
Pandangan Triya mendadak kosong, anak dalam kandungan Salimah tak sempurna menurut Dokter Setyo, jelas dia tak bisa menerimanya.
Dia ingin seorang anak yang sehat dan sempurna. Tiba-tiba dia bangkit berdiri, saat tengah berjalan langkahnya terasa berat.
Triya limbung lalu tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri.
Beruntung sejak tadi Jendral mengikuti langkah sang istri hingga bisa dengan sigap menangkap tubuh istrinya.
Jendral segera melarikan Triya ke unit gawat darurat untuk dapat pertolongan pertama.
"Tolong istri saya Sus, dia tiba-tiba pingsan," ucap Jendral panik.
Sang perawat mengangguk patuh dan segera mengecek keadaan Triya sebelum Dokter jaga memeriksanya.
Seorang Dokter lantas memeriksa keadaan Triya dengan saksama, Jendral yang masih mendampingi sang istri melihat sang Dokter tengah memeriksa istrinya dengan serius.
"Ada apa Dok?" tanyanya tak sabaran.
"Apa Dokter Setyo masih di poly?" tanya Dokter jaga pada perawat yang ada di sebelahnya.
Jendral semakin bingung, mengapa mereka justru berbicara mengenai Dokter Setyo.
"Tunggu sebentar ya Pak, biar Dokter Setyo yang menjelaskan. Prediksi saya istri bapak tengah mengandung," ucap Dokter jaga.
Mata Jendral membulat sempurna. Dia tak menyangka akan mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan di saat seperti ini.
Istrinya memang di vonis susah mengandung, bukan berarti tidak mungkin dan kabar ini tentu saja membuat dadanya membuncah karena bahagia.
"Benarkah Dok?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Kita tunggu aja pemeriksaan dari Dokter Setyo nanti ya Pak," jawab sang Dokter lagi.
Dokter Setyo datang ke ruang gawat darurat begitu di minta ke sana. Dia terkejut karena pasiennya adalah temannya sendiri.
__ADS_1
"Jendral? Kalian baik-baik aja kan?" yang ada di pikiran Dokter muda itu adalah kedua temannya ini bertengkar akibat penjelasannya.
"Periksalah Yo, kata Dokter jaga istriku kemungkinan hamil," jelasnya.
Dokter Setyo sempat menaikkan sebelah alisnya sesaat, tapi tetap secara profesional tetap memeriksa keadaan Triya.
Dia juga menggunakan alat ultrasonografi untuk memeriksa keadaan rahim Triya.
Benar saja di sana ada sebuah kantung kehamilan dan di perkirakan usia kandungan Triya baru menginjak usia lima minggu.
Dokter Setyo tersenyum, keduanya memang baru menjadi pasiennya saat pindah ke kota ini.
Namun mereka teman baik saat di bangku kuliah dulu dan kabar mengenai sulitnya Triya mengandung juga di benarkan oleh Setyo, meski dia tak putus memberi harapan pada keduanya.
Kini doa keduanya seperti di dengar Tuhan. Namun di saat seperti ini bagaimana nasib Salimah dan anak yang tengah di kandungnya?
"Selamat Jen, Triya positif hamil, usia kandungannya lima minggu."
"Dia di rawat juga ya, kondisinya sangat lemah, sepertinya dia sedang banyak pikiran," sambung Dokter Setyo dan di balas anggukan Jendral.
.
.
"Assalamualaikum Bu!" sapanya penuh dengan semangat.
"Wa ‘alaikumsalam, Jen, gimana kondisi Salimah? dia sama anaknya baik-baik aja kan?" tanya Evita langsung.
"Baik Bu. Dengar Bu ... Triya hamil, alhamdulillah doa kami di kabulkan Bu!" Ujarnya penuh semangat.
Di seberang sana Evita justru mengernyit bingung.
"Loh kamu ini gimana sih Jen, kan emang istri kamu tengah hamil empat bulan. Kamu ini linglung apa gimana?" heran Evita.
__ADS_1
Jendral menggaruk kepalanya, dia kelepasan. Begitulah jika berbohong pasti terkadang lupa dengan apa yang pernah dia katakan.
"Eh iya Bu, maksud aku. Kami ini sekalian periksa kandungan Triya, alhamdulillah hasilnya bagus Bu, sehat semua. Tapi ini Triya juga pingsan karena kelelahan dan harus di rawat juga," jelasnya.
"Oalah kamu itu mau ngomong begitu aja muter-muter enggak karu-karuan Jen ... Jen. Bagaimana keadaan istri kamu? Terus Salimah siapa yang jaga?" tanya Evita.
"Kok ibu lebih sibuk nanya Salimah? Ini Triya juga di rawat loh!" keluh Jendral yang menurutnya sang ibu lebih memperhatikan Salimah ketimbang istrinya.
"Triya kan sudah ada kamu makanya ibu tanya Salimah. Astaga kamu juga mau cemburu enggak jelas kaya Triya tadi?"
Jendral mengalah, dia hanya takut kalau saja sang istri tahu kalau ibunya justru menanyakan keadaan Salimah dia yakin sang istri akan kembali merasa sedih.
"Enggak ada siapa-siapa Bu. Nanti aku minta perawat jaga Salimah deh," jawab Jendral malas.
"Ya udah, nanti ibu ke sana bawa makanan ya. Apa enggak bisa Salimah sama Triya di rawat di ruangan yang sama?" pinta Evita.
Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu, setidaknya dia bisa membantu menjaga kedua perempuan hamil itu jika berada di ruangan yang sama.
Evita merasa tak tega dengan keadaan Salimah yang hamil tanpa ada keluarga yang mendampinginya, sedangkan Triya juga pasti butuh penjagaannya kala Jendral bekerja nanti.
"Aku ngga tau Triya mau apa enggak Bu, dia masih tidur sekarang," jawabnya.
Usai mengabari sang ibu mengenai kondisi istrinya, Jendral segera kembali ke ruang unit gawat darurat. Dia ingin melihat kondisi sang istri dan bertanya tentang usulan ibunya.
"Sayang," sapa Jendral begitu melihat istrinya telah bangun.
"Yah, bunda kenapa?" lirihnya dengan suara serak.
"Kamu hamil sayang, kamu kelelahan makanya pingsan," jelas Jendral.
Mata Triya berbinar hingga dia menangis tak percaya, benarkah dirinya hamil? Anugerah Tuhan yang benar-benar tak terduga menurutnya.
"Alhamdulillah, mungkin ini jawaban Tuhan untuk usaha kita," ucapnya penuh syukur.
__ADS_1
"Bun, apa kamu mau di rawat bareng sama Salimah?"