"Aku harus bagaimana Ya? Aku bingung," lirihnya.
Triya kembali berpikir, dia sepertinya masih bisa memanfaatkan Salimah. Karena dia yakin sahabatnya itu saat ini hidup dalam keadaan terdesak.
"Aku berjanji akan mencari suamimu. Hanya sebatas itu, tapi untuk masalah perceraianmu, aku enggak sanggup. Gimana? Apa kamu masih mau?" tawar Triya yang sudah tak terlalu bersemangat.
Salimah kembali dilema. Dia yang tadi berharap jika Triya dan suaminya akan mau membantunya, nyatanya tak mampu membayar pengacara.
Dia tau mungkin permintaannya sedikit keterlaluan, tapi dia tidak bisa berpikir, dia sangat takut di pisahkan dengan suaminya.
"Baiklah, aku setuju, tapi aku mohon, cari keberadaan suamiku ya," pintanya.
__ADS_1
Senyum Triya merekah, dia mengangguk mantap. Hanya Jendral yang masih merasa sangsi dengan rencana sang istri.
.
.
Keesokan harinya, mereka mendatangi rumah sakit untuk memeriksa keadaan Salimah. Beruntung dokter kandungannya adalah sahabat pasangan suami istri itu, jadi mereka tak perlu banyak berbohong tentang niatnya.
"Kalian serius mau pakai rahim pengganti?" tanya Setyo usai pemeriksaan.
"Aku putus asa Yo, bantulah aku. Jadi gimana? Rahimnya bagus kan buat inseminasi buatan?" tanya Triya semangat.
"Dia baru aja keguguran. Dia juga lagi banyak pikiran. Kalau di lakukan sekarang aku takutnya malah akan percuma. Bisa kalian bikin dia rileks dulu, jangan bebankan dia apa-apa agar dia siap mengandung lagi," jelas Dokter Setyo.
Senyum Triya memudar, Jendral yang sejak tadi hanya menyimak lantas menatap sang istri iba.
Triya mengangguk lemah, dia memang ingin segera agar di lakukan inseminasi buatan agar dia lekas bisa menimang anak suaminya.
Namun seperti yang Dokter katakan, kondisi fisik dan psikis Salimah sedang tidak baik-baik saja dan dia tak boleh egois.
Dalam hati Jendral merasa jika ini seperti sebuah pertanda agar mereka mengurungkan niatnya. Namun dirinya yakin tak akan semudah itu menggoyahkan keinginan sang istri.
Mereka kembali pulang. Dalam perjalanan pulang Triya sengaja mengajak Salimah dan Rino ke pusat perbelanjaan.
Di sana dia memanjakan Salimah dan Rino agar kondisi Salimah lekas siap mengandung bayi suaminya.
Semua dia lakukan demi mendapatkan seorang bayi.
.
__ADS_1
.
Nyatanya perjuangan Triya tak sia-sia.
Perlahan kondisi Salimah memang sudah bisa di katakan sanggup untuk kembali mengandung. Meski kesehatan Salimah sempat drop paska sidang perceraiannya, tapi Salimah merasa harus segera menunaikan kewajibannya.
Karena dia melihat bagaimana Triya dan Jendral yang mendampinginya menghadapi persidangan kemarin dan kegigihan sepasang suami istri itu dalam mencari keberadaan suaminya.
Meski belum berhasil menemukan keberadaan sang suami. Namun Salimah tak bisa begitu saja melalaikan kewajibannya.
Setelah putusan sidang keluar yang menyatakan dirinya resmi bercerai dengan sang suami. Salimah memantapkan diri mengandung benih dari Jendral.
Meski harus menunggu hingga tiga bulan lamanya, akhirnya keinginan Triya bisa tercapai.
Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Salimah. Dia tak ingin status anak yang di kandungnya adalah anak tak bernasab, jika hadirnya dia tidak dalam status pernikahan.
Dia merasa segan meminta hal tersebut pada Triya karena takut sahabatnya itu akan berpikiran buruk padanya.
"Ada apa lagi Sal? Kamu seperti cemas akan sesuatu?" tanya Triya heran.
Salimah menarik napas panjang sebelum mengutarakan maksudnya. Bagaimana pun ini demi kebaikan mereka, bukan hanya dirinya.
"Ya, aku mau ngomong tapi tolong kamu dengarkan dulu ya. Jangan salah paham, karena ini akan berdampak pada nasab anak ini ke depannya," ucap Salimah hati-hati.
Triya paham betul apa maksud ucapan Salimah. Dia hanya tidak menyangka wanita yang sudah dia tolong ini akan meminta sesuatu yang sangat menyakitkan padanya.
"Kamu ingin di nikahi suamiku?"
__ADS_1