
Alawiyah kembali ke rumah Salimah karena janji akan mengantar sahabatnya itu kontrol ke dokter kandungan.
Sahabat Salimah itu terkejut mendapati keberadaan Evita di kediaman sahabatnya.
"Ibu? Kapan dateng?" sapa Alawiyah saat Evita yang membuka kan pintu rumah Salimah.
"Eh nak Al. Baru tadi siang, ayo masuk!" ajaknya.
Keduanya lantas duduk di ruang tamu sambil menunggu Salimah dan juga Fitria.
Evita juga memperkenalkan sang anak angkat pada Alawiyah.
Fitria merasa minder karena melihat penampilan Salimah dan Alawiyah yang terlihat fashionable. Padahal ia juga bukan di pelosok kota, tapi seperti tidak bisa mengikuti gaya masa kini.
"Kenapa Fit?" tanya Evita yang hafal sekali dengan kegugupan gadis itu.
"Engga papa Bu, Fitri cuma merasa malu saja sama mbak Salimah dan mbak Al," jawabnya jujur.
"Malu kenapa?" sela Alawiyah setelah mereka semua memasuki mobilnya.
"Saya bingung mbak, kalau nanti bisa bekerja di sini. Malu dengan penampilan saya yang kampungan," jujurnya.
Alawiyah terkekeh mendengar penuturan gadis di belakangnya.
"Jadi kamu berencana merantau ke sini Fit?" tanya Salimah yang berada di sebelah Alawiyah.
Fitria merasa sudah kelepasan bicara, lalu dia melirik sang ibu angkat takut-takut.
Evita lantas menepuk punggung tangan putri angkatnya. Dia memang belum membicarakan tentang niatnya menitipkan Fitria pada Salimah.
Namun karena cerita yang mengalir dari percakapan ketiganya. Dia memutuskan memberitahu niatnya saat itu juga.
"Begini Sal, kedatangan ibu ke sini selain memang ada keperluan di sini juga mau meminta tolong sama kamu," ucap Evita.
Salimah dan Alawiyah saling melirik di kaca spion. Memikirkan hal yang sama, yaitu apa gerangan permintaan Evita pada Salimah.
"Iya bu, katakan aja, siapa tau Salimah bisa bantu," jawab Salimah tenang.
"Menurut Fitria, dia sudah di terima di salah satu perusahaan sini, jadi nanti ibu berpikir untuk memintanya tinggal sementara di rumah kamu. Lagi pula ibu berharap ada yang menemani kamu karena kandungan kamu juga kan udah besar," jelas Evita.
Alawiyah dan Salimah bernapas lega mendengar permintaan Evita. Jika hanya sekedar memberi tumpangan pada Fitria, tak akan jadi masalah bagi mereka, sebab Salimah juga kadang merasa kesepian di rumah sendirian.
"Tentu aja Bu, memangnya kamu di terima di perusahaan apa Fit?" tanya Salimah.
"Di perusahaan Palm Group mbak," jawab Fitria bangga.
__ADS_1
Tubuh Salimah mendadak kaku mendengar nama perusahaan yang di sebutkan oleh Fitria.
"Pa-Palm Group?" gagapnya tak percaya.
"Iya mbak," jawab Fitria sambil mengangguk bingung.
"Ada apa Sal? Apa perusahaan itu bermasalah? Punya catatan hitam atau sebagainya?" cecar Evita yang tampak khawatir dengan sikap gugup Salimah.
Salimah sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana, sebab bukan perusahaan itu yang mencetak rekor hitam.
Namun karena di sanalah tempat Afnan bekerja, karena perusahaan itu milik keluarga mereka.
"Enggak papa Bu, cuma enggak nyangka aja Fitria bisa di terima di perusahaan besar seperti itu. Maaf bukan maksud mengecilkan pendidikan kamu. Tapi biasanya memang perusahaan sekelas Palm Group, merekrut karyawan berpengalaman," jelas Salimah.
Meski paham maksud ucapan Salimah, tapi tetap saja dalam hati Fitria merasa tersinggung karena merasa Salimah mengecilkan pendidikannya.
Padahal kenyataannya, Salimah hanya mengelak dari pertanyaan mantan mertuanya.
Namun begitu, Fitria tetap memasang senyuman di wajahnya, menandakan dia sama sekali tak tersinggung.
"Mungkin rezeki aku bagus Mbak. Doakan semuanya lancar ya mbak," balas Fitria.
"Aamiin," jawab Evita dan Salimah.
Namun tidak dengan Alawiyah, perempuan yang berprofesi sebagai pengacara itu tahu kalau Fitria tersinggung dengan ucapan sahabatnya.
Orang yang pandai menutupi sikap buruknya justru lebih mengerikan di banding orang yang sudah bisa ke tebak sifatnya.
Di sisi lain, tiba-tiba Salimah memiliki sebuah ide dengan masuknya Fitria di perusahaan itu, dia berharap Fitria mau menjadi perantaranya dengan Afnan dan mendekatkan mereka kembali, harapannya.
Entah bagaimana nanti dia mengatakan maksudnya pada Fitria. Dia berharap semoga kelak Fitria mau mengerti dirinya dan membantunya.
Mungkin bukan untuk kembali, karena Salimah sudah merasa rendah diri mengharapkan Afnan kembali padanya.
Namun dia ingin sang putra mendapatkan keadilan hingga bisa merasakan lagi kasih sayang Afnan selaku ayah kandungnya. Hanya itu keinginan Salimah.
Meskipun tidak bisa bersama lagi, Salimah berharap dirinya dan Afnan bisa menjadi orang tua yang baik bagi Rino.
"Kamu masuk lewat tes Fit? Di terima di bagian apa memang?" tanya Alawiyah.
"Katanya bagian keuangan mbak, tapi enggak tau juga, kata yang interviu kalau pun nanti pindah bagian, apa saya siap menerima? Ya saya setuju aja. Karena memang saya ingin merasakan dunia kerja perkantoran," jawab Fitria semangat.
Mereka tersenyum mendengar penjelasan gadis itu. Fitria memang terlihat energik dan cekatan. Alawiyah juga menyimpulkan gadis itu pastilah memiliki otak yang cerdas.
Hanya saja, dia berharap semoga kecerdasan Fitria itu di barengi dengan akhlak yang baik juga.
__ADS_1
Sedangkan Salimah berpikir jika Fitria merupakan gadis beruntung yang bisa masuk ke perusahaan milik keluarga besar suaminya tanpa perlu memiliki pengalaman kerja apa pun.
.
.
Mereka sampai di sebuah rumah sakit tempat Salimah biasa kontrol.
Baru juga akan mendudukkan diri di depan poli kandungan, mereka di buat terkejut saat melihat Triya yang baru keluar dari ruang pemeriksaan bersama dengan Jendral dan juga Tati.
Ketiganya juga terkejut melihat keberadaan Salimah dengan Evita dan juga Fitria.
"Ibu?" sapa Jendral.
Sedangkan Triya yang matanya sembab segera menatap nyalang mereka berempat.
"Kamu! Ini semua gara-gara kamu kan? Dasar perempuan gatal," makinya pada Fitria.
"Ibu juga keterlaluan, aku enggak sangka ibu akan berlaku kejam sama aku! Memang salah aku apa Bu!" pekik Triya hilang kendali.
"Ini semua gara-gara besan!" sambar Tati yang juga menatap nyalang besannya.
Keempatnya hanya bisaa mengernyit bingung dengan ucapan dan makian Triya dan juga ibunya.
"Ini ada apa Jen?" tuntut Evita meminta penjelasan.
Jendral menunduk lesu, bingung bagaimana harus menjelaskan saat situasi mereka seperti ini.
Panik, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Bahkan tangisan histeris Triya membuat suasana di depan klinik menjadi riuh karena para pengunjung juga bingung dengan apa yang terjadi dengan Triya.
Tak lama Triya jatuh tak sadarkan diri, beruntung Jendral tak melepaskan pegangannya dari sang istri hingga dia bisa dengan sigap menangkap tubuh Triya.
"Astaga Triya! Anakku ya Tuhan! Ini semua memang gara-gara kalian. Kalian memang pembawa sial!" maki Tati.
Dalam situasi genting seperti itu Tati masih saja bisa meributkan sesuatu yang masih membuat Salimah dan yang lainnya bingung.
Perawat yang berada di sana bergegas membantu Triya dengan menggotong tubuhnya ke ranjang, untuk masuk ke ruang gawat darurat.
Dokter yang baru saja memeriksa Triya akhirnya bergegas mengikuti mereka untuk memeriksakan kondisi Triya terlebih dahulu.
Salimah dan yang lainnya menatap bingung sekaligus iba pada Triya meski mereka tak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan istri Jendral itu.
.
.
__ADS_1
.
Tbc