
Setelah pertemuan Afnan dan dirinya. Salimah merasa lega, sebab sang mantan suami tak ada niatan sedikit pun ingin merebut hak asuh putranya.
Namun ada yang berbeda dengan sikap adik angkatnya. Fitria terlihat sedikit menjauhinya, entah karena apa Salimah tak tahu.
"Fit, kamu kenapa sekarang suka melamun?" tegur Salimah sambil terkekeh saat melihat gadis itu seperti tak menikmati sarapannya.
"Kamu enggak buat bekal lagi buat pujaan hati?" ledek Salimah yang tidak tahu bagaimana suasana hati gadis itu.
Fitria menghela napas panjang dan menatap Salimah. Dia harus jujur pada mantan menantu orang tua angkatnya itu.
Dia tak mau jalinan persaudaraan antara mereka hancur hanya karena laki-laki. Namun Afnan adalah cinta pertamanya dan juga seseorang yang memiliki sifat sebagai lelaki impiannya.
"Mbak, aku mau ngomong sesuatu, tapi aku harap mbak mau mengerti dan enggak salah paham sama aku ya," ucap Fitria hati-hati.
Salimah mengernyit heran, tak biasanya adik angkatnya itu bicara serius dengannya.
"Iya ngomong aja Fit."
"Mbak tau, lelaki impianku selama ini? Lelaki yang aku idamkan selama ini? Lelaki yang selalu aku beri perhatian lebih itu ... Adalah pak Afnan," jelas Fitria lirih saat menyebut nama pujaan hatinya.
"A-apa?" jawab Salimah tercekat. Dia tak mengira lelaki yang selama ini selalu mereka perbincangkan adalah orang yang sama yang mereka cintai.
Bagaimana bisa? Salimah membeku, dia tak tahu harus berkata apa pada Fitria.
"Mbak kan udah bukan istri pak Afnan lagi, jadi kalau pun aku memiliki perasaan sama pak Afnan tidak apa bukan?"
Hati Salimah teriris, tentu saja banyak wanita yang akan jatuh hati pada mantan suaminya yang kalem dan penyabar itu.
Selain tampan, Afnan juga sosok pekerja keras dan juga lembut. Tutur katanya sopan dan lelaki itu memiliki pembawaan yang tenang, pantaslah jika Fitria jatuh hati padanya.
Salimah tersenyum kaku, dia memang sudah tak punya hak untuk cemburu pada siapa pun wanita yang tengah dekat dengan mantan suaminya.
Andaikan Fitria memanglah jodoh Afnan, maka dengan senang hati dia akan mendoakan kebahagiaan keduanya.
"Jadi, lelaki yang udah mencuri hatimu adalah mas Afnan ya," jawab Salimah berusaha santai.
Fitria mengernyit heran sebab Salimah terlihat tenang, hanya sedikit terkejut di awal lalu biasa lagi.
__ADS_1
Entah mencoba biasa atau menahan luka hatinya Fitria tak ambil pusing. Setidaknya dia sudah berusaha jujur tanpa mau berbohong pada kakak angkatnya itu.
"Iya mbak, Pak Afnan itu sosok tegas tapi bukan galak, gimana ya, pokoknya gitu deh, dia juga mau sabar ngebimbing aku. Perhatiannya juga seperti seorang kakak, dia benar-benar sosok idaman aku banget," jelas Fitria gamblang.
Dia tak tahu jika sejak tadi Salimah menahan nyeri di hatinya. Saat Fitria menceritakan tentang sosok mantan suaminya, mata gadis itu berbinar, jelas menandakan jika Fitria benar-benar jatuh hati pada mantan suaminya.
"Tapi Fit, maaf, bukannya mas Afnan udah punya tunangan?" tanya Salimah hati-hati.
Yang dia tahu mantan suaminya itu akan menikah dengan mantan tunangan atasannya. Entah Fitria tahu atau tidak, hanya saja dia tak ingin Fitria di pandang buruk karena menyukai calon suami orang.
Fitria mendengus mengingat sosok Norma yang sangat arogan. Bahkan tunangan Afnan itu selalu saja memiliki celah untuk selalu memojokkannya.
Sikap manja Norma membuatnya muak. Terlebih lagi wanita itu selalu datang saat istirahat makan siang dan akan selalu menempel pada Afnan.
"Yang aku lihat Pak Afnan enggak begitu menyukai tunangannya Mbak. Justru dia terlihat risi kalau ada dia. Tapi ... Kalau sedang dekat denganku, pak Afnan terlihat lebih lepas."
"Mungkin enggak ya Mbak kalau pak Afnan itu juga suka sama aku?" terkanya penuh harap.
Salimah tersenyum hambar, ternyata perasaan gadis itu sangat menggebu. Dirinya justru merasa takut karena Salimah merasa perasaan Fitria lebih terlihat seperti obsesi.
Namun dia bisa apa? Dia tentu tak punya hak untuk menasihati gadis itu, salah-salah justru nanti Fitria merasa jika dirinya menghalangi niatnya dekat dengan Afnan.
"Enggak papa, santai aja."
"Syukurlah, kalau perlu aku berharap mbak mau bantu aku agar dekat dengan pak Afnan. Aku janji akan jadi ibu sambung yang baik buat Rino," pinta Fitria penuh harap.
Salimah tersedak saat tengah meminum jusnya. Permintaan Fitria sungguh konyol. Anak angkat Evita seakan ingin menabur garam pada luka hati Salimah.
"Ya ampun sampai lupa aku udah kesiangan ini!" ujar Fitria sambil melirik jam tangannya, tak memedulikan keterkejutan Salimah.
"Mbak aku berangkat dulu ya Assalamualaikum." Fitria lalu pergi dengan sepeda motornya.
.
.
Salimah sendiri saat di jemput Alawiyah lebih sering termenung. Dalam hati selalu bertanya-tanya.
__ADS_1
Apa dirinya sanggup melihat kebahagiaan Afnan jika ternyata Fitria bisa memenangkan hati mantan suaminya itu kelak.
Bohong jika dia tak mengharapkan Afnan kembali padanya, tapi dia sadar tak mungkin Afnan mau dengannya yang sudah dengan sengaja mau mengandung benih laki-laki lain.
"Kenapa sih Sal? Aku lihat dari tadi kamu banyak ngelamun. Padahal kemarin-kemarin aku lihat kamu udah ceria loh saat si Afnan datang ke rumah. Ceritalah!" pinta Alawiyah.
"Atau jangan-jangan mantan mertuamu tau kalau si Afnan datang ke rumahmu, iya?" cecar Alawiyah yang sibuk dengan pikiran buruknya.
"Apa sih Al, bukan karena itu kok, tapi—"
Salimah menggigit bibirnya. Dia bingung bagaimana harus menceritakan masalahnya pada Alawiyah.
Antara takut Alawiyah tidak menyukai Fitria. Atau bahkan mungkin Alawiyah akan memintanya mengalah.
"Kenapa sih! Kok kamu kaya ragu-ragu gitu?" keluh Alawiyah yang melihat kebimbangan sahabatnya.
Salimah memilih menatap keluar jendela mobil sahabatnya. Mengingat bagaimana antusias dan terbukanya Fitria tentang perasaannya pada Afnan, dirinya merasa tak akan sanggup jika harus mendengar cerita tentang kedekatan keduanya lain kali.
"Fitria ternyata suka sama mas Afnan Al," ucap Salimah lirih.
"Hah! Yang bener aja sih, kamu tau dari siapa?" cecar Alawiyah penasaran, beruntung mereka sudah sampai di kantor jadi Alawiyah bisa segera mencecar sahabatnya.
Gadis yang memiliki kesabaran setipis tisu itu sangat tahu bagaimana perasaan Salimah pada mantan suaminya itu.
Dia tak tahu bagaimana harus menanggapi hubungan rumit antara sahabatnya dengan anak angkat dari mantan mertua Salimah itu.
"Fitria sendiri yang ngomong sama aku. Aku harus gimana Al?" jawab Salimah sendu.
"Astaga, enggak punya hati banget dia! Kamu enggak bilang kalau kamu masih mencintai si Afnan itu?"
Salimah hanya menggeleng, dia yakin Fitria tak akan peduli dengan perasaannya, sebab dari obrolan tadi saja dirinya bisa menyimpulkan jika Fitria tidak bertanya bagaimana perasaannya pada Afnan.
Gadis itu hanya menjelaskan perasaannya sendiri. Jadi untuk apa dia memberitahunya. Toh tak akan merubah keputusan Fitria dalam mendekati Afnan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc