Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 86


__ADS_3

Alawiyah mendatangi Salimah. Di waktu menjelang kelahirannya, sahabat Alawiyah sudah mengajukan cuti melahirkan, sebab perutnya yang sering mengalami kram.


"Al, gimana sama kasus Fitria?" tanya Salimah sore itu.


Alawiyah menarik napas panjang, dia menatap lama sahabatnya.


"Ada apa sih? Kok kamu liatin aku kaya gitu?" heran Salimah.


"Para pelaku ternyata orang suruhan—"


Salimah terkesiap dan menutup mulutnya tak percaya. "Iblis seperti apa yang tega melakukan hal keji kaya gitu!" Salimah kembali terisak. Wanita berhati lembut itu memang sangat perasa, oleh sebab itu Afnan memintanya untuk tak ikut serta dalam penyidikan kasus Fitria karena takut kondisinya yang akan menghadapi persalinan akan menurun.


"Ya kamu benar, entah iblis macam apa yang tega melakukan hal keji kaya gitu. Aku mau tanya Sal. Selama kalian tinggal bersama, pernah enggak Fitria cerita kalau dia terlibat pertengkaran dengan seseorang?" tanya Alawiyah serius.


"Setau aku dulu di awal kerja cuma sering ngeluh kalau enggak punya teman aja di tempat kerjanya. Tapi enggak pernah ngomong berantem sih sama seseorang, tapi enggak tau juga ya Al. Kan hubungan aku sama dia akhir-akhir ini memburuk," jelas Salimah.


Alawiyah menarik napas panjang, "kamu tau enggak atau kira-kira pernah dengar enggak seseorang bernama Pardi?"


"Pardi?" tanya Salimah bingung.


Alawiyah mengamati dengan serius wajah sahabatnya. Dia sedikit bernapas lega saat terlihat jelas jika sahabatnya itu tak mengenal salah satu dalang dari kasus Fitria.


"Sebenarnya ada apa Al?" cecar Salimah cemas.


"Enggak, cuma penasaran aja siapa Pardi itu. Kenapa itu orang bisa berlaku tak berperikemanusiaan seperti itu. Emmm ... Apa sebaiknya kita tanya ibu Sal? Siapa tau mereka kenal orang itu?"


Salimah hanya mengangguk dan akhirnya mereka menghubungi Evita. Salimahlah yang menghubunginya.


.


.


Di kediaman Yudis, pemimpin tertinggi di perusahaan Palm Grup itu tampak tengah memijit kepalanya.


Pekerjaan di kantor cukup membuat stres dan sekarang di tambah lagi dengan masalah Fitria membuat lelaki yang berharap bisa memiliki kehidupan bebas itu pusing bukan main.


"Kenapa Dis?" tanya Marla setelah mendudukkan dirinya di samping sang putra.


"kepalaku rasanya mau meledak mah, pusing mikirin kantor, di tambah masalah Fitria," keluh Yudis sambil meletakan kepalanya di punggung sofa.


"Gimana kasus karyawan kita itu? Beritanya enggak sampai keluarkan? Bisa turun reputasi perusahaan kita kalau berita itu mencuat," keluh Marla.

__ADS_1


"Ishh, mamah yang di pikirin kok itu. Emangnya dia mengalami kekerasan di kantor, ini kan di luar jam kerja," gerutu Yudis.


"Tetep aja Dis, bisa buat senjata lawan buat nyerang kita. Terus gimana udah ada titik terangnya?" cecar Marla penasaran.


"Komplotan itu ternyata suruhan seseorang—"


"Tunggu! Memang orang seperti apa sekretaris kamu itu sampai ada orang yang begitu dendamnya bahkan sampai menyewa preman buat mencelakainya?"


"Kita belum tau motifnya mah, dalangnya juga belum di tangkap."


"Siapa emangnya orang itu?"


"Namanya Pardi," jawab Yudis malas.


"HAH! APA? PARDI?" pekik Marla tak percaya.


Yudis yang terkejut segera menegakkan bahunya. Entah kenapa dia yakin orang tuanya seakan tahu sosok itu.


"Ada apa sih mah? Mamah kenal Pardi?" cecar Yudis heran.


"Entah sama atau enggak, mamah cuma kenal satu orang yang namanya Pardi. Dia itu mantan sopir bapaknya si Afnan. Mantan pacarnya si Sri," jelasnya malas.


"APA?" kini Yudislah yang di buat terkejut dengan penjelasan sang ibu.


Kepingan-kepingan puzel seakan mulai tersusun di benaknya. Entah orang yang sama atau tidak dia merasa harus berbicara dengan Afnan.


"Kalau pelakunya adalah Pardi yang sama, lantas apa motifnya? Masa iya tante Sri yang nyuruh? Aku aja baru denger namanya. Terus kalau iya alasannya apa tante Sri nyelakain si Fitria?" monolog Yudis.


"Apa ada hubungannya sama Norma?" Yudis menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan berbagai pikiran kusut yang memenuhi otaknya.


Yudis meremas kepalanya, ingin sekali dia pergi berlibur ke pantai untuk menenangkan diri setelah ini.


"Setelah ini gue mau cuti panjang pokoknya!" gerutunya.


"Gue harus hubungi Afnan. Semoga aja emaknya enggak ada sangkut pautnya ma Fitria, kalau iya. Nyerahlah gue!" Yudis beranjak dari duduknya.


Berniat membersihkan diri untuk segera menemui sepupunya.


.


.

__ADS_1


Di sebuah restoran, terlihat Sri dengan penampilan yang sangat berbeda tengah menunggu seseorang.


Meski dia berada di tempat privasi, tapi terlihat jelas kegugupannya. Seakan semua orang yang dilaluinya tadi sedang menatapnya, meski hanya perasaannya saja.


Tak lama seorang pelayan datang bersama seseorang yang sudah di tunggunya sejak tadi.


"Pardi!" panggil Sri dengan suara tertahan.


"Ada apa sayang?" balas lelaki berbadan sedikit gelap itu dengan senyum terkembang.


Sri mendengus mendengar jawaban lelaki di hadapannya ini.


Tanpa banyak kata Sri menyerahkan amplop yang berisi uang pada Pardi.


"Apa ini?" tanya Pardi sambil membuka isi amplopnya, lalu menatap heran pada pujaannya.


"Pergilah yang jauh. Kau memang bodoh, orang bayaranmu sudah tertangkap! Ingat, kalau sampai kau tertangkap jangan sekali pun kamu sebut namaku!" kecam Sri.


Pardi tak gentar dengan ancaman wanita di hadapannya. Dia lantas meletakkan amplop berisi uang di atas meja dan menatap sang pujaan dengan tatapan meremehkan.


"Apa maksudmu? Kamu mau mengingkari janjimu lagi? Dengar Sri, aku sudah menunggu selama hampir tiga puluh tahun untuk bersamamu. Jadi jangan coba-coba membohongiku, atau aku akan melakukan sesuatu untuk menyakitimu lagi!" ancam Pardi.


"Tolonglah Di, keadaan ini sedang sangat genting. Aku tak mungkin mengabulkan permintaanmu saat ini. Pergilah, bersembunyilah. Aku akan menepati janjiku tapi tidak sekarang," ucap Sri mengiba.


"Tidak! Aku sudah cukup sabar menunggumu. Rela melepasmu demi lelaki bajingan itu hanya karena janjimu yang akan menguasai hartanya lalu akan kembali bersamaku. Nyatanya? Kamu malah menikmati peranmu sebagai Nyonya Sadewo.


Kamu pikir aku akan percaya Sri? Hatiku sakit kamu campakkan begitu saja. Semua mimpi kita seakan kau abaikan setelah apa yang kamu inginkan telah kau dapatkan.


Dan sekarang kamu minta aku menunggu lagi? Tidak akan. Kamu pernah ingkar janji dan kamu ingat bukan konsekuensinya apa? Aku menyingkirkan suami kayamu itu.


Jadi kalau kamu macam-macam lagi, maka aku tak segan-segan melenyapkan putra kesayanganmu itu.


Aku sudah cukup bersabar selama ini. Kamu tau betapa aku sangat mencintaimu Sri. Bahkan aku rela mengotori tanganku demi bisa membahagiakanmu.


Jadi tepati janjimu sayang," ucap Pardi lantas mengecup pipi Sri dan berlalu pergi sambil tak lupa tetap membawa uang yang Sri berikan.


Sayangnya baru saja membuka pintu ruangan privasi itu, mereka sudah di sambut oleh pihak kepolisian yang segera meringkus keduanya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2