Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 67


__ADS_3

Di kediaman Salimah. Mantan madu itu masih bercengkerama dengan tegang.


Tak lama Rino pulang dengan Iyem setelah pergi ke TPQ.


"Mamah," panggil Rino sambil berlari mendekati Salimah.


Saat menatap Triya bocah lima tahun itu hendak mendekat dan menyalaminya, tapi sayangnya niat baik Rino justru di sambut buruk oleh Triya dengan menepis tangannya.


Merasa geram anaknya di perlakukan semena-mena, Salimah segera bangkit dan memeluk tubuh putranya.


"Sebaiknya kamu pergi Ya! Saya malas meladeni kamu!" usir Salimah.


"Enggak bisa, aku mau nuntut jelasan tentang rumah ini. Soalnya enggak mungkin kamu bisa beli rumah secepat ini!" tolak Triya.


"Kenapa pikiran kamu itu hanya membeli? Saya ini hanya mengontrak!" balas Salimah yang ingin melindungi harta benda miliknya.


Triya mendengus, dia tak yakin dengan jawaban Salimah.


"Benarkah? Coba aku mau tau siapa pemiliknya," tantang Triya.


Salimah menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan untuk menenangkan diri. Dia harus bisa menjawab pertanyaan Triya dengan tenang.


"Rumah ini milik Alawiyah, puas kamu?" jawab Salimah ketus.


Di luar dugaan, Triya justru tersenyum sinis. "Emang dasarnya kamu itu benalu ya. Udah lepas dari kami, kamu dapat inang baru, kasihan sekali sih teman kamu itu cuma di manfaatkan aja," ejeknya.


"Jaga bicara kamu Ya. Ini bukan urusan kamu. Sekarang udah aku jawab kan? Silakan kamu pergi!" usir Salimah lagi.


"Mbok, tolong bawa Rino masuk," pinta Salimah pada asisten rumah tangganya.


"Sayang masuk dulu ya, mandi udah mau Maghrib," ucapnya pada sang putra.


Rino mengangguk dan menggandeng tangan Iyem lalu meninggalkan mereka berdua.


"Saya mau istirahat," Salimah pun berbalik hendak meninggalkan Triya.


"Tunggu! Kembalikan uangku yang lima puluh juta," ucap Triya tiba-tiba membuat Salimah berbalik.


"Uang lima puluh juta? Uang apa?" tanya Salimah bingung.


Triya mendadak gugup. "Uang untuk inseminasi buatan," jelasnya.


Salimah menganga tak percaya dengan permintaan mantan madunya.


"Kamu enggak salah ngomong? Memang aku yang minta hamil? Kamu amnesia apa gila?" ejek Salimah.

__ADS_1


Triya mengepalkan tangan karena merasa di hina oleh mantan madunya.


"Kamu jangan serakah Salimah! Kalau enggak mau memulangkan uangku, maka berikan anak mas Jendral pada kami!" pinta Triya tak tahu malu.


"Kamu lupa dengan surat perjanjian kita? Sebaiknya kamu pergi."


Enggan berurusan dengan mantan madunya, Salimah kembali berbalik dan berniat meninggalkan Triya lagi.


Triya yang tak terima berusaha mendekati Salimah dan mencekal bahunya.


Salimah terkejut dan sedikit terhuyung akibat tarikan Triya pada bahunya. Untungnya dia bisa berpegangan pada pintu agar tubuhnya tidak jatuh.


Wanita hamil itu lantas menepis tangan Triya. Napasnya terengah-engah karena terkejut dengan kelakuan mantan madunya.


"Jaga sikapmu Triya. Di rumah ini di lengkapi kamera pengawas. Kalau sampai kamu melakukan kekerasan maka aku enggak main-main akan menuntutmu!" ancam Salimah.


Mendengar ucapan Salimah, Triya lantas berbalik dengan langkah tergesa-gesa. Bukan maksud hati ingin mencelakai Salimah.


Namun karena kesal sehingga dia refleks ingin menghentikan langkah Salimah tadi. Sayangnya malah Salimah berhasil membungkamnya hingga membuatnya takut.


Di dalam mobil, Triya masih menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar kesal karena tidak bisa melancarkan niatnya menekan Salimah.


Dia tak menyangka Salimah yang dulu begitu penakut dan bodoh menurutnya, bisa berubah dan bahkan berani mengancamnya.


"Sialan! Apa susahnya sih kasih aku uang? Lagian egois banget jadi orang, duitnya mau anaknya mau. Kalau Salimah ngelepas anaknya juga aku enggak masalah mas Jendral jual mobil. Sebab aku pasti bisa minta lagi mobil baru sama ibu, tapi sekarang? Sial ... Sial!" gerutu Triya di dalam mobil.


Dia melaju saja tanpa menghiraukan sekitarnya. Hingga dari arah samping, sebuah truk besar yang terkejut dengan kedatangan mobil Triya yang menyelonong tak sempat mengerem membuat tabrakan pun tak dapat terhindarkan.


Tabrakan keduanya menimbulkan kecelakaan yang cukup serius. Mobil Triya bahkan berguling dan berakhir hingga di bahu jalan dengan keadaan terbalik.


Triya masih dalam keadaan sadar meski kepalanya terluka cukup parah.


Di tengah kesadarannya yang makin menipis, dia mendengar suara jeritan orang-orang yang berusaha membuka pintu mobilnya.


Setelah itu dia pun tak sadarkan diri.


.


.


Afnan sendiri tengah memikirkan semua perkataan Fitria tentang mantan istrinya saat perjalanan pulang.


Ada rasa percaya dan tak percaya. Dia juga segan menanyakan tentang kehidupan rumah tangga mantan istrinya itu.


Saat tiba di kediamannya, dia tertegun dengan keberadaan sebuah mobil mewah di halaman rumahnya.

__ADS_1


"Astaga mereka ini enggak sadar waktu apa, Maghrib-Maghrib main ke rumah orang," gerutunya.


Saat memasuki ruang tamu, kini dia tahu siapa tamunya. Sang ibu berdiri dan menyambutnya dengan tingkah berlebihan menurut Afnan.


"Sayang kamu udah pulang, pasti lelah ya," ucap Sri sambil mendekati sang putra lalu kembali berbisik.


"Tolong jangan bertingkah Nan. Hormati mereka," ancam Sri.


Afnan hanya bisa mendengus kesal, tapi tetap mengikuti permintaan sang ibu.


Dia duduk berdampingan dengan Sri yang berhadapan dengan tiga orang tamunya. Mereka adalah Norma dan kedua orang tuanya.


"Nak Afnan baru pulang bekerja?" tanya Subhan basa-basi.


"Iya om," jawab Afnan datar.


"Maaf Mbak Sri dan Afnan, kalau kedatangan kami cukup mendadak. Kami hanya ingin meminta kejelasan tentang kelanjutan perjodohan anak-anak kita," jelas Subhan sambil tersenyum ramah.


Sri menatap sang putra, dia berharap putranya mau segera melanjutkan rencana pernikahan mereka dengan menjawab pertanyaan ayahnya Norma.


"Maaf om dan tante. Saya sama sekali belum ke pikiran untuk menikah lagi. Saya sendiri masih mencari keberadaan anak saya," jawab Afnan langsung.


"Tapi Nak Afnan, pertunangan kalian sudah cukup lama. Kami rasa tidak masalah kalau kita segerakan saja acara pernikahannya. Setelah kalian resmi menikah. Kalian bisa saling bahu-membahu mencari keberadaan putra nak Afnan. Betulkan Mbak Sri?" pinta Subhan.


Sri sebenarnya senang dengan niat kedatangan keluarga Norma. Dia bisa menekan sang putra agar bisa segera menikahi Norma.


Meski dia tak begitu menyukai calon menantunya, tapi bayangan sang putra akan menjadi seorang pemimpin perusahaan membuatnya mengesampingkan hal itu.


Biarlah nanti dia menyingkirkan Norma secara perlahan, batinnya berencana.


"Betul Nan, kamu sama Norma bisa mencari Rino sama-sama. Entah gimana nasib cucu mamah itu sama ibunya. Mamah yakin dia enggak terurus," ucap Sri pura-pura sedih.


"Maaf om, tante, saya tetap enggak bisa menikah dalam waktu dekat," tolak Afnan tegas tak memedulikan drama sang ibu.


Subhan menghela napas panjang, rasanya kepalanya sudah mau pecah memikirkan nasib perusahaannya.


Dia pun melirik sang putri penuh arti. Mereka memang sudah merencanakan sesuatu andai Afnan menolak seperti sekarang.


"Baiklah, kalau Nak Afnan belum siap. Kami tidak akan memaksa lagi," ucap Subhan mengalah.


"Mumpung sekarang malam minggu, apa nak Afnan mau mengajak Norma malam mingguan? Supaya kalian bisa saling mengenal lagi lebih dekat. Om merasa selama ini kalian kurang pendekatan," pinta Subhan memaksa.


Afnan melirik Norma yang tersenyum malu-malu. Sebenarnya dia muak dengan situasi seperti ini.


Dia juga sudah berjanji akan menemui Rino. Afnan bingung apa harus menolak permintaan Subhan dan mengecewakan putranya. Atau menerima tawaran itu dengan tujuan meminta Norma mundur kelak.

__ADS_1



__ADS_2