Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 24


__ADS_3

Setelah ancaman yang Evita berikan, Triya bukannya sadar justru semakin membenci mertuanya.


Sepanjang malam tak henti dia mengomel membuat kepala Jendral terasa hampir pecah.


Bahkan Jendral sudah berusaha menenangkan sang istri dan memintanya untuk segera istirahat karena dia sedang hamil.


Namun permintaan Jendral sama sekali tak di indahkan oleh Triya. Wanita hamil itu justru menganggap sang suami terlalu lemah pada ibunya.


Hingga menjelang pagilah Triya baru bisa memejamkan mata.


Beban masalah yang mengimpitnya membuat Jendral tak bisa tidur sama sekali.


"Bu?" panggilnya saat melihat Evita sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan.


"Kamu semalaman enggak tidur Jen?" tebak Evita.


Jendral mendudukkan diri di meja makan dan menghela napas. Evita dengan sigap menghidangkan teh untuk putranya.


"Jangan minum kopi, kamu akan semakin terjaga nanti," ucap Evita ikut bergabung bersama sang putra.


"Kamu enggak kerja hari ini?" sambungnya setelah menyeruput teh buatannya sendiri.


"Maka sih Bu," timpal Jendral setelah ikut menyeruput tehnya.


"Mungkin aku akan izin dulu," lirihnya.


Evita mengusap tangan sang putra yang berada di atas meja. Dia tahu sang putra sangat tertekan dengan dirinya dan sang istri, tapi apa mau di kata, Evita tak mungkin mundur dan mengalah.


"Maafkan ibu yang membuat posisimu sulit. Tapi kamu harus belajar tegas pada istrimu. Ingat anak Salimah itu anakmu, kamu dan istrimu yang dulu begitu menggebu-gebu menginginkannya," ucap Evita tenang.


"Aku tau Bu, hanya saja, awalnya aku berharap ibu mau mengikuti saranku, berpura-pura mengabulkan keinginan Triya," jawab Jendral.


"Maksudmu?" Evita sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran putranya. Mengapa harus berpura-pura dan membohongi Triya? Sungguh itu bukanlah sifatnya.


"Aku juga tak mungkin melepaskan tanggung jawabku pada anakku Bu, enggak mungkin. Kemarin aku hanya mengikuti keinginan Triya agar tak selalu merongrongku."


"Bagaimana pun aku memikirkan anak kami. Aku berencana menemui Salimah kembali dan menjelaskan semuanya, tapi semua berantakan karena ibu membuat keputusan sendiri," adunya.


Evita menarik napas, "apa kamu mau memulai sesuatu dengan kebohongan? Kamu tau serapat-rapatnya kamu menyembunyikan hal itu istrimu pasti akan tau? Entah kapan waktunya."


"Lalu semua akan jadi bumerang bagi kamu dan anakmu. Apa yang akan di lakukan Evita kelak, apa kamu udah memikirkan sampai sejauh itu? Ibu sangsi dengan pemikiranmu!" cibir Evita.


Jendral menunduk, lagi-lagi dia kalah argumen dengan ibunya


Dia memang sadar tak memikirkan sampa sejauh itu, yang ada dalam pikirannya saat itu hanya agar sang istri tak marah-marah dan tertekan, demi menjaga buah hatinya, makanya dia mengambil keputusan itu.


"Maafkan ucapan Triya semalam Bu." Jendral benar-benar merasa bersalah atas sikap tak sopan istrinya semalam.

__ADS_1


"Ibu paham istrimu, semoga aja itu hanya sementara," Evita menghela napas.


"Tolong jangan ganggu Salimah lagi, apa pun yang terjadi, tapi ibu harap kamu terus memantau keadaan anakmu, seperti niatmu tadi," pinta Evita.


Tanpa mereka sadari sedari tadi Triya mendengarkan obrolan keduanya. Dia mengepalkan tangan kesal karena ternyata dia tahu rencana suaminya.


Pantas saja sang suami terlihat tak bersemangat mendengar permintaannya, nyatanya sang suami akan mengelabuinya di kemudian hari.


Triya segera kembali menuju kamar agar keberadaannya tak ketahuan suami serta mertuanya.


.


.


Di kediaman Salimah, janda dari Afnan itu tengah bersiap dengan pakaian kerjanya.


Salimah merasa gugup karena sudah sangat lama dia tak bekerja. Karena sedang dalam keadaan hamil, Salimah di beri kelonggaran menggunakan pakaian hamil yang nyaman untuknya.


Suara klakson mobil membuatnya menoleh, dia bergegas keluar untuk menemui Alawiyah yang berjanji akan menjemputnya pagi ini.


"Hai Al," sapa Salimah.


Sahabat Salimah itu turun dan membawa buah tangan berupa sarapan untuk mereka.


"Tunggu Mbok Iyem dateng ya," ucap Salimah begitu Alawiyah mendekatinya.


Tak ada perabotan apa pun di sana jadi mereka duduk lesehan di atas karpet.


"Tau aja kamu aku laper Al!" serunya lantas mengambil peralatan makan untuk mereka menyantap sarapan.


Tak lama Mbok Iyem datang, membuat Alawiyah dan Salimah bergegas berangkat kerja.


"Rino belum bangun Mbok, nanti tinggal siapin ini aja buat Rino, sekalian buat Mbok Iyem," ucap Salimah sebelum meninggalkan putranya.


"Siap Bu, nanti si mbok ajak Mas Rino belanja ke warung sayur ya Bu, buat besok," ucap Iyem memberitahu.


Salimah mengangguk lalu meninggalkan asisten rumah tangganya. Iyem memang sudah di beri kepercayaan untuk mengurus keperluan dapur Salimah.


Wanita paruh baya itu juga tak pernah curang, terlebih lagi Salimah tidak pernah perhitungan dengannya.


.


.


Salimah merasa gugup lagi saat mereka telah sampai di parkiran kantor tempat Alawiyah bekerja.


"Al, wawancaranya bagaimana?"

__ADS_1


Alawiyah lantas menoleh dan tersenyum, dia tahu sang sahabat sedang gugup saat ini.


"Kamu pasti di terima, cuma formalitas aja kok, kaya nanya kelengkapan berkas-berkas yang kamu berikan kemarin," jelas Alawiyah.


.


.


Salimah mengatur deru napasnya yang tiba-tiba saja memburu, gugup tentu saja, tapi dia percaya kalau dia mampu dan memang harus mampu untuk bekerja demi menghidupi anak-anaknya.


Alawiyah lantas menyapa teman-teman di perusahaan itu. Salimah hanya tersenyum pada rekan Alawiyah yang memandang heran padanya.


"Jangan di pikirin, nanti aku kenalin setelah kamu menemui pihak HRD," jelas Alawiyah.


Mereka lantas berhenti di sebuah ruangan yang terdapat tulisan HRD di pintunya.


Setelah di perbolehkan masuk, Alawiyah segera mengajak Salimah turut serta.


Betapa terkejutnya Salimah kala melihat seseorang yang duduk di depan sana adalah keluarga dekat suaminya.


"Mas Hari?" sapa Salimah spontan.


"Salimah? Jadi benar Salimah yang melamar kerja adalah kamu?" jawab seseorang yang di panggil Salimah.


Salimah menunduk, dia bingung bagaimana harus berbicara dengan sepupu mantan suaminya itu.


"Duduklah," pinta Heri. Dia memperhatikan dengan saksama keadaan Salimah yang tengah mengandung.


Ada banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran lelaki tampan di hadapan Salimah itu. Terutama dengan mengapa Salimah memutuskan bekerja.


Heri dan keluarganya memang tidak terlalu dekat dengan keluarga Afnan, sebab keduanya sempat terlibat konflik yang membuat orang tua Heri yang notabenenya adalah kakak dari ayah Afnan menjauh dari keluarga itu.


Heri juga tidak pernah tahu atau mencari tahu tentang Afnan dan keluarganya. Yang dia tahu Salimah adalah istri sepupunya.


Masalah keluarga ayah dan orang tua Afnan terjadi jauh sebelum Salimah dan Afnan menikah.


Bagaimana Salimah mengenal Afnan, karena mereka pernah bertemu satu kali saat kakek dari Afnan dan Heri meninggal dunia, mau tak mau kedua sepupu itu bertemu.


"Bagaimana kabar Afnan?" meski tidak pernah bertemu Afnan dan Sri secara langsung lagi. Namun kabar Afnan kecelakaan jelas di dengar juga olehnya, meski dia dan orang tuanya tak pernah menjenguk Afnan selama ini.


"Bapak kenal Salimah?" heran Alawiyah.


"Dia istri sepupu saya Afnan, benarkan Salimah?"


"APA?!" pekik Alawiyah tak percaya.


__ADS_1


__ADS_2